Blue Origin Milik Jeff Bezos Siapkan Pusat Data Pesaing SpaceX
Blue Origin ajukan izin ke FCC untuk luncurkan 50.000 satelit sebagai pusat data di orbit, bersaing dengan SpaceX. Proyek ini bertujuan kurangi beban energi pusat data di darat.
(Bisnis.Com) 21/03/26 15:05 170253
Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan antariksa milik Jeff Bezos, Blue Origin, mengajukan izin kepada pemerintah Amerika Serikat untuk meluncurkan lebih dari 50.000 satelit yang akan difungsikan sebagai pusat data di orbit Bumi.
Melansir laman TechCrunch pada Sabtu (21/3/2026) dalam dokumen yang diajukan ke Federal Communications Commission (FCC) pada 19 Maret, pihak Blue Origin menyebut proyek ini sebagai “Project Sunrise”.
Jaringan satelit tersebut dirancang untuk melakukan komputasi canggih di luar angkasa, dengan tujuan mengurangi beban energi dan konsumsi air yang selama ini ditanggung pusat data di darat.
Meski demikian, Blue Origin belum merinci secara detail kapasitas komputasi yang akan dihasilkan dari jaringan satelit tersebut.
Perusahaan hanya menyebut akan memanfaatkan konstelasi satelit lain bernama “TeraWave” sebagai tulang punggung komunikasi berkecepatan tinggi bagi sistem pusat data di orbit.
Tidak hanya Blue Origin, beberapa perusahaan lain juga mengembangkan konsep serupa. SpaceX disebut telah mengajukan izin untuk meluncurkan hingga satu juta satelit sebagai pusat data terdistribusi.
Sementara itu, startup Starcloud mengusulkan jaringan 60.000 satelit, dan Google tengah mengembangkan proyek “Project Suncatcher” yang akan diuji melalui peluncuran dua satelit demonstrasi oleh Planet Labs tahun depan.
Di sisi lain, Blue Origin dinilai memiliki potensi keunggulan melalui roket New Glenn, yang termasuk salah satu kendaraan peluncur paling kuat saat ini. Jika perusahaan mampu mengoperasikan dan menggunakan kembali roket tersebut secara rutin, Blue Origin berpeluang menekan biaya sekaligus meningkatkan daya saing, seperti yang dilakukan SpaceX melalui jaringan Starlink.
Di tengah tingginya antusiasme terhadap pengembangan pusat data di luar angkasa tersebut, sejumlah tantangan ekonomi dan teknologi masih menjadi hambatan utama. Teknologi pendinginan prosesor di lingkungan ruang hampa serta sistem komunikasi antarsatelit berbasis laser dinilai masih memerlukan pengembangan lebih lanjut agar dapat beroperasi secara efisien dan terjangkau.
Selain itu, para ilmuwan masih melakukan penelitian terkait performa chip canggih dalam kondisi radiasi tinggi di orbit, yang berpotensi memengaruhi keandalan sistem komputasi.
Dari sisi ekonomi, biaya peluncuran menjadi faktor krusial dalam merealisasikan proyek tersebut. Sejumlah pihak menilai biaya ini berpotensi menurun seiring pengembangan roket Starship milik SpaceX yang ditargetkan mulai beroperasi dalam waktu dekat.
Di luar aspek teknis dan ekonomi, isu lingkungan turut menjadi perhatian. Kepadatan satelit di orbit rendah Bumi dilaporkan terus meningkat, sehingga memperbesar risiko tabrakan antarsatelit. Praktik pembakaran satelit yang sudah tidak digunakan saat memasuki atmosfer juga dikhawatirkan dapat berdampak pada lapisan ozon.
Meskipun demikian, para ahli memperkirakan realisasi pusat data di luar angkasa masih memerlukan waktu, dengan proyeksi implementasi paling cepat pada dekade 2030-an.
#blue-origin #jeff-bezos #pusat-data #pesaing-spacex #project-sunrise #satelit-blue-origin #konstelasi-terawave #roket-new-glenn #komunikasi-berkecepatan-tinggi #pusat-data-orbit #teknologi-antariksa #n-a