Rembetan Efek Perang Iran, Bagaimana Laju Ekonomi Usai Lebaran?
Ekonomi Indonesia proyeksi melambat pasca-Lebaran 2026 akibat tren musiman dan dampak perang Iran. Ketidakpastian global menuntut respons kebijakan hati-hati.
(Kompas.com) 16/03/26 20:07 166486
JAKARTA, KOMPAS.com - Laju ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 atau usai periode Lebaran diprediksi akan menghadapi perlambatan.
Selain merupakan tren yang lumrah terjadi usai Idul Fitri, efek dari perang Iran diproyeksikan akan mulai terasa di dalam negeri.
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah mengatakan, tantangan ekonomi Indonesia baru terjadi setelah Lebaran 2026.
"Di triwulan II itu hambatan-hambatan dari global supply chain sudah terjadi, sudah terasa, karena dampak dari perang itu sudah mulai kejadian," kata dia pekan lalu.
Hal tersebut disebabkan karena cadangan-cadangan minyak yang ada sudah mulai menipis.
"Sementara yang baru belum datang," terang dia.
Ia menambahkan, secara umum pertumbuhan ekonomi pada kuartal I-2026 diproyeksikan masih aman.
"Meskipun tidak sangat besar seperti periode-periode normal," kata dia.
Sementara itu, kuartal kedua setiap tahunnya merupakan periode yang menantang.
Pasalnya, periode ini merupakan periode perlambatan ekonomi usai Idul Fitri yang telah menggerakkan ekonomi masyarakat.
Perekonomian setelah Lebaran memang pada dasarnya akan menunjukkan tren penurunan.
Di sisi lain, rentetan dampak dari perang di Timur Tengah mulai masuk ke Tanah Air.
"Di kuartal II memang saya kira lebih terasa perlambatan dari sisi ekonomi," ucap dia.
Respons kebijakan pemerintah dinantikan
Piter menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun ini sangat bergantung pada respons pemerintah di kuartal II-2026 mendatang.
Ia menekankan kondisi saat ini belum mengarah pada krisis.
Fundamental makro ekonomi Indonesia dinilai masih relatif kuat dibandingkan dengan beberapa periode guncangan sebelumnya.
Namun demikian, situasi saat ini tetap memerlukan pengelolaan kebijakan yang hati-hati.
Piter menyebutkan, pemerintah perlu memastikan komunikasi kebijakan ekonomi berjalan dengan jelas, terutama terkait strategi menjaga disiplin fiskal, mengelola tekanan subsidi energi, serta mempertahankan kepercayaan investor.
“Dalam situasi ketidakpastian global seperti sekarang, kejelasan arah kebijakan ekonomi menjadi sangat penting. Pasar akan melihat bagaimana pemerintah menjaga stabilitas fiskal sekaligus memastikan ekonomi domestik tetap tumbuh,” ucap dia.
Perang Timur Tengah pengaruhi pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026
Eskalasi konflik Timur Tengah berpotensi menjadi salah satu shock eksternal terbesar bagi ekonomi Indonesia pada 2026, terutama jika lonjakan harga energi berlangsung dalam periode yang cukup panjang.
“Di awal 2026, prospek ekonomi Indonesia sebenarnya masih terlihat cukup solid. Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5,0–5,3 persen, didukung oleh permintaan domestik yang relatif stabil serta mulai membaiknya pertumbuhan kredit. Namun demikian, lonjakan harga energi berpotensi mengubah dinamika tersebut,” kata Piter.
Piter mengingatkan, kenaikan harga minyak biasanya akan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor, melemahkan daya beli rumah tangga, serta menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Jika harga energi bertahan tinggi dalam waktu yang cukup lama, peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia turun di bawah ambang 5 persen menjadi semakin besar,” ungkap dia.
Dia menambahkan, tekanan energi yang berkepanjangan juga berpotensi memicu perlambatan konsumsi rumah tangga serta peningkatan inflasi melalui kenaikan biaya distribusi barang.
Dalam skenario yang lebih ekstrem, situasi tersebut dapat meningkatkan risiko arus keluar modal serta memperbesar tekanan terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Pengalaman masa lalu menunjukkan bagaimana guncangan eksternal dapat mempengaruhi ekonomi domestik dalam waktu relatif singkat.
Sebagai contoh, pada periode krisis keuangan global 2008–2009, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap positif tetapi melambat sekitar 1,4 poin persentase dalam satu tahun.
Perang Iran ubah prospek ekonomi Indonesia
Research Director Prasasti Gundy Cahyadi mengatakan, konflik yang meningkat antara Amerika Serikat dan Iran mulai mengubah prospek ekonomi Indonesia yang sebelumnya relatif positif.
“Pada awal tahun, prospek ekonomi Indonesia sebenarnya masih relatif positif dengan proyeksi pertumbuhan berada di kisaran 5,0–5,3 persen. Namun, konflik antara Amerika Serikat dan Iran mulai mengubah proyeksi tersebut,” papar Gundy.
Lonjakan harga minyak global menjadi salah satu sumber tekanan utama.
Harga minyak dunia bahkan kembali melampaui 100 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1.570.000 per barrel dengan asumsi kurs sekitar Rp 15.700 per dollar AS).
Menurut Gundy, kondisi tersebut meningkatkan risiko bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia yang masih mengimpor sebagian besar kebutuhan minyaknya.
“Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya produksi, menekan daya beli masyarakat, serta memberi tekanan pada nilai tukar rupiah,” ujar Gundy.
Ketika lonjakan harga minyak berlangsung dalam periode panjang, peluang pertumbuhan ekonomi Indonesia turun di bawah 5 persen menjadi semakin besar.
“Pemerintah sudah harus mulai berubah dari mode business as usual ke mode krisis,” tambah dia.
DOK. Cyrus Network YouTube Ekonom dan Direktur The Prasati Piter AbdullahEkonom sebut pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan
Survei Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) melaporkan, sebagian besar atau 36 dari 85 ahli atau sekitar 42 persen memprediksi stagnansi pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sementara itu, sebanyak 28 ahli atau 33 persen mengantisipasi memburuknya kondisi dan 21 ahli setara 25 persen memperkirakan perbaikan pertumbuhan ekonomi.
"Rata-rata respons sebesar -0,11 berada tepat di titik netral, mencerminkan ekspektasi kolektif akan stagnasi secara umum dengan kecenderungan sedikit ke bawah," tulis hasil Survei LPEM Ahli Ekonomi Semester I-2026.
Survei tersebut menjelaskan, skor keyakinan yang relatif moderat sebesar 7,47 mengindikasikan adanya ketidakpastian di kalangan para ahli.
"Prospek pertumbuhan yang lesu umumnya mengarah pada aktivitas bisnis yang stagnan dan pengeluaran konsumen yang berhati-hati dalam beberapa bulan ke depan," ungkap laporan tersebut.
Angka ini mencerminkan sedikit perbaikan dari rata-rata putaran sebelumnya sebesar -0,13, meski perbedaannya sangat kecil dan tidak cukup untuk mengindikasikan pergeseran yang berarti dalam sentimen para ahli.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#perlambatan-ekonomi #perang-iran #harga-minyak-global #kuartal-ii-2026