Lawan Stigma Dirty Nickel dengan Strategi Hijau dan Keberlanjutan
Industri nikel Indonesia menghadapi stigma "dirty nickel" karena dampak lingkungan.
(Bisnis.Com) 21/11/25 10:53 45456
Bisnis.com, JAKARTA – Hilirisasi nikel di Indonesia masih didera stigma dirty nickel alias operasional industri yang kotor. Tudingan ini lahir dari kekhawatiran atas dampak lingkungan dari penambangan nikel yang dinilai bisa merusak.
Untuk menangkal stigma tersebut Chairman Indonesia Mining Institute (IMI), Irwandy Arif, mendorong industri di Indonesia untuk memperbaiki tata kelola industri nikel menuju sustainable growth alias pertumbuhan berkelanjutan.
Hal ini, menurutnya, bisa dilakukan dengan menerapkan good mining practice. Irwandy menjelaskan praktik ini menyangkut tiga tahap atau yang dirinya sebut lingkaran yang saling tumpang tindih, berkaitan, dan tidak bisa dinegosiasi.
Untuk mewujudkan good mining, pelaku pertambangan harus memastikan seluruh tahapan pertambangan berjalan tanpa mengabaikan penyelidikan umum, studi kelayakan, hingga proses pemulihan di tahap pascatambang.
Seluruh tahapan pertambangan tersebut juga harus mempertimbangkan aspek lingkungan hidup, keselamatan pertambangan, konservasi sumber daya, hingga program Corporate Social Responsibility (CSR) oleh perusahaan tambang.
Lebih lanjut, seluruh kegiatan tambang wajib dilakukan berdasarkan kepatuhan hukum dan keterbukaan informasi terhadap publik sebagai bentuk tanggung jawab pengelolaan sumber daya.
Kegiatan utama pertambangan juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Pengelolaan dilakukan dengan proses manajemen tambang yang baik, meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengontrolan, dan evaluasi.
“Itu semua dilakukan baru bisa dikatakan menerapkan good mining. Sepertinya perusahaan menengah ke atas, sebagian besar sudah menerapkan. Tetapi harus dipertanyakan pertambangan menengah ke bawah atau yang kecil,” ujar Irwandy dalam Bisnis Indonesia Forum bertajuk Hilirisasi Nikel: Menyeimbangkan Pertumbuhan Ekonomi dan Keberlanjutan Industri, Kamis (20/11/2025).
Tidak cukup di situ, upaya menghapus stigma nikel kotor juga dilakukan dengan mengimplementasi prinsip Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) dalam operasional industri.
Penerapan ESG tidak hanya mendorong pembangunan berkelanjutan, namun secara bersamaan turut menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk menanamkan modalnya.
Saat ini, penguatan prinsip ESG sudah menjadi tren global yang berkaitan dengan upaya internasional mewujudkan transisi energi. Sehingga, dengan menerapkan ESG, industri lokal membuka peluang baru dan memperkuat daya saing di pasar global.
“ESG ini satu-satunya senjata kita supaya diterima di (pasar) Eropa atau Amerika,” tuturnya.
Selain itu, di tengah tren dunia usaha mewujudkan transisi energi, sektor nikel juga perlu mengikutinya dengan mendorong penggunaan teknologi bersih dan berkelanjutan.
Apalagi, tidak bisa dihindari bahwa aktivitas pertambangan merupakan salah satu sumber emisi karbon dan menjadi sorotan masalah krisis iklim yang melanda dunia.
Oleh karena itu, Irwandy mendesak perusahaan tambang di Tanah Air untuk mulai memanfaatkan alat tambang rendah emisi. Misalnya, penggunaan bahan bakar nabati (BBN) untuk alat berat.
“Penggunaan electric vehicle juga disebut bisa mengurangi biaya operasional tambang, bahkan bisa sampai 30%,” jelas Irwandy.
#dirty-nickel #hilirisasi-nikel #nikel-indonesia #dampak-lingkungan #sustainable-growth #good-mining-practice #pertambangan-berkelanjutan #aspek-lingkungan #keselamatan-pertambangan #corporate-social-r