Startup RI Kesulitan Pendanaan, Porsi Investasi hanya 6,3% di Asia Tenggara

Startup RI Kesulitan Pendanaan, Porsi Investasi hanya 6,3% di Asia Tenggara

Investasi startup Indonesia pada 2025 hanya 6,3% dari total Asia Tenggara, didominasi Singapura. Indonesia mencatat 66 transaksi senilai US$340 juta.

(Bisnis.Com) 23/02/26 15:06 144447

Bisnis.com, JAKARTA— Pendanaan startup di Indonesia sepanjang 2025 sangat kecil. Dengan ribuan startup yang terdapat di ekosistem, investasi yang masuk ke Indonesia hanya 6,3% dari total keseluruhan investasi startup pada 2025 di regional Asia Tenggara.

Berdasarkan laporan Southeast Asia Startup Funding Report 2025 yang dirilis DealStreetAsia, total pendanaan yang mengalir ke startup Indonesia hanya US$340 juta atau sekitar Rp5,72 triliun dengan asumsi kurs Rp16.844 per dolar AS.

Nilai tersebut setara 6,3% dari total investasi startup di Asia Tenggara pada tahun yang sama. Secara regional, pendanaan startup di Asia Tenggara pada 2025 masih didominasi oleh Singapura.

Singapura mencatat 283 transaksi dengan total nilai pendanaan sekitar US$4,20 miliar atau setara Rp70,75 triliun.

Sementara itu, Indonesia berada di posisi berikutnya dengan 66 transaksi dan nilai pendanaan sekitar US$0,34 miliar atau sekitar Rp5,72 triliun. Kontribusi Indonesia terhadap total nilai pendanaan regional tercatat 6,3%, jauh di bawah Singapura.

Malaysia menempati posisi selanjutnya dengan 40 transaksi dan nilai pendanaan sekitar US$0,26 miliar atau setara Rp4,38 triliun, disusul Vietnam dengan 36 transaksi senilai sekitar US$0,36 miliar atau sekitar Rp6,06 triliun.

Adapun Filipina membukukan 23 transaksi dengan nilai sekitar US$0,12 miliar atau sekitar Rp2,02 triliun, Thailand mencatat 10 transaksi senilai US$0,08 miliar atau sekitar Rp1,35 triliun, dan Kamboja membukukan tiga transaksi dengan nilai sekitar US$0,02 miliar atau setara Rp336,9 miliar.

Dari sisi tahapan pendanaan, laporan tersebut mencatat bahwa pemulihan transaksi pada paruh kedua 2025 lebih banyak ditopang oleh pendanaan tahap lanjut (late-stage).

Volume transaksi tahap awal (early-stage) cenderung menurun secara bertahap sepanjang semester kedua. Kondisi ini turut memengaruhi distribusi pendanaan di negara-negara dengan ekosistem startup yang masih bergantung pada pendanaan tahap awal, termasuk Indonesia.

Selain itu, nilai pendanaan secara keseluruhan pada 2025 turut terdongkrak oleh transaksi berukuran besar (deal outliers), meskipun secara volume jumlah transaksi tidak menunjukkan lonjakan signifikan.

Fenomena ini terlihat dari ketimpangan antara nilai pendanaan dan jumlah transaksi, terutama di negara dengan konsentrasi perusahaan tahap lanjut dan perusahaan berbasis teknologi infrastruktur.

Laporan tersebut juga mencatat bahwa sepanjang 2025 Asia Tenggara melahirkan empat startup unicorn baru. Mayoritas perusahaan dengan valuasi di atas US$1 miliar tersebut berbasis di Singapura.

Empat unicorn baru yang tercatat pada 2025 antara lain Ultragrn.ai, Synut, Thunes, dan Ashita Group, yang masing-masing bergerak di sektor teknologi hijau, enterprise technology, layanan pembayaran lintas negara, serta manufaktur dan perdagangan terintegrasi. Sementara itu, tidak terdapat tambahan unicorn baru dari Indonesia sepanjang 2025.

#startup-indonesia #investasi-startup #pendanaan-startup #asia-tenggara #investasi-regional #transaksi-startup #startup-singapura #startup-malaysia #startup-vietnam #startup-filipina #startup-thailand #n-a

https://teknologi.bisnis.com/read/20260223/84/1954976/startup-ri-kesulitan-pendanaan-porsi-investasi-hanya-63-di-asia-tenggara