GXS Bank membeli 2,44 miliar saham SUPA senilai Rp800,03 miliar, meningkatkan kepemilikan menjadi 17,66%. SUPA mencatat laba bersih Rp78,19 miliar di Q1 2026. [463] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — GXS Bank Pte. Ltd. selaku pemegang saham di atas 5% PT Super Bank Indonesia Tbk. tercatat memborong saham SUPA dengan jumlah mencapai 2,44 miliar lembar pada Jumat (29/5/2026).
Berdasarkan keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) tertanggal 29 Mei 2026, GXS Bank memborong saham SUPA sebanyak 2.446.594.050 atau 2,44 miliar lembar saham dengan harga rata-rata Rp327,00 per saham. Dengan demikian, total nilai transaksi mencapai sekitar Rp800,03 miliar.
Sejalan dengan aksi tersebut, total kepemilikan saham yang dikuasai GXS Bank Pte. Ltd. meningkat dari semula 3,53 miliar lembar menjadi 5,98 miliar lembar saham SUPA. Porsi kepemilikan GXS Bank Pte. Ltd. turut mengalami penyesuaian dari sebelumnya 10,44% menjadi 17,66%.
Di tengah transaksi pembelian saham oleh salah satu pemegang saham pengendali, harga saham SUPA mengalami tren pelemahan pada tahun ini. Tercatat, harga saham SUPA turun 10,16% sepanjang tahun berjalan (year to date/YtD) menjadi Rp840 pada perdagangan Jumat (29/5/2026).
Di sisi lain, SUPA mencatatkan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp78.19 miliar pada kuartal I/2026. Raihan laba bersih pada periode ini tumbuh signifikan 31.051,39% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan posisi kuartal I/2025 yang sebesar Rp251,00 juta.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan mengatakan, kinerja positif pada periode ini menunjukkan bahwa strategi perusahaan dalam membangun bank dengan layanan digital berbasis ekosistem semakin memberikan hasil yang nyata.
“Kami juga melihat momentum pertumbuhan ini akan terus berlanjut, didukung oleh fundamental yang kuat serta permodalan yang solid dengan CAR di level 84,1%, sambil tetap menjaga pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan melalui penerapan prinsip kehati-hatian,” kata Tigor dalam keterangannya, dikutip pada Jumat (29/5/2026).
Kinerja positif pada kuartal I/2026 didorong oleh pertumbuhan yang kuat di berbagai lini bisnis. Hingga Maret 2026, total aset perseroan menanjak 70,54% YoY menjadi Rp23,9 triliun, seiring dengan penyaluran kredit yang mencapai Rp11,4 triliun atau tumbuh 50,34% YoY.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 103,89% YoY menjadi Rp14,4 triliun, mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap layanan Superbank.
Kinerja intermediasi juga turut mendorong profitabilitas, dengan Pendapatan Bunga Bersih (NII) meningkat 90,97% YoY menjadi Rp504 miliar. Return on Equity (ROE) turut menanjak menjadi 4,13%,.
Pada saat yang sama, efisiensi operasional terus membaik, tercermin dari penurunan Cost to Income Ratio (CIR) menjadi 57,19%, sementara kualitas aset tetap terjaga dengan NPL Gross di level 2,10%.
Adapun sejak perdana diluncurkan pada Juni 2024, Superbank telah melayani lebih dari 6 juta nasabah, dengan transaksi harian melampaui 1 juta transaksi per hari.
Ke depan, perseroan berkomitmen untuk terus mengakselerasi pertumbuhan melalui inovasi teknologi, pendalaman penetrasi di segmen ritel dan UMKM, serta optimalisasi sinergi dalam ekosistem digital untuk memperluas akses layanan keuangan secara inklusif.
Superbank (SUPA) tidak membagikan dividen tahun ini karena saldo laba belum positif, meski mencatat laba bersih Rp99,68 miliar pada 2025 setelah rugi di 2024. [332] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) mengumumkan bahwa tahun ini perseroan belum memiliki rencana untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham.
Direktur Keuangan Superbank Melisa Hendrawati menyampaikan, berdasarkan Undang-undang tentang Perseroan Terbatas, dividen hanya boleh dibagikan apabila perusahaan memiliki saldo laba positif.
“Maka dari itu, untuk tahun ini Bank belum memiliki rencana untuk membagikan dividen di tahun ini,” kata Melisa dalam konferensi pers Konferensi Pers RUPS Superbank 2026 di Jakarta Selatan, Senin (27/4/2026).
Meski demikian, Melisa memastikan bahwa timeline ke depan akan sangat align dengan apa yang tercantum di prospektus. Sebagai catatan, dalam prospektus Superbank yang dirilis pada November 2025, perseroan berkomitmen untuk membagikan dividen kepada seluruh pemegang saham sebanyak-banyaknya 85% dari laba bersih tahun berjalan.
