Perang Memanas, Iran Ancam Serang Destinasi Wisata Negara Lawan
Iran mengancam serang destinasi wisata negara musuh di tengah konflik dengan AS dan Israel, meningkatkan ketegangan global dan memicu kekhawatiran keamanan.
(Bisnis.Com) 21/03/26 14:30 170249
Bisnis.com, JAKARTA — Iran mengancam akan menargetkan lokasi rekreasi dan destinasi wisata di berbagai negara musuh di tengah perang dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung hampir tiga pekan.
Pernyataan bernada keras itu disampaikan hampir tiga pekan setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan sejumlah pemimpin utama Teheran serta menghantam industri persenjataan dan energi negara tersebut.
“Taman, area rekreasi, dan destinasi wisata di berbagai belahan dunia tidak akan aman bagi pihak yang dianggap sebagai musuh Teheran," kata Juru bicara militer utama Iran, Abolfazl Shekarchi, dikutip dariArab News, Sabtu (21/3/2026).
Ancaman tersebut disampaikan saat Iran terus menjadi target serangan udara AS dan Israel. Pernyataan itu memicu kekhawatiran bahwa Iran dapat kembali menggunakan serangan militan di luar Timur Tengah sebagai strategi tekanan dalam konflik yang sedang berlangsung.
Iran juga melancarkan serangan terhadap Israel serta fasilitas energi di negara-negara Arab Teluk ketika banyak masyarakat di kawasan tengah memperingati salah satu hari suci dalam kalender Islam.
Pada saat yang sama, warga Iran juga merayakan Tahun Baru Persia atau Nowruz, yang biasanya berlangsung meriah namun tahun ini berlangsung lebih sederhana.
Minimnya informasi yang keluar dari Iran membuat belum jelas seberapa besar kerusakan yang dialami fasilitas persenjataan, nuklir, maupun energi negara itu sejak perang dimulai pada 28 Februari. Bahkan, belum sepenuhnya jelas siapa yang saat ini memegang kendali pemerintahan.
Meski demikian, Iran dinilai masih mampu melancarkan serangan yang mengganggu pasokan minyak global serta menekan perekonomian dunia, dengan dampak kenaikan harga pangan dan bahan bakar yang meluas jauh di luar kawasan Timur Tengah.
AS dan Israel sendiri menyampaikan berbagai alasan terkait operasi militer tersebut, mulai dari upaya memicu pemberontakan yang dapat menggulingkan kepemimpinan Iran hingga menghancurkan program nuklir dan rudal negara itu.
Namun, hingga kini belum terlihat tanda-tanda pemberontakan tersebut, sementara kemampuan militer Iran yang tersisa maupun kemungkinan akhir konflik masih belum jelas.
Sementara itu, Pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pesan tertulis untuk perayaan Nowruz menyatakan bahwa musuh-musuh Iran tengah mengalami kekalahan di tengah serangan yang terus dilancarkan AS dan Israel.
Dalam pernyataan yang dibacakan di televisi Iran pada Jumat (20/3/2026), Khamenei memuji keteguhan rakyat Iran yang merayakan Nowruz. Menurutnya, keteguhan itu menandai tahun baru dengan semangat ekonomi perlawanan di bawah persatuan nasional dan keamanan nasional.
“Saat ini, karena persatuan yang tercipta di antara kalian, warga negara kami—meskipun memiliki perbedaan latar belakang agama, pemikiran, budaya, dan politik—musuh telah dikalahkan,” ujarnya dikutip dari Al Jazeera.
Khamenei belum terlihat di depan publik sejak menjadi pemimpin tertinggi setelah ayahnya, Ali Khamenei, tewas dalam serangan pada awal perang 28 Februari.
Dia juga menilai AS dan Israel keliru memperkirakan bahwa rakyat Iran akan menggulingkan pemerintah setelah beberapa hari serangan.
Menurutnya, perang tersebut dilancarkan dengan ilusi bahwa jika pucuk pimpinan rezim dan sejumlah tokoh militer berpengaruh gugur, hal itu akan menimbulkan ketakutan dan keputusasaan di kalangan rakyat Iran.
"Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Keretakan justru muncul di pihak musuh,” ujarnya.
#iran #ancam-serang #destinasi-wisata #negara-lawan #perang-memanas #amerika-serikat #israel #serangan-militer #timur-tengah #fasilitas-energi #serangan-udara #konflik-berlanjut #pasokan-minyak #harga