Kanal Energi & Sentimen Pasar jadi Risiko Utama Perbankan Efek Perang Israel-AS vs Iran

Kanal Energi & Sentimen Pasar jadi Risiko Utama Perbankan Efek Perang Israel-AS vs Iran

Konflik Israel-AS vs Iran berisiko mempengaruhi perbankan Indonesia melalui kenaikan harga energi dan sentimen pasar, memicu arus modal dan tekanan inflasi.

(Bisnis.Com) 02/03/26 16:16 152138

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom menilai eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memberikan dampak tidak langsung terhadap industri perbankanIndonesia, terutama melalui kanal harga energi dan sentimen pasar global yang memicu pergeseran arus modal.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede mengatakan meski konflik akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran tidak secara langsung mengganggu aktivitas ekonomi domestik, transmisi melalui harga energi dan pasar keuangan global tetap perlu diwaspadai.

“Dampak terbesar ke industri perbankan Indonesia umumnya datang dari kanal harga energi dan kanal sentimen pasar yang memicu pergeseran arus modal,” ujar Josua kepada Bisnis, Senin (2/3/2026).

Menurutnya, ketika eskalasi meningkat, pasar biasanya langsung memusatkan perhatian pada risiko gangguan pasokan dan logistik energi, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia. Pada saat yang sama, investor global cenderung mengalihkan dana ke aset aman sehingga dolar AS menguat dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan.

Harga minyak Brent bahkan sempat melonjak sekitar 13% hingga menyentuh US$82 per barel sebelum bergerak di kisaran US$77 per barel, mencerminkan besarnya premi risiko yang dipasang pasar. Jika ketegangan membuat lalu lintas kapal di sekitar Teluk Persia melambat atau memicu penghindaran rute pelayaran, dampaknya dapat cepat merembet ke kenaikan biaya angkut dan premi asuransi, sehingga tekanan inflasi dan nilai tukar bertahan lebih lama.

Josua menjelaskan, risiko rambatan menjadi lebih nyata ketika lonjakan harga minyak dan biaya logistik mengubah ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga, sekaligus menguji ketahanan neraca eksternal melalui kenaikan tagihan impor energi.

“Risiko rambatan ke perbankan Indonesia menjadi lebih nyata saat harga minyak melonjak dan biaya logistik ikut naik, karena ini mengubah ekspektasi inflasi dan arah kebijakan suku bunga,” jelasnya.

Dalam konteks nilai tukar, tekanan terhadap rupiah dinilai dapat berdampak pada likuiditas dan biaya dana perbankan melalui peningkatan kebutuhan valuta asing korporasi untuk pembayaran impor, cicilan, maupun lindung nilai. Permintaan likuiditas valas cenderung naik bersamaan dengan meningkatnya kehati-hatian bank dalam mengelola posisi likuiditas.

Di sisi lain, bank sentral cenderung menjaga stabilitas rupiah dan ekspektasi inflasi sehingga ruang pelonggaran suku bunga menjadi lebih terbatas. Akibatnya, suku bunga pasar uang dan suku bunga simpanan lebih sulit turun, dan biaya dana perbankan berisiko tetap tinggi atau bahkan meningkat apabila lonjakan minyak memicu ekspektasi inflasi yang lebih kuat.

Dari sisi profitabilitas, tekanan berpotensi muncul pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM). Suku bunga dana pihak ketiga biasanya menyesuaikan lebih cepat karena persaingan dana dan kebutuhan menjaga stabilitas likuiditas, sementara penyesuaian bunga kredit berlangsung lebih bertahap sehingga margin berpotensi tertekan pada fase awal gejolak.

Risiko kredit juga meningkat pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan gangguan logistik, seperti transportasi dan penerbangan, industri yang boros energi, serta perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku.

Di sisi lain, sektor ekspor dapat memperoleh manfaat dari pelemahan rupiah, tetap ada risiko jika biaya pengiriman, premi asuransi, dan perlambatan permintaan global menekan arus kas debitur.

Meski demikian, Josua menilai fundamental perbankan Indonesia saat ini relatif lebih siap dibandingkan banyak periode gejolak global sebelumnya, didukung kerangka pengawasan yang lebih ketat, permodalan yang solid, cadangan likuiditas yang disiplin, serta basis pendanaan yang didominasi dana domestik.

“Perbankan Indonesia saat ini pada umumnya lebih siap dibanding banyak periode gejolak global sebelumnya karena permodalan dan cadangan likuiditas yang lebih disiplin,” katanya.

Namun, dia mengingatkan ketahanan tersebut sangat bergantung pada durasi konflik. Jika konflik cepat mereda, tekanan biasanya terkonsentrasi pada volatilitas pasar dan bersifat sementara.

Sebaliknya, apabila eskalasi berlarut dan pasar terus memasang premi risiko energi, bank akan menghadapi kombinasi tantangan berupa biaya dana yang sulit turun, permintaan kredit yang melemah, dan kebutuhan pencadangan yang lebih berhati-hati.

Dalam situasi ketidakpastian global, perbankan juga cenderung lebih konservatif dalam ekspansi, terutama pada kredit baru berjangka panjang dan pembiayaan investasi. Bank akan memprioritaskan kualitas debitur, ketahanan arus kas, serta kecukupan agunan.

“Situasi seperti ini memang cenderung membuat perbankan lebih konservatif dalam ekspansi, terutama pada kredit baru berjangka panjang,” tutup Josua.

Pengalaman saat ketegangan meningkat pada Juni 2025 juga menggambarkan pola awalnya seperti rupiah melemah dan imbal hasil surat berharga negara naik tipis, yang biasanya cepat menular ke cost of fund dan perilaku likuiditas perbankan bila berlarut.

Bagi bank dengan portofolio kredit korporasi yang besar di sektor energi maupun ekspor-impor, dampaknya diperkirakan bersifat dua arah pada kuartal I/2026. Di satu sisi, kebutuhan modal kerja, transaksi perdagangan, dan layanan lindung nilai dapat meningkat sehingga menopang pendapatan berbasis komisi.

Namun di sisi lain, risiko kualitas aset juga naik pada debitur yang tertekan oleh biaya energi, gangguan pengiriman, dan volatilitas nilai tukar sehingga bank perlu memperketat manajemen risiko dan pemantauan debitur.

#konflik-timur-tengah #risiko-perbankan-indonesia #harga-energi #sentimen-pasar-global #arus-modal #selat-hormuz #harga-minyak-brent #inflasi-indonesia #nilai-tukar-rupiah #suku-bunga #likuiditas-perba

https://finansial.bisnis.com/read/20260302/90/1957007/kanal-energi-sentimen-pasar-jadi-risiko-utama-perbankan-efek-perang-israel-as-vs-iran