Adapun sepanjang 2025, Superbank membukukan laba bersih sebesar Rp99,68 miliar setelah pada tahun sebelumnya mencatatkan rugi Rp366,36 miliar.
Raihan laba pada 2025 itu didorong oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat 159,29% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1,58 triliun dari 2024 yang sebesar Rp609,50 miliar.
Kinerja positif itu sejalan dengan pertumbuhan kredit perseroan sebesar 49,47% YoY menjadi Rp9,61 triliun hingga akhir 2025, utamanya pada segmen ritel dan UMKM. Pada tahun sebelumnya, kredit Superbank tercatat sebesar Rp6,42 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, total dana pihak ketiga (DPK) Superbank turut mengalami pertumbuhan sebesar 139,28% YoY dari Rp4,94 triliun pada 2024 menjadi Rp11,82 triliun hingga akhir 2025.
Total aset perseroan juga meningkat sebesar 86,77% YoY menjadi Rp21,28 triliun setelah pada tahun sebelumnya mencatatkan aset sebesar Rp11,39 triliun.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan kala itu menyampaikan tahun 2025 merupakan periode transformasional bagi Superbank. Perseroan mencatatkan laba untuk pertama kalinya pada kuartal I/2025 dan menutup tahun dengan pertumbuhan yang kuat di seluruh indikator utama.
“Capaian ini mencerminkan konsistensi strategi, tata kelola yang solid, serta sinergi yang kuat dengan ekosistem dalam memperluas akses layanan keuangan digital di Indonesia,” kata Tigor dalam keterangannya, dikutip pada Senin (16/3/2026).
Superbank (SUPA) mencatat laba bersih Rp99,68 miliar di 2025, berkat peningkatan pendapatan bunga dan kredit, serta efisiensi operasional. [330] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) membukukan laba bersih tahun berjalan sebesar Rp99,68 miliar sepanjang 2025 setelah pada tahun sebelumnya mencatatkan rugi Rp366,36 miliar.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan menyampaikan tahun 2025 merupakan periode transformasional bagi Superbank. Perseroan mencatatkan laba untuk pertama kalinya pada kuartal I/2025 dan menutup tahun dengan pertumbuhan yang kuat di seluruh indikator utama.
“Capaian ini mencerminkan konsistensi strategi, tata kelola yang solid, serta sinergi yang kuat dengan ekosistem dalam memperluas akses layanan keuangan digital di Indonesia,” kata Tigor dalam keterangannya, dikutip pada Senin (16/3/2026).
Raihan laba pada 2025 itu didorong oleh pendapatan bunga bersih yang meningkat 159,29% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp1,58 triliun dari 2024 yang sebesar Rp609,50 miliar.
Kinerja positif itu sejalan dengan pertumbuhan kredit perseroan sebesar 49,47% YoY menjadi Rp9,61 triliun hingga akhir 2025, utamanya pada segmen ritel dan UMKM. Pada tahun sebelumnya, kredit Superbank tercatat sebesar Rp6,42 triliun.
Dari sisi penghimpunan dana, total dana pihak ketiga (DPK) Superbank turut mengalami pertumbuhan sebesar 139,28% YoY dari Rp4,94 triliun pada 2024 menjadi Rp11,82 triliun hingga akhir 2025. Total aset perseroan juga meningkat sebesar 86,77% YoY menjadi Rp21,28 triliun setelah pada tahun sebelumnya mencatatkan aset sebesar Rp11,39 triliun.
Seiring dengan peningkatan skala bisnis, efisiensi operasional menunjukkan perbaikan yang signifikan. Hal ini tecermin dari Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik menjadi 70,52% dibandingkan 139,16% pada tahun sebelumnya.
Kualitas aset Superbank tetap terjaga dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) Gross di level 2,60% dan NPL Net sebesar 0,68%, didukung struktur likuiditas yang sehat dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 81,32%. Net Interest Margin (NIM) juga meningkat menjadi 10,64%, memperkuat fundamental profitabilitas Perseroan.
Adapun perseroan optimistis mampu melanjutkan pertumbuhan berkelanjutan dengan fokus pada inovasi teknologi, penguatan sinergi ekosistem, serta penerapan manajemen risiko yang prudent guna menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan.
Bisnis.com, JAKARTA - PT Super Bank Indonesia atau Superbank saat ini sedang mempersiapkan initial public offering (IPO) atau pencatatan perdana saham. Bagaimana kondisi kinerja keuangan beberapa tahun terakhir?
Menilik ke belakang, nama Superbank diumumkan sebagai identitas baru dari PT Bank Fama International pada Februari 2023. Perubahan nama ini disebut bertujuan mempertegas komitmen perseroan untuk memperluas akses layanan finansial bagi lebih banyak masyarakat Indonesia.
Manajemen juga menyebut perubahan nama ini juga menegaskan secara resmi bahwa perseroan telah bertransformasi menjadi bank dengan layanan berbasis digital. Dari sisi kinerja, pada 2023 Superbank mencatatkan rugi bersih, tetapi sejumlah indikator menunjukkan adanya kenaikan aktivitas bisnis, khususnya dari sisi pendapatan bunga dan pertumbuhan aset.
Berdasarkan laporan keuangan, Superbank membukukan rugi bersih Rp385,10 miliar pada 2023, naik 148% dibandingkan kerugian Rp155,19 miliar pada 2022. Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga Superbank melonjak 90,8%, dari Rp169,34 miliar pada 2022 menjadi Rp323,22 miliar pada 2023.
Di saat pendapatan bunga meningkat, beban bunga juga naik, meski dalam porsi yang jauh lebih kecil. Beban bunga 2023 tercatat Rp22,12 miliar, naik 25,6% dari Rp17,60 miliar pada 2022. Adapun dari sisi neraca, total aset Superbank tumbuh 39,05%, dari Rp3,99 triliun pada 2022 menjadi Rp5,56 triliun pada 2023.
Jika dirinci, rugi pada kuartal I/2023 tercatat senilai Rp34,56 miliar. Kemudian pada semester I/2023 rugi Superbank naik menjadi Rp112,93 miliar dan pada kuartal III/2023 senilai Rp254,74 miliar.
Setahun kemudian, rugi bersih Superbank menurun, meski beban bunga meningkat tajam seiring ekspansi bisnis dan pertumbuhan dana pihak ketiga. Superbank membukukan rugi bersih Rp366,37 miliar pada 2024, turun 4,9% dibandingkan rugi bersih Rp385,10 miliar pada 2023. Penurunan kerugian ini menunjukkan perbaikan kinerja meski bank masih menjalani fase investasi dan penguatan fondasi bisnis.
Sumber: Prospektus IPO Superbank, 2025
Dari sisi pendapatan, pendapatan bunga Superbank melonjak 130,2% menjadi Rp743,98 miliar pada 2024, dari sebelumnya Rp323,22 miliar pada 2023. Kenaikan lebih dari dua kali lipat ini mencerminkan pertumbuhan penyaluran kredit dan perluasan basis nasabah.
Namun, beban bunga juga meningkat signifikan. Beban bunga 2024 naik 507,9% menjadi Rp134,48 miliar, dibandingkan Rp22,12 miliar pada 2023, seiring meningkatnya cost of fund serta penghimpunan dana yang lebih agresif. Dari sisi fundamental, total aset juga mencatat ekspansi kuat. Total aset Superbank tumbuh 105% dari Rp5,56 triliun pada 2023 menjadi Rp11,40 triliun pada 2024.
Jika dirinci, pada kuartal I/2024 rugi Superbank senilai Rp105,06 miliar, membengkak tiga kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kemudian, pada semester I/2024 rugi Superbank tercatat Rp188,46 miliar, naik 66,9% dibandingkan semester I/2023 Rp112,93 miliar. Lalu, pada kuartal III/2024 rugi perseroan tercatat Rp285,74 miliar, naik 12,17% YoY dari Rp254,74 miliar pada kuartal III/2024.
Perdana Balik Rugi jadi Laba
Sepanjang tahun ini hingga kuartal III/2025, Superbank mulai mencatatkan laba. Pada kuartal pertama 2025, Superbank mencatat laba bersih senilai Rp251 juta pada kuartal I/2025. Jumlah itu berbalik dari rugi bersih senilai Rp105,06 miliar pada kuartal I/2024 atau laba pertama kalinya sejak aplikasi perbankan Superbank diluncurkan secara luas pada Juni 2024.
“Pencapaian ini mencerminkan keberhasilan strategi pertumbuhan yang berfokus pada ekspansi nasabah digital, efisiensi operasional, dan penyaluran kredit yang prudent,” tulis manajemen Superbank dalam laporan keuangan, dikutip Senin (5/5/2025).
Laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik 135,9% secara tahunan (year on year/YoY) dari Rp111,94 miliar menjadi Rp264,06 miliar. Namun, beban pencadangan alias impairment berada pada level Rp55,9 miliar atau naik 63,20% YoY per kuartal I/2025.
Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit Superbank tumbuh 144,53% YoY dari Rp3,11 triliun menjadi Rp7,6 triliun per Maret 2025. Aset perseroan pun meningkat 125% hingga mencapai Rp14,04 triliun dari sebelumnya Rp6,24 triliun.
