Breaking: Inflasi Maret 2026 Turun jadi 0,41%

Breaking: Inflasi Maret 2026 Turun jadi 0,41%

Inflasi Indonesia Maret 2026 turun ke 0,41%, dipengaruhi harga pangan dan penurunan harga emas. Ramadan dan Lebaran turut memengaruhi.

(Bisnis.Com) 01/04/26 11:42 178494

Bisnis.com, JAKARTA — Tingkat inflasi Indonesia Maret 2026 mencapai 0,41% secara bulanan (month to month/MtM), turun dari posisi Februari 2026 yang sebesar 0,68%.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono menjelaskan bahwa secara tahunan Indonesia mencatatkan inflasi 0,94% secara tahun kalender.

"Pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41% secara bulanan atau month to month, atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 110,57 pada Februari 2026 menjadi 110,95 pada Maret 2026," ujar Ateng dalam rilis berita resmi statistik, Rabu (1/4/2026).

Kelompok pengeluaran penyumbang terbesar atau faktor penyebab inflasi Maret 2026 adalah makanan, minuman, dan tembakau, dengan andil inflasi sebesar 0,32%.

Komoditas penyumbang inflasi utama kelompok ini adalah ikan segar (0,06%), daging ayam ras (0,06%), dan beras (0,03%). Alhasil, komoditas harga pangan jadi penyebab inflasi Maret 2026.

Ateng menjelaskan bahwa momen Ramadan dan Lebaran 1447 H, serta perkembangan harga BBM nonsubsidi turut memengaruhi kondisi inflasi RI Maret 2026. Selain itu, terdapat faktor harga emas Maret 2026 yang mengalami penurunan dibandingkan dengan Februari 2026.

Sebelumnya, Tim Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) memproyeksikan tingkat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 0,62% (MtM) pada Maret 2026.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, perlambatan laju inflasi pada bulan ini sebagian besar didorong oleh tren penurunan harga emas di pasaran. Kendati demikian, tekanan akibat kenaikan harga pangan selama momentum Ramadan diakui masih terus berlanjut.

"Secara tahunan, inflasi umum [headline inflation] diproyeksikan melandai ke 3,70% YoY, dibandingkan dengan 4,76% YoY pada Februari 2026, yang mencerminkan normalisasi dari efek basis rendah [low base effect] pada tahun lalu," jelas Andry dalam laporan Macro Preview, Selasa (31/3/2026).

Lebih lanjut, tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan inflasi inti (core inflation) akan bergerak moderat ke level 0,3% (MtM), lebih rendah dari posisi 0,42% pada bulan sebelumnya.

Menurut Asmo, kendati aktivitas belanja masyarakat selama Ramadan terpantau menguat seperti yang tercermin dari kenaikan indikator Mandiri Spending Index (MSI) sekitar 1,31% MoM, penurunan harga emas sebesar 0,89% MoM lebih kuat meredam tekanan inflasi inti.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memprediksi laju inflasi atau IHK Maret 2026 akan melandai ke level 3,71% (YoY), turun dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya yang menembus 4,76%.

Josua menjelaskan bahwa meredanya laju inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh hilangnya low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik yang berlaku pada Januari—Februari tahun lalu. Akibatnya, angka pembanding tahunan menjadi lebih normal.

"Artinya, meskipun periode Ramadan dan Idulfitri biasanya mendorong kenaikan harga pangan, perjalanan, dan rekreasi, dorongan itu kali ini tidak cukup kuat untuk menahan penurunan laju inflasi tahunan," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).

Ke depan, Josua memberikan catatan risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri apabila harga minyak mentah global melonjak lebih tajam.

#inflasi-maret-2026 #inflasi-indonesia #inflasi-bulanan #inflasi-tahunan #indeks-harga-konsumen #penyebab-inflasi #harga-pangan #ramadan-lebaran #harga-emas #inflasi-inti #bank-mandiri #bank-permata #n

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260401/9/1963576/breaking-inflasi-maret-2026-turun-jadi-041