Pasokan Nikel Terancam Defisit saat Smelter HPAL Baru Mulai Beroperasi
Industri smelter nikel terancam kekurangan pasokan bijih nikel akibat pemangkasan produksi. Kondisi ini berpotensi memicu peningkatan impor nikel dari Filipina.
(Bisnis.Com) 01/01/70 07:00 132661
Bisnis.com,JAKARTA — Industri smelter nikel diperkirakan akan mengalami kekurangan pasokan bahan baku imbas pemangkasan produksi bijih nikel tahun ini. Kondisi ini pun berpotensi memicu kenaikan impor nikel.
Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) Arif Perdana Kusumah mengatakan, terdapat peningkatan kebutuhan bijih nikel pada tahun ini seiring bertambahnya kapasitas terpasang smelter, terutamadari proyek-proyek high pressure acid leaching (HPAL) yang hampir selesai masa konstruksinya dan akan mulai beroperasi. HPAL merupakan smelter untuk mengolah nikel kadar rendah yang pada umumnya menghasilkan bahan baku baterai kendaraan listrik.
Menurutnya, pada 2026, kemampuan produksi semua fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia dapat mencapai sekitar 2,7 juta ton nikel kelas I dan II. Dengan kapasitas produksi tersebut, terdapat kebutuhan tambahan sekitar 40 juta hingga 50 juta ton basah (wmt) bijih nikel pada 2026.