Hambatan Penerapan Taksi Air untuk Tekan Angka Kemacetan di Bali

Hambatan Penerapan Taksi Air untuk Tekan Angka Kemacetan di Bali

Proyek taksi air di Bali menghadapi tantangan rendahnya minat masyarakat terhadap transportasi umum, kondisi perairan ekstrem, dan kebutuhan investasi besar.

(Bisnis.Com) 16/04/26 09:20 192932

Bisnis.com, JAKARTA — Rendahnya minat masyarakat di Bali untuk menggunakan transportasi umum dinilai menjadi hambatan terbesar bagi pemerintah dalam mengurai kemacetan menggunakan water taxi atau taksi air.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat keberadaan alternatif transportasi berupa water taxi atau taksi air dipercaya bakal memangkas waktu tempuh antara Bandara I Gusti Ngurah Rai ke wilayah Canggu dari 2 jam menjadi 30 menit saja.

Studi kelayakan awal menunjukkan proyek ini tidak hanya bergantung pada kesiapan infrastruktur, tetapi juga pada perubahan perilaku transportasi wisatawan dan masyarakat lokal yang hingga kini masih bertumpu pada kendaraan pribadi.

Hasil survei primer dari studi kelayakan (feasibility study/FS) terhadap 1.271 responden pada Agustus 2025 mencatat kawasan Canggu menjadi salah satu destinasi dengan minat tertinggi, dipilih oleh 204 responden atau sekitar 16%.

Minat ini datang dari wisatawan domestik sebanyak 13% dari total 430 responden, dan 17,67% wisatawan mancanegara dari total 841 responden.

Di sisi teknis, kondisi perairan di sekitar Bandara I Gusti Ngurah Rai (Pantai Sekeh) dan kawasan Canggu (Pantai Berawa) tergolong ekstrem dengan gelombang dan arus tinggi.

Untuk itu, kedua lokasi tersebut mutlak pembangunan fasilitas penahan gelombang atau breakwater untuk menjamin keselamatan pelayaran sepanjang tahun. Tanpa perlindungan tersebut, operasional pelabuhan dinilai sulit berjalan optimal selama 12 bulan.

Direktur Jenderal Perhubungan Muhammad Masyhud mengatakan bahwa kondisi alam menjadi faktor kunci dalam desain proyek. “Kalau tanpa perlindungan pelabuhan dermaga dia hampir sulit untuk 12 bulan dalam satu tahun itu terpakai, tapi kalau pakai perlindungan insya Allah bisa jadi jalan terus,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Desain awal memperlihatkan dua opsi lokasi utama, yakni kawasan Bandara (Sekeh) dan Canggu (Berawa), dengan karakteristik berbeda.

Di Sekeh, keunggulan terletak pada minimnya potensi sedimentasi dan material konstruksi yang relatif lebih murah. Namun, area ini menghadapi keterbatasan kapasitas serta risiko navigasi yang lebih tinggi bagi kapal.

Sementara itu, kawasan Canggu menawarkan material yang relatif lebih murah dan kemampuan menahan gelombang ekstrem, tetapi menghadapi tantangan sedimentasi yang berpotensi meningkatkan kebutuhan pengerukan. Selain itu, terdapat risiko konflik lahan dan kewajiban penyelesaian aspek legal, termasuk penguasaan tanah dan dokumen lingkungan.

Estimasi kