ADB: Guncangan Energi dan Perdagangan Bayangi Pertumbuhan Ekonomi Asia
Perekonomian Asia dan Pasifik memasuki tahun 2026 dengan tantangan baru di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
(Kompas.com) 13/04/26 15:33 189745
JAKARTA, KOMPAS.com — Perekonomian Asia dan Pasifik memasuki tahun 2026 dengan tantangan baru di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, hingga tekanan pada pasar keuangan, menjadi faktor eksternal yang langsung membayangi prospek pertumbuhan ekonomi kawasan.
Meski demikian, Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) dalam laporan Asian Development Outlook (ADO) April 2026 mencatat, kawasan ini tetap menunjukkan ketahanan awal yang relatif kuat, ditopang oleh konsumsi domestik dan aktivitas ekonomi yang masih solid pada tahun sebelumnya.
NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.ADB menyatakan, perekonomian Asia dan Pasifik memasuki periode penuh tekanan baru seiring eskalasi konflik di Timur Tengah pada 28 Februari 2026.
Konflik tersebut mengganggu fasilitas produksi energi dan jalur transportasi energi global utama melalui Selat Hormuz, yang segera memicu lonjakan harga energi global.
Harga minyak mentah Brent melonjak dari kisaran rendah 70 dollar AS per barrel sebelum konflik menjadi hampir 120 dollar AS per barrel pada puncaknya, sebelum stabil di atas 100 dollar AS hingga pertengahan Maret 2026.\'
Bahkan, harga acuan minyak mentah Dubai dan Oman meningkat lebih tajam, menandakan gangguan pasokan yang lebih besar bagi pasar Asia.
Kondisi ini menempatkan kawasan berkembang Asia dan Pasifik (developing Asia and the Pacific/DAP) dalam posisi rentan.
Meski keterkaitan perdagangan langsung dengan Timur Tengah relatif terbatas, kawasan ini sangat bergantung pada impor energi dan terhubung erat dengan jaringan perdagangan global.
PIXABAY/TED ERSKI Ilustrasi kapal tanker. Jalur perdagangan minyak tersibuk di dunia.Dampaknya merambat melalui harga energi, biaya logistik, penerbangan, hingga kondisi keuangan global.
ADB mencatat, Selat Hormuz menjadi titik kritis. Jalur ini mengangkut lebih dari 25 persen perdagangan minyak laut global dan sekitar 20 persen konsumsi minyak serta LNG dunia, dengan lebih dari 80 persen menuju pasar Asia.
Ketika konflik mengganggu jalur tersebut, risiko tidak hanya pada pasokan energi, tetapi juga pada biaya pengiriman, waktu distribusi, dan kepercayaan pasar.
Ketahanan awal: pertumbuhan tetap kuat pada 2025
Sebelum tekanan geopolitik meningkat, kawasan Asia Pasifik menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. ADB mencatat, pertumbuhan ekonomi regional meningkat menjadi 5,4 persen pada 2025, dari 5,3 persen pada 2024.
“DAP memasuki masa-masa sulit dari posisi yang kuat, dengan pertumbuhan yang tetap kokoh dan sedikit meningkat menjadi 5,4 persen pada tahun 2025,” tulis laporan tersebut.
Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh konsumsi domestik yang kuat. Permintaan rumah tangga mampu mengimbangi lemahnya investasi dan kontribusi ekspor.
Kinerja ekspor sendiri sempat terdorong oleh tingginya permintaan global terhadap produk berbasis kecerdasan buatan (AI), serta percepatan pengiriman sebelum kenaikan tarif Amerika Serikat.
Namun, peningkatan impor barang modal dan komponen menekan kontribusi ekspor bersih. Di sisi lain, investasi melemah akibat tekanan pasar properti di China dan ketidakpastian perdagangan global.
Secara subregional, dinamika pertumbuhan bervariasi. Asia Selatan mencatat akselerasi pertumbuhan dari 6,4 persen menjadi 6,8 persen, terutama didorong konsumsi di India.
Asia Timur berkembang tumbuh stabil 5 persen, sementara Asia Tenggara sedikit melambat ke 4,8 persen akibat berbagai kendala domestik.
SHUTTERSTOCK/APCHANEL Ilustrasi ekspor.Perlambatan bertahap: dampak melemahnya perdagangan
Memasuki paruh kedua 2025, pertumbuhan mulai melambat seiring melemahnya momentum perdagangan.
Pertumbuhan ekonomi kawasan berkembang Asia dan Pasifik turun dari 5,5 persen pada semester I menjadi 5,4 persen pada semester II 2025.
Penurunan ini terutama dipicu oleh berkurangnya kontribusi ekspor. Di China, pertumbuhan melambat dari 5,3 persen menjadi 4,7 persen, sejalan dengan penurunan ekspor meskipun ekspor elektronik tetap kuat.
Di beberapa negara lain, pola serupa terjadi. Thailand dan Malaysia mencatat kontribusi negatif dari ekspor, sementara Turkiye mengalami penurunan ekspor bahan bakar.
Sebaliknya, Indonesia dan Filipina masih mencatat kontribusi positif berkat permintaan global terhadap elektronik dan diversifikasi pasar ekspor.
Di India, peningkatan ekspor barang dan jasa berhasil mengimbangi kenaikan impor, sehingga kontribusi ekspor bersih relatif netral terhadap pertumbuhan.
Konsumsi tetap menjadi penopang utama
Di tengah melemahnya perdagangan, konsumsi domestik tetap menjadi motor pertumbuhan utama. India mencatat lonjakan pertumbuhan konsumsi dari 6,9 persen menjadi 8,1 persen pada paruh kedua 2025.
Namun, di China, konsumsi melemah akibat turunnya kepercayaan konsumen, efek negatif dari penurunan harga properti, serta berkurangnya dampak stimulus sebelumnya.
SHUTTERSTOCK/ODUA IMAGES Ilustrasi optimisme konsumen meningkatBeberapa negara seperti Indonesia, Malaysia, dan Turkiye mengalami penguatan konsumsi berkat dukungan kebijakan pemerintah dan kondisi pasar tenaga kerja yang membaik.
Sebaliknya, Filipina mengalami perlambatan konsumsi akibat cuaca ekstrem dan penyesuaian belanja pemerintah.
Investasi dan industri: pola yang tidak merata
Kinerja investasi di kawasan menunjukkan variasi signifikan. India menjadi pendorong utama melalui lonjakan investasi publik dan swasta.
Meski demikian, di sejumlah negara lain, pembentukan modal tertekan oleh kendala domestik dan fluktuasi inventori.
Di China, investasi aset tetap bahkan mengalami kontraksi tajam, khususnya di sektor properti, seiring melemahnya kepercayaan bisnis.
Sementara itu, sektor industri menunjukkan tren campuran. Produksi industri melambat di China dan Thailand, tetapi meningkat di sejumlah negara lain seperti Viet Nam dan Malaysia, terutama pada sektor elektronik dan otomotif.
ADB juga mencatat indikator awal pada awal 2026 menunjukkan potensi pemulihan aktivitas manufaktur. Indeks PMI manufaktur berada di atas 50 di sebagian besar ekonomi, menandakan ekspansi.
Inflasi melandai, lalu kembali naik
Dari sisi harga, inflasi regional menunjukkan tren penurunan sepanjang 2025 sebelum kembali meningkat menjelang akhir tahun. Inflasi turun dari 4,5 persen pada 2024 menjadi 3,0 persen pada 2025, terutama karena turunnya harga energi dan pangan.
Namun, tekanan inflasi kembali muncul pada akhir 2025 dan awal 2026 akibat kenaikan harga pangan dan energi.
Harga beras Thailand mencapai 424 dollar AS per ton pada Desember 2025, tertinggi sejak Mei tahun tersebut, didorong oleh permintaan ekspor, kebijakan domestik, serta gangguan pasokan akibat banjir.
freepik.com Ilustrasi beras.Selain itu, harga gandum global meningkat karena gangguan pasokan dari kawasan Laut Hitam dan kondisi cuaca buruk di negara produsen utama. Di China, harga buah dan sayuran juga melonjak signifikan menjelang akhir tahun.
Guncangan baru: energi, logistik, dan keuangan
Konflik Timur Tengah memperburuk tekanan yang sudah ada. Selain harga energi, gangguan juga terjadi pada rantai pasok global, termasuk pengiriman bahan baku penting seperti helium, sulfur, dan produk petrokimia yang dibutuhkan industri semikonduktor.
Gangguan jalur penerbangan antara Asia dan Eropa juga berpotensi menekan sektor pariwisata, sementara aliran remitansi dari Timur Tengah dapat melambat.
Di sektor keuangan, kondisi juga mengetat. ADB menyatakan, setelah relatif stabil pada awal tahun, pasar keuangan melemah dengan meningkatnya volatilitas, penurunan harga saham, kenaikan yield obligasi, serta depresiasi mata uang regional terhadap dollar AS.
Prospek: moderasi pertumbuhan dengan ketidakpastian tinggi
Dalam skenario stabilisasi awal, ADB memproyeksikan pertumbuhan kawasan Asia dan Pasifik sebesar 5,1 persen pada 2026 dan 2027, sedikit lebih rendah dari 2025.
Namun, jika gangguan berlangsung lebih lama hingga kuartal III 2026, pertumbuhan dapat turun menjadi 4,7 persen pada 2026 dan 4,8 persen pada 2027.
Inflasi juga berpotensi meningkat signifikan. Dalam skenario gangguan berkepanjangan, inflasi dapat mencapai 5,6 persen pada 2026, jauh di atas proyeksi dasar 3,6 persen.
ADB menegaskan bahwa ketidakpastian tetap sangat tinggi.
SHUTTERSTOCK/NUMBER1411 Ilustrasi pertumbuhan ekonomi Indonesia.“Proyeksi ini masih memiliki tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi,” tulis lembaga tersebut dalam laporannya.
Selain konflik, ketidakpastian perdagangan global juga menjadi risiko tambahan. Kebijakan tarif baru Amerika Serikat dan potensi eskalasi tensi perdagangan dapat mengganggu investasi dan permintaan eksternal di kawasan.
Tekanan yang lebih besar dalam skenario krisis
Dalam skenario krisis yang lebih berat, dampaknya akan jauh lebih signifikan. Harga minyak bisa mencapai 155 dollar AS per barel pada kuartal II 2026 dan tetap tinggi hingga 2027.
Kondisi ini akan meningkatkan biaya produksi dan transportasi, menekan daya beli masyarakat, serta memperlambat pertumbuhan secara lebih tajam.
Secara keseluruhan, pertumbuhan regional dapat lebih rendah 1,3 poin persentase dan inflasi lebih tinggi 3,2 poin persentase dibanding skenario dasar.
Gangguan rantai pasok dan pengetatan kondisi keuangan berpotensi memperburuk dampak tersebut, terutama bagi negara dengan tingkat utang tinggi dan ketergantungan eksternal yang besar.
Di tengah dinamika tersebut, prospek ekonomi kawasan Asia dan Pasifik tetap berada dalam bayang-bayang ketidakpastian yang tinggi.
Berbagai skenario yang disusun menunjukkan bahwa arah pertumbuhan dan inflasi sangat bergantung pada durasi serta intensitas konflik, di samping perkembangan kebijakan perdagangan global.
Dengan tekanan yang bersifat eksternal dan berlapis, kinerja ekonomi Asia dan Pasifik ke depan akan terus ditentukan oleh kemampuan kawasan dalam merespons guncangan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan yang telah terbentuk.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pertumbuhan-ekonomi #selat-hormuz #asia-pasifik #adb #perekonomian #indepth #konflik-di-timur-tengah