Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping, Rupiah Diproyeksi Depresiasi Awal Pekan

Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping, Rupiah Diproyeksi Depresiasi Awal Pekan

Rupiah diprediksi melemah ke Rp16.600-Rp16.650 per dolar AS awal pekan ini jelang pertemuan Trump-Xi Jinping yang diharapkan mencairkan hubungan dagang.

(Bisnis.Com) 26/10/25 14:28 16217

Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak melemah pada rentang Rp16.600-Rp16.650 per dolar AS pada perdagangan awal pekan, Senin (27/10/2025).

Mengutip data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,16% ke level Rp16.602 per dolar AS pada Jumat (24/10/2025). Adapun pada saat bersamaan, indeks dolar AS menguat 0,05% ke level 98,98.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia pada akhir pekan lalu ditutup bervariasi. Yen Jepang melemah 0,18%, dolar Hong Kong menguat 0,02%, dolar Singapura melemah 0,07%, dolar Taiwan melemah 0,03%, dan won Korea Selatan menguat 0,06%.

Lalu peso Filipina melemah 0,04%, rupee India menguat 0,11%, yuan China naik 0,01%, ringgit Malaysia menguat 0,08%, dan baht Thailand menguat 0,05%.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan Gedung Putih pada Kamis (30/10/2025) mengonfirmasi bahwa Presiden Donald Trump akan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan. Hal ini memicu harapan akan mencairnya hubungan perdagangan antara dua negara dengan ekonomi terbesar dunia ini.

Para trader juga bersikap hati-hati menjelang penundaan rilis indeks harga konsumen (IHK) AS untuk bulan September, sebuah indikator kunci untuk prospek kebijakan Federal Reserve.

Data tersebut, yang ditunda awal bulan ini karena penutupan pemerintah AS yang sedang berlangsung, dipandang krusial dalam membentuk ekspektasi untuk pertemuan The Fed minggu depan. Pasar memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan Fed minggu depan.

Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) pada September 2025 tumbuh lebih tinggi.

Laporan BI menyebut pertumbuhan M2 pada September 2025 sebesar 8,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Agustus 2025 sebesar 7,6% (yoy) sehingga tercatat Rp9.771,3 triliun. Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 10,7% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,2% (yoy).

Kemudian perkembangan M2 pada September 2025 dipengaruhi oleh aktiva luar negeri bersih, penyaluran kredit, dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).

Adapun penyaluran kredit pada September 2025 tumbuh 7,2% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit pada bulan sebelumnya sebesar 7,0% (yoy). Selain itu, tagihan bersih kepada Pemerintah pusat tumbuh sebesar 6,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Agustus 2025 sebesar 5,0% (yoy).

#rupiah-melemah #nilai-tukar-rupiah #dolar-as #pertemuan-trump-xi #mata-uang-asia #indeks-dolar-as #harga-konsumen-as #kebijakan-federal-reserve #suku-bunga-fed #likuiditas-perekonomian #uang-beredar-m

https://market.bisnis.com/read/20251026/93/1923407/jelang-pertemuan-trump-xi-jinping-rupiah-diproyeksi-depresiasi-awal-pekan