Jurus RI Antisipasi Krisis Pangan di Tengah Ancaman El Nino Godzilla

Jurus RI Antisipasi Krisis Pangan di Tengah Ancaman El Nino Godzilla

Indonesia bersiap menghadapi Fenomena El Nino Godzilla dengan memperkuat stok pangan dan swasembada.

(Bisnis.Com) 27/03/26 10:00 174172

Bisnis.com, JAKARTA — Fenomena iklim super El Nino atau El Nino 'Godzilla' diperkirakan dapat mengakibatkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering. Kondisi ini dikhawatirkan dapat mengancam lumbung pangan Indonesia. Lantas, bagaimana antisipasi pemerintah untuk mencegah krisis pangan?

Berdasarkan laporan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator.

Adapun, fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat atau Godzilla menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering.

Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Prof. Erma Yulihastin menilai pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa.

“Selain itu, dampak karhutla [kebakaran hutan dan lahan] di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi. Namun, di saat yang bersamaan, pemerintah juga sebaiknya menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi-Halmahera-Maluku dan dampaknya terhadap banjir dan longsor,” kata Erma dalam unggahan Instagram BRIN Indonesia.

Berdasarkan laporan BRIN, beberapa model global memprediksi El Nino mulai terjadi sejak April 2026 yang bakal diperkuat dengan fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) positif.

Di sisi lain, fenomena IOD positif di Samudra Hindia diindikasikan dengan pendinginan suhu permukaan laut di dekat Sumatra dan Jawa, sehingga menyebabkan wilayah di Indonesia mengalami pengurangan hujan yang signifikan. Kedua fenomena tersebut diperkirakan berlangsung sepanjang musim kemarau.

“Kedua fenomena tersebut diprediksi akan terjadi bersamaan selama periode musim kemarau di Indonesia sejak April hingga Oktober 2026,” terangnya.

Untuk periode April—Juli 2026, model prediksi musim yang dikembangkan BRIN menunjukkan kemarau kering akan terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur. Sebaliknya, wilayah di Sulawesi dan Maluku, Halmahera, Maluku, sebagian besar masih akan mengalami curah hujan yang tinggi.

Lebih lanjut, BRIN menyampaikan bahwa dampak super El Nino dan IOD positif tidak merata di Indonesia. Untuk itu, pemerintah perlu mempertimbangkan mitigasi terhadap kekeringan yang bisa mengancam lumbung padi nasional, terutama di Pantura Jawa.

Antisipasi Pemerintah

Untuk mengantisipasi dampak El Nino, Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyatakan bahwa pemerintah berupaya memperkuat ketahanan stok Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). Penguatan stok pangan yang mengutamakan penyerapan produksi dalam negeri ini dilakukan jika sewaktu-waktu dibutuhkan intervensi pangan tatkala terjadi anomali cuaca.

"Adanya prediksi Godzilla El Nino telah menjadi perhatian pemerintah. Kami di Badan Pangan Nasional (Bapanas) sesuai arahan Kepala Bapanas Bapak Andi Amran Sulaiman, memastikan ketahanan stok CPP terus diperkuat agar nanti saat diperlukan, bisa segera disalurkan untuk membantu masyarakat," kata Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa di Jakarta, Kamis (26/3/2026).

Lebih lanjut, dia menyatakan dalam laporan Bapanas per 25 Maret, stok pangan pokok strategis yang merupakan CPP dan dikelola oleh BUMN pangan, baik Perum Bulog maupun ID FOOD, masih memadai dengan beras sebagai CPP dengan stok terbesar. Sementara CPP lainnya juga terus diperkuat seperti jagung, minyak goreng, gula konsumsi, daging sapi/kerbau, daging ayam dan telur ayam.

Stok CPP beras di Bulog saat ini total telah mencapai 4,08 juta ton. Capaian ini meningkat pesat sebesar 77,8% dibandingkan kondisi stok CPP beras pada akhir Maret 2025 yang saat itu masih berada 2,29 juta ton. Sebagian besar pasokan pun bersumber dari produksi dalam negeri dikarenakan Bulog telah melaksanakan penyerapan setara beras sejak awal 2026 hingga hari ini mencapai 1,24 juta ton.

Kemudian stok CPP jagung berada di kisaran 144.000 ton yang sebagian besar bersumber dari penyerapan panen jagung dalam negeri. Realisasi penyerapan jagung produksi dalam negeri di tahun 2026 ini telah mencapai 101.960 ton.