Kemudian, pada semester pertama 2025 bank digital ini mencatatkan laba bersih senilai Rp20,1 miliar. Dari sisi penyaluran kredit, tercatat senilai Rp8,4 triliun atau melonjak 123% secara tahunan. Peningkatan ini seiring dengan strategi akuisisi nasabah dan ekspansi produk pinjaman yang tepat sasaran.
Adapun, pertumbuhan kredit ini turut mendorong kenaikan total aset menjadi Rp15,0 triliun, atau tumbuh 122% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pada kuartal III/2025 Superbank juga membukukan laba bersih sebesar Rp60,12 miliar pada kuartal III/2025, membalikkan rugi pada kuartal III tahun sebelumnya senilai Rp285,73 miliar.
Presiden Direktur Superbank Tigor M. Siahaan dalam acara The New Way of Banking with Superbank/Bisnis-Arlina Laras
Laba itu dibarengi dengan pendapatan bunga sebesar Rp1,49 triliun atau meningkat 69,63% secara tahunan dari periode yang sama tahun lalu Rp455,02 miliar. Pada saat yang sama, beban bunga perseroan tercatat meningkat 85,90% YoY menjadi Rp397,09 miliar.
Dengan realisasi tersebut, Superbank membukukan pendapatan bunga bersih sebesar Rp1,10 triliun tumbuh 63,76% YoY dari periode yang sama tahun lalu Rp399,01 miliar. Beban operasional lainnya tercatat meningkat dibanding kuartal III/2024.
Superbank mencatat, beban operasional lainnya meningkat 32,35% YoY menjadi Rp 1,01 triliun dari sebelumnya Rp689,74 miliar pada kuartal III/2024. Beban lainnya meningkat 46,30% YoY menjadi Rp445,95 miliar pada kuartal III/2025.
IPO Incar Dana Rp3,06 Triliun
Adapun, Superbank tengah bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran perdana saham (IPO) dengan membidik dana hingga Rp3,06 triliun.
Menurut prospektus yang dipublikasikan Selasa (25/11/2025), Superbank berencana melepas maksimal 4,40 miliar saham baru atau setara dengan 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO.
Setiap saham memiliki nilai nominal Rp100 dengan harga penawaran awal (bookbuilding) IPO di kisaran Rp525 hingga Rp695 per saham. Dengan demikian, perusahaan berpotensi mengantongi dana segar sekitar Rp2,31 triliun hingga Rp3,06 triliun.
Superbank berencana menggunakan dana hasil IPO sebesar 70% untuk modal kerja daam rangka penyaluran kredit perseroan.
"Sisanya sekitar 30% dana hasil penawaran umum untuk belanja modal dalam rangka kegiatan usaha perseroan, termasuk namun tidak terbatas pengembangan produk pada pengembangan teknologi infoemasi yang mendukung pertumbuhan usaha," tulis dalam prospektus tersebut, Selasa (25/11/2025).
Apabila proses IPO berjalan lancar, perusahaan dijadwalkan melantai di Bursa Efek Indonesia pada 17 Desember 2025 dengan kode saham SUPA.
Adapun, Superbank merupakan bank digital dengan nama awal PT Bank Fama International. Perusahaan ini berdiri di Bandung pada 1993. Pada awal 2023, namanya resmi menjadi Superbank dan memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta dengan kantor cabang di Jakarta dan Bandung.
Superbank memasuki era baru ketika menjadi bagian dari Emtek Group pada akhir 2021, diikuti oleh Grab dan Singtel pada awal 2022, dan KakaoBank pada 2023 sebagai bagian dari konsorsium.
Memasuki 2024, Superbank memperkuat posisinya di ekosistem industri bank digital dengan meluncurkan berbagai produk tabungan dan pinjaman inovatif seperti Saku by Superbank, Celengan by Superbank, produk deposito dengan bunga kompetitif dan jangka waktu yang fleksibel, mulai dari 7 hari.
Superbank (SUPA) mencetak laba sebelum pajak Rp122,4 miliar per November 2025, berbalik dari rugi pada November 2024. Lantas, bagaimana prospeknya ke depan? [61] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — PT Super Bank Indonesia Tbk. (SUPA) atauSuperbankmencatatkan kinerja positif hingga November 2025 dengan mencetak laba sebelum pajak senilai Rp122,4 miliar alias berbalik dari rugi sebesar Rp388,43 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Lantas, bagaimana prospek kinerja emiten bank digital yang terafiliasi dengan PT Elang Mahkota TeknologiTbk. (EMTK) alias Emtek danGrab HoldingsLtd. (GRAB) tersebut ke depan?