Jejak Rugi Berkepanjangan Superbank sebelum IPO

Jejak Rugi Berkepanjangan Superbank sebelum IPO

Superbank mengalami kerugian berkelanjutan sebelum IPO, tetapi menunjukkan perbaikan kinerja pada tahun ini.

(Bisnis.Com) 26/11/25 08:30 50518

Bisnis.com, JAKARTA - PT Super Bank Indonesia atau Superbank saat ini sedang mempersiapkan initial public offering (IPO) atau pencatatan perdana saham. Bagaimana kondisi kinerja keuangan beberapa tahun terakhir?

Menilik ke belakang, nama Superbank diumumkan sebagai identitas baru dari PT Bank Fama International pada Februari 2023. Perubahan nama ini disebut bertujuan mempertegas komitmen perseroan untuk memperluas akses layanan finansial bagi lebih banyak masyarakat Indonesia.

Manajemen juga menyebut perubahan nama ini juga menegaskan secara resmi bahwa perseroan telah bertransformasi menjadi bank dengan layanan berbasis digital. Dari sisi kinerja, pada 2023 Superbank mencatatkan rugi bersih, tetapi sejumlah indikator menunjukkan adanya kenaikan aktivitas bisnis, khususnya dari sisi pendapatan bunga dan pertumbuhan aset.

Berdasarkan laporan keuangan, Superbank membukukan rugi bersih Rp385,10 miliar pada 2023, naik 148% dibandingkan kerugian Rp155,19 miliar pada 2022. Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga Superbank melonjak 90,8%, dari Rp169,34 miliar pada 2022 menjadi Rp323,22 miliar pada 2023.

Di saat pendapatan bunga meningkat, beban bunga juga naik, meski dalam porsi yang jauh lebih kecil. Beban bunga 2023 tercatat Rp22,12 miliar, naik 25,6% dari Rp17,60 miliar pada 2022. Adapun dari sisi neraca, total aset Superbank tumbuh 39,05%, dari Rp3,99 triliun pada 2022 menjadi Rp5,56 triliun pada 2023.

Jika dirinci, rugi pada kuartal I/2023 tercatat senilai Rp34,56 miliar. Kemudian pada semester I/2023 rugi Superbank naik menjadi Rp112,93 miliar dan pada kuartal III/2023 senilai Rp254,74 miliar.

Setahun kemudian, rugi bersih Superbank menurun, meski beban bunga meningkat tajam seiring ekspansi bisnis dan pertumbuhan dana pihak ketiga. Superbank membukukan rugi bersih Rp366,37 miliar pada 2024, turun 4,9% dibandingkan rugi bersih Rp385,10 miliar pada 2023. Penurunan kerugian ini menunjukkan perbaikan kinerja meski bank masih menjalani fase investasi dan penguatan fondasi bisnis.

Jejak Rugi Berkepanjangan Superbank sebelum IPO
Sumber: Prospektus IPO Superbank, 2025

Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga Superbank melonjak 130,2% menjadi Rp743,98 miliar pada 2024, dari sebelumnya Rp323,22 miliar pada 2023. Kenaikan lebih dari dua kali lipat ini mencerminkan pertumbuhan penyaluran kredit dan perluasan basis nasabah.

Namun, beban bunga juga meningkat signifikan. Beban bunga 2024 naik 507,9% menjadi Rp134,48 miliar, dibandingkan Rp22,12 miliar pada 2023, seiring meningkatnya cost of fund serta penghimpunan dana yang lebih agresif. Dari sisi fundamental, total aset juga mencatat ekspansi kuat. Total aset Superbank tumbuh 105% dari Rp5,56 triliun pada 2023 menjadi Rp11,40 triliun pada 2024.

Jika dirinci, pada kuartal I/2024 rugi Superbank senilai Rp105,06 miliar, membengkak tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, pada semester I/2024 rugi Superbank tercatat Rp188,46 miliar, naik 66,9% dibandingkan semester I/2023 Rp112,93 miliar. Lalu, pada kuartal III/2024 rugi perseroan tercatat Rp285,74 miliar, naik 12,17% YoY dari Rp254,74 miliar pada kuartal III/2024.

Perdana Balik Rugi jadi Laba

Sepanjang tahun ini hingga kuartal III/2025, Superbank mulai mencatatkan laba. Pada kuartal pertama 2025, Superbank mencatat laba bersih senilai Rp251 juta pada kuartal I/2025. Jumlah itu berbalik dari rugi bersih senilai Rp105,06 miliar pada kuartal I/2024 atau laba pertama kalinya sejak aplikasi perbankan Superbank diluncurkan secara luas pada Juni 2024.

“Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan strategi pertumbuhan yang berfokus pada ekspansi nasabah digital, efisiensi operasional, dan penyaluran kredit yang prudent,” tulis manajemen Superbank dalam laporan keuangan, dikutip Senin (5/5/2025).

Laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik 135,9% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp111,94 miliar menjadi Rp264,06 miliar. Namun, beban pencadangan alias impairment berada pada level Rp55,9 miliar atau naik 63,20% YoY per kuartal I/2025.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Superbank tumbuh 144,53% YoY dari Rp3,11 triliun menjadi Rp7,6 triliun per Maret 2025. Aset perseroan pun meningkat 125% hingga mencapai Rp14,04 triliun dari sebelumnya Rp6,24 triliun.

Kemudian, pada semester pertama 2025 bank digital ini mencatatkan laba bersih senilai Rp20,1 miliar. Dari sisi penyaluran kredit, tercatat senilai Rp8,4 triliun atau melonjak 123% secara tahunan. Peningkatan ini seiring dengan strategi akuisisi nasabah dan ekspansi produk pinjaman yang tepat sasaran.

Adapun, pertumbuhan kredit ini turut mendorong kenaikan total aset menjadi Rp15,0 triliun, atau tumbuh 122% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pada kuartal III/2025 Superbank juga membukukan laba bersih sebesar Rp60,12 miliar pada kuartal III/2025, membalikkan rugi pada kuartal III tahun sebelumnya senilai Rp285,73 miliar.

Jejak Rugi Berkepanjangan Superbank sebelum IPO
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan dalam acara The New Way of Banking with Superbank/Bisnis-Arlina Laras

Laba itu dibarengi dengan pendapatan bunga sebesar Rp1,49 triliun atau meningkat 69,63% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu Rp455,02 miliar. Pada saat yang sama, beban bunga perseroan tercatat meningkat 85,90% YoY menjadi Rp397,09 miliar.

Dengan realisasi tersebut, Superbank membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp1,10 triliun tumbuh 63,76% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp399,01 miliar. Beban operasional lainnya tercatat meningkat dibanding kuartal III/2024.

Superbank mencatat, beban operasional lainnya meningkat 32,35% YoY menjadi Rp 1,01 triliun dari sebelumnya Rp689,74 miliar pada kuartal III/2024. Beban lainnya meningkat 46,30% YoY menjadi Rp445,95 miliar pada kuartal III/2025.

IPO Incar Dana Rp3,06 Triliun

Adapun, Superbank tengah bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran perdana saham (IPO) dengan membidik dana hingga Rp3,06 triliun.

Menurut prospektus yang dipublikasikan Selasa (25/11/2025), Superbank berencana melepas maksimal 4,40 miliar saham baru atau setara dengan 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.

Setiap saham memiliki nilai nominal Rp100 dengan harga penawaran awal (bookbuilding) IPO di kisaran Rp525 hingga Rp695 per saham. Dengan demikian, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar sekitar Rp2,31 triliun hingga Rp3,06 triliun.

Superbank berencana menggunakan dana hasil IPO sebesar 70% untuk modal kerja daam rangka penyaluran kredit perseroan.

"Sisanya sekitar 30% dana hasil penawaran umum untuk belanja modal dalam rangka kegiatan usaha perseroan, termasuk namun tidak terbatas pengembangan produk pada pengembangan teknologi infoemasi yang mendukung pertumbuhan usaha," tulis dalam prospektus tersebut, Selasa (25/11/2025).

Apabila proses IPO berjalan lancar, perusahaan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2025 dengan kode saham SUPA.

Adapun, Superbank merupakan bank digital dengan nama awal PT Bank Fama International. Perusahaan ini berdiri di Bandung pada 1993. Pada awal 2023, namanya resmi menjadi Superbank dan memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta dengan kantor cabang di Jakarta dan Bandung.

Superbank memasuki era baru ketika menjadi bagian dari Emtek Group pada akhir 2021, diikuti oleh Grab dan Singtel pada awal 2022, dan KakaoBank pada 2023 sebagai bagian dari konsorsium.

Memasuki 2024, Superbank memperkuat posisinya di ekosistem industri bank digital dengan meluncurkan berbagai produk tabungan dan pinjaman inovatif seperti Saku by Superbank, Celengan by Superbank, produk deposito dengan bunga kompetitif dan jangka waktu yang fleksibel, mulai dari 7 hari.

#superbank #superbank-ipo #bank-digital-indonesia #rugi-superbank #pendapatan-bunga-superbank #aset-superbank #pertumbuhan-kredit-superbank #npl-superbank #laba-superbank #ipo-superbank-2025 #saham-sup

https://finansial.bisnis.com/read/20251126/90/1931692/jejak-rugi-berkepanjangan-superbank-sebelum-ipo