Kementerian ESDM proyeksikan harga tembaga naik hingga tahun 2032
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga tembaga akan naik sampai dengan tahun 2032 yang disebabkan oleh ketimpangan antara ...
(Antara) 07/04/26 17:46 184229
Jakarta (ANTARA) - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memproyeksikan harga tembaga akan naik sampai dengan tahun 2032 yang disebabkan oleh ketimpangan antara pasokan dan permintaan (supply and demand).
“Sampai dengan tahun 2032, maka suplai tembaga dibanding dengan demand tembaga itu sudah mulai nggak imbang, maka harga pasti naik,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batu bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno dalam acara bertajuk “Unlocking Growth in The Middle Income Trap” di Jakarta, Selasa.
Berdasarkan data London Metal Exchange, harga tembaga pada 2022 berada di kisaran 7 ribu hingga sekitar 8 ribu dolar AS per ton. Harga tersebut lebih rendah apabila dibandingkan dengan harga tembaga pada 2026 yang sempat mencapai level 13 ribu dolar AS per ton pada rentang Januari–Februari 2026.
Proyeksi serupa juga berlaku untuk bahan baku lainnya, sehingga Tri memandang industri pertambangan masih memiliki peluang untuk berkembang ke depannya, utamanya melalui industrialisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Tri juga mengingatkan bahwasanya negara-negara yang saat ini merupakan negara maju, misalkan negara-negara G7, memanfaatkan bonus demografi dengan melakukan industrialisasi.
“Material berupa bahan baku dan lain sebagainya itu masih diperlukan bagi negara-negara di dunia ini. Kecuali mereka menggunakan daur ulang, pasti industri ini (pertambangan) masih dibutuhkan ke depannya,” ujar Tri.
Pernyataan tersebut menanggapi permasalahan deindustrialisasi yang dikhawatirkan mengganggu kebijakan hilirisasi Indonesia. Tri optimistis Indonesia masih memiliki peluang ke depannya.
Selain memiliki bahan baku, Tri juga menyampaikan pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia juga menjadi perhatian pemerintah untuk mendukung industrialisasi di Indonesia, sehingga Indonesia tidak terjebak di dalam middle income trap.
“Pengembangan untuk SDM itu sendiri, sekarang ini sudah mulai. Sudah mulai berkembang,” ucap Tri.
Diwartakan sebelumnya, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim menyampaikan fenomena deindustrialisasi ditandai dengan penurunan pertumbuhan industri, PHK serta ketergantungan impor, yang berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi.
Deindustrialisasi dini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi jangka panjang karena produktivitas sektor jasa lebih rendah dibandingkan manufaktur.
Untuk itu, dia juga menyarankan agar pemerintah memperkuat kebijakan terkait pendidikan vokasi dan pelatihan kerja industri.
Pewarta: Putu Indah Savitri
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
#harga-tembaga #proyeksi-harga-tembaga #kementerian-esdm #middle-income-trap