Inflasi Maret 2026 Turun walau Ada Ramadan dan Lebaran, Ini Data Lengkapnya

Inflasi Maret 2026 Turun walau Ada Ramadan dan Lebaran, Ini Data Lengkapnya

Inflasi Maret 2026 turun jadi 3,48% (YoY) dan 0,41% (MtM) meski ada Ramadan dan Lebaran, didorong oleh penurunan harga emas dan normalisasi efek basis rendah.

(Bisnis.Com) 01/04/26 12:11 178529

Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi Maret 2026 turun baik secara tahunan maupun bulanan. Terdapat momen Ramadan dan Lebaran pada Maret 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS bahwa Indeks Harga Konsumen (IHK) Maret 2026 tercatat sebesar 110,95, naik dari posisi Februari 2026 sebesar 110,57. Terjadi inflasi secara tahunan maupun bulanan pada bulan lalu.

Inflasi Maret 2026 tercatat sebesar 3,48% (year on year/YoY), turun dibandingkan posisi Februari 2026 yang inflasi 4,76%.

"Pada Maret 2026 terjadi inflasi sebesar 0,41% secara bulanan atau month to month [MtM]," ujar Ateng dalam rilis berita resmi statistik, Rabu (1/4/2026).

Inflasi bulanan Maret 2026 juga tercatat turun dibandingkan Februari 2026 yang sebesar 0,68% (MtM).

Secara tahunan, kelompok pengeluaran penyumbang terbesar atau faktor penyebab inflasi Maret 2026 adalah perumahan air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga, dengan andil inflasi sebesar 1,08%.

Komoditas penyumbang inflasi utama kelompok ini adalah tarif listrik.

Kelompok pengeluaran lain yang mengalami inflasi tahunan adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya. Inflasinya cukup tinggi, yakni 15,32% dan memberikan andil 1,02%.

"Inflasi [tahunan] pada kelompok tersebut terutama terjadi pada komoditi emas perhiasan," ujar Ateng.

Sebelumnya, Tim Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) memproyeksikan tingkat inflasi di level 0,62% (MtM) pada Maret 2026.

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan, perlambatan laju inflasi pada bulan ini sebagian besar didorong oleh tren penurunan harga emas di pasaran. Kendati demikian, tekanan akibat kenaikan harga pangan selama momentum Ramadan diakui masih terus berlanjut.

"Secara tahunan, inflasi umum [headline inflation] diproyeksikan melandai ke 3,70% YoY, dibandingkan dengan 4,76% YoY pada Februari 2026, yang mencerminkan normalisasi dari efek basis rendah [low base effect] pada tahun lalu," jelas Andry dalam laporan Macro Preview, Selasa (31/3/2026).

Lebih lanjut, tim ekonom Bank Mandiri memperkirakan inflasi inti (core inflation) akan bergerak moderat ke level 0,3% (MtM), lebih rendah dari posisi 0,42% pada bulan sebelumnya.

Menurut Asmo, kendati aktivitas belanja masyarakat selama Ramadan terpantau menguat seperti yang tercermin dari kenaikan indikator Mandiri Spending Index (MSI) sekitar 1,31% (MtM), penurunan harga emas sebesar 0,89% MoM lebih kuat meredam tekanan inflasi inti.

Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk. (BNLI) Josua Pardede memprediksi laju inflasi Maret 2026 akan melandai ke level 3,71% (YoY), turun dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya yang menembus 4,76%.

Josua menjelaskan bahwa meredanya laju inflasi tahunan ini utamanya didorong oleh hilangnya low base effect dari kebijakan diskon tarif listrik yang berlaku pada Januari—Februari tahun lalu. Akibatnya, angka pembanding tahunan menjadi lebih normal.

"Artinya, meskipun periode Ramadan dan Idulfitri biasanya mendorong kenaikan harga pangan, perjalanan, dan rekreasi, dorongan itu kali ini tidak cukup kuat untuk menahan penurunan laju inflasi tahunan," ujarnya kepada Bisnis, Selasa (31/3/2026).

Ke depan, Josua memberikan catatan risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga potensi penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri apabila harga minyak mentah global melonjak lebih tajam.

#inflasi-maret-2026 #inflasi-tahunan #inflasi-bulanan #ramadan-inflasi #idulfitri-inflasi #ihk-maret-2026 #inflasi-perumahan #tarif-listrik-inflasi #inflasi-emas #inflasi-pangan #inflasi-headline #infl

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260401/9/1963604/inflasi-maret-2026-turun-walau-ada-ramadan-dan-lebaran-ini-data-lengkapnya