Sementara kondisi stok CPP lainnya antara lain minyak goreng berada di angka total 95.000 kiloliter. Lalu gula konsumsi ada 50.000 ton dengan sebagian besar ada di ID FOOD sebagai pengelolanya.

Kemudian stok CPP daging sapi/kerbau ada 11.000 ton yang juga sebagian besar dikelola ID FOOD. Daging ayam 39 ton pun ada di ID FOOD. Sementara CPP telur ayam 62 ton dikelola Bulog.

Swasembada Pangan

Sementara itu, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman memastikan ketahanan pangan nasional berada dalam kondisi prima meski dibayangi ancaman fenomena El Nino Godzilla.

Dia menegaskan bahwa cadangan stok pangan saat ini mampu memenuhi kebutuhan nasional hingga 10 bulan ke depan. Kepastian tersebut telah diestimasi berdasarkan hasil perhitungan terbaru mengenai ketersediaan pangan di berbagai lini, mulai dari gudang Bulog hingga stok di level rumah tangga.

"Kami sudah hitung stok kita di gudang, di lapangan, di gudang Bulog, hingga di hotel dan rumah. Itu cukup untuk 10 bulan ke depan," ujar Amran pada acara Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI 2026 di Makassar, Kamis (26/3/2026).

Pemerintah memproyeksikan periode kekeringan akibat El Nino hanya akan berlangsung selama 6 bulan. Dari cadangan yang tersedia untuk 10 bulan, maka diyakini transisi pangan hingga akhir tahun akan berjalan aman tanpa kendala berarti.

Amran memerinci bahwa stok saat ini cukup hingga Desember 2026 tanpa menyertakan hasil panen mendatang. Jika dihitung dengan proyeksi panen dengan produksi minimal selama masa El Nino mencapai 2 juta ton per bulan, maka dalam periode 7 bulan ke depan, tambahan produksi diprediksi menyentuh 14 juta ton. Artinya, pasokan beras nasional diklaim aman hingga Mei 2027.

Selain itu, dia juga menekankan pentingnya ketahanan pangan untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan global. Oleh karena itu, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah mencanangkan program swasembada pangan.

"Dunia sedang menghadapi ancaman krisis pangan yang serius. Oleh karena itu setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak boleh bergantung pada negara lain," ujar Amran.

Dia menegaskan bahwa Indonesia saat ini sudah berada di jalur yang tepat. Melalui swasembada pangan, Indonesia nantinya akan mampu memenuhi kebutuhannya melalui produksi pangan di dalam negeri.

"Yang paling aman adalah negara yang bisa memproduksi pangannya sendiri. Itu sebabnya kita harus memperkuat produksi dalam negeri. Kita harus optimis," ucap Amran.

Lebih lanjut, Amran mengatakan Kementan bakal mendorong pompanisasi 2,2 juta hektare lahan sawah untuk menghadapi ancaman kekeringan dari fenomena El Nino tahun ini.

“Di lapangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare, bisa menjangkau pompa kita ke 1,2 juta hektare sawah tadah hujan. Kemudian tahun ini kita siapkan lagi 1 juta hektare,” jelasnya.

Dengan demikian, dia menuturkan bahwa sekitar 2,2 juta hektare lahan akan dapat dialiri air pada saat kondisi musim kering yang akan datang, baik dari sungai-sungai, sumur dalam, hingga sumur dangkal yang telah dipetakan.

Selain itu, pihaknya juga menyiapkan infrastruktur irigasi dengan melakukan pembenahan atau rehabilitasi irigasi untuk kurang lebih 1 juta hektare lahan.

“Jadi infrastruktur sudah siap. Ibaratkan jauh sebelumnya kita sudah siapkan payung karena kita tahu bahwa akan terjadi hujan,” ujarnya.

Amran juga menjelaskan bahwa optimalisasi lahan rawa untuk pertanian telah mencapai 1 juta hektare, yang diklaim memiliki produktivitas tinggi saat musim kering. Pihaknya juga mendorong suplai bibit unggul yang lebih tahan terhadap kondisi kering hingga tahan air tawar.

#el-nino #krisis-pangan #ancaman-el-nino #el-nino-godzilla #apa-itu-el-nino-godzilla #dampak-el-nino #lumbung-pangan #kekeringan-indonesia #swasembada-pangan #stok-pangan

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260327/12/1962532/jurus-ri-antisipasi-krisis-pangan-di-tengah-ancaman-el-nino-godzilla