Bos Goldman Sachs Sebut Reaksi Pasar Cukup Tenang soal Perang AS-Israel vs Iran

Bos Goldman Sachs Sebut Reaksi Pasar Cukup Tenang soal Perang AS-Israel vs Iran

CEO Goldman Sachs, David Solomon, terkejut dengan reaksi pasar yang tenang terhadap konflik AS-Israel vs Iran, meski ketegangan meningkat di Asia Barat.

(Bisnis.Com) 04/03/26 15:27 154855

Bisnis.com, JAKARTA — CEO Goldman Sachs Group Inc. David Solomon mengaku terkejut dengan reaksi pasar keuangan yang \'lunak\' terhadap konflik di kawasan Asia Barat atau Timur Tengah. Menurutnya, butuh waktu hingga berminggu-minggu untuk lebih memahami situasi konflik yang diawali oleh serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.

Sebagaimana diketahui, serangan Israel dan AS ke Iran pada akhir pekan lalu memicu pembalasan dari Teheran. Serangan Israel yang membunuh pemimpin tertinggi Iran yakni Ayatollah Ali Khamenei memicu serangan balasan ke Tel Aviv serta sejumlah pangkalan militer AS di Arab Saudi hingga Uni Emirat Arab (UEA).

"Sangat sulit untuk berspekulasi karena masih banyak hal yang belum diketahui saat ini," kata Solomon pada KTT Bisnis Australian Financial Review di Sydney, Rabu (4/3/2026), dilansir dari Bloomberg.

Investor disebut sedang mempertimbangkan apakah konflik akan menjadi peristiwa yang lebih berkepanjangan dan mulai berdampak pada konsumsi.

Adapun jaminan AS tentang pengamanan pengiriman melalui Selat Hormuz telah membantu menenangkan kekhawatiran di pasar. Namun, perang Iran telah bergema di seluruh wilayah, dengan Israel membombardir Teheran dalam gelombang serangan baru.

Di sisi lain, Iran menembakkan rudal ke Qatar, Bahrain, dan Oman, dengan Doha mengatakan target tidak terbatas pada kepentingan militer. Namun, CEO Goldman Sachs sejak 2018 itu mengaku kaget lantaran reaksi pasar dan dirinya cukup tenang.

"Reaksi pasar cukup tenang," ujarnya.

Hal ini terlihat dari indeks S&P 500 saham AS yang turun kurang dari 1% sepanjang Senin dan Selasa, sebagian mencerminkan eksposurnya terhadap saham-saham teknologi besar yang tetap stabil.

Kendati demikian, sejak Solomon berbicara, beberapa pergerakan telah berlanjut, dengan Indeks MSCI Asia Pasifik merosot hingga 4,5% dan Kospi Korea Selatan anjlok lebih dari 12%.

Kemudian, Rupee India melemah ke level terendah sepanjang masa karena kekhawatiran bahwa harga energi yang lebih tinggi akan memicu inflasi.

Obligasi pemerintah AS telah jatuh minggu ini di tengah kekhawatiran inflasi, mengurangi ekspektasi penurunan suku bunga. Dolar AS telah menguat, setelah periode pelemahan yang berkepanjangan.

Solomon mengatakan dia tidak terkejut melihat Indeks VIX dan ukuran volatilitas lainnya naik.

"Akan butuh beberapa minggu bagi pasar untuk benar-benar mencerna implikasinya," katanya.

Sebagian besar respons pasar berpusat pada harga minyak, dan apakah minyak mentah dapat bergerak tanpa hambatan melalui Selat Hormuz. Brent naik di atas US$82 per barel pada hari Rabu setelah melonjak sekitar 12% selama dua hari, kenaikan terbesar sejak 2020.

Solomon juga membahas gejolak di pasar kredit swasta senilai US$1,8 triliun, dengan mengatakan bahwa meskipun ada beberapa masalah yang unik, itu tidak berarti kualitas kredit secara keseluruhan mengkhawatirkan.

"Jika Anda benar-benar melihat kinerja kredit yang mendasari di banyak portofolio ini, hingga saat ini Anda belum melihat penurunan yang luas," katanya.

Dia mengatakan ekonomi AS bertahan dengan baik, yang membuat sulit untuk mengidentifikasi area di mana risiko kredit mungkin berlebihan.

“Ketika kita mengalami siklus kredit, atau kita mengalami perlambatan, atau kita mengalami resesi, Anda akan memiliki visibilitas yang lebih besar pada beberapa tempat di mana standar pemberian pinjaman telah melemah," ujarnya.

#goldman-sachs #reaksi-pasar #perang-as-israel-iran #konflik-timur-tengah #serangan-israel-iran #dampak-pasar-keuangan #selat-hormuz #harga-minyak #volatilitas-pasar #indeks-s-amp-p-500 #harga-energi #n-a

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260304/620/1957721/bos-goldman-sachs-sebut-reaksi-pasar-cukup-tenang-soal-perang-as-israel-vs-iran