Pemerintah Mulai Reforestasi Taman Nasional Tesso Nilo
Pemerintah memulai reforestasi di Taman Nasional Tesso Nilo untuk memulihkan ekosistem dan habitat gajah sumatra, dengan target 66.704 hektare hingga 2028.
(Bisnis.Com) 04/03/26 09:49 154338
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan resmi memulai program reforestasi di Taman Nasional Tesso Nilo sebagai bagian dari langkah pemulihan ekosistem hutan di Provinsi Riau pada Selasa (3/3/2026). Peluncuran reforestasi yang berlangsung pada Selasa (3/3/2026) itu dilakukan langsung oleh dan dihadiri unsur pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum.
Dalam sambutannya, Menhut menegaskan bahwa pemulihan Tesso Nilo merupakan prioritas nasional karena kawasan ini memiliki nilai ekologis yang sangat penting.
“Kita tidak bisa menunda lagi upaya pemulihan. Tesso Nilo adalah habitat penting bagi gajah sumatra dan berbagai satwa lainnya. Jika kita tidak bergerak sekarang, maka kita mempertaruhkan masa depan ekosistem Sumatra bagian tengah,” kata Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni dalam sambutannya, dikutip Rabu (4/3/2026).
Reforestasi ini merupakan tindak lanjut dari kebijakan penertiban dan pengembalian fungsi kawasan hutan yang selama ini mengalami tekanan akibat alih fungsi lahan. Pemerintah menargetkan pemusnahan tanaman sawit secara bertahap dan penggantian dengan tanaman hutan yang memiliki nilai ekologis tinggi.
Pada tahap awal pada 2026, pemulihan difokuskan pada areal seluas 2.574 hektare. Sementara hingga 2028, total target pemulihan ditetapkan 66.704 hektare. Pada lokasi peluncuran, penanaman perdana dilakukan di areal bekas sawit seluas sekitar 400 hektare dengan 2.000 bibit tanaman hutan.
Menurut Raja Juli, program ini disusun dengan mengacu pada kajian ilmiah dengan melibatkan berbagai institusi riset dan akademisi, sehingga jenis tanaman yang ditanam benar-benar mendukung ketersediaan pakan dan habitat satwa liar.
“Pemulihan ini dibangun di atas fondasi ilmiah yang kuat. Kami memastikan jenis yang ditanam memiliki fungsi ekologis, menjadi sumber pakan sekaligus naungan bagi satwa, khususnya Gajah Sumatera,” ujar Menhut.
Selain pendekatan ekologis, pemerintah juga memperkuat aspek tata kelola melalui penegakan hukum, pendekatan restorative justice, relokasi masyarakat secara persuasif dan bertahap, serta pembenahan status lahan agar clear and clean.
Raja Juli turut menekankan bahwa keberhasilan reforestasi tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada dukungan lintas sektor dan partisipasi masyarakat.
“Reforestasi ini bukan sekadar menanam pohon. Ini adalah komitmen bersama untuk mengembalikan keseimbangan alam dan memastikan anak cucu kita tetap mewarisi hutan yang lestari,” katanya.
Pada kesempatan yang sama, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Diaz Hendropriyono memastikan dukungan Kementerian Lingkungan Hidup melalui penyediaan peta jasa lingkungan hidup (JLH). Peta tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung pemulihan serta pembangunan kembali ekosistem gajah.
“Kami mendukung penuh langkah ini demi penyelamatan lingkungan. Melalui peta JLH, KLH akan membantu memprioritaskan wilayah dengan nilai jasa lingkungan tinggi untuk rehabilitasi dan restorasi. Selain itu, dalam pembangunan ekosistem gajah atau pembuatan saltlick, kami dapat menyediakan data peta JLH pengatur air," kata Diaz.
Diaz menambahkan bahwa penguatan rehabilitasi dapat ditempuh melalui dukungan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup yang dapat diakses KLH. Sebagaimana diketahui, degradasi di TNTN cukup signifikan dengan lebih dari 90% kawasannya diperkirakan telah mengalami kerusakan.
“Kami berkomitmen untuk menghijaukan kawasan Tesso Nilo karena tadinya ada 81.000 hektare, sekarang jadi tinggal sedikit, jadi kami mendukung program reforestasi ini,” kata Diaz.
#reforestasi-tesso-nilo #taman-nasional-tesso-nilo #pemulihan-ekosistem-hutan #habitat-gajah-sumatra #alih-fungsi-lahan #tanaman-hutan-ekologis #pemulihan-hutan-riau #penegakan-hukum-hutan #restorasi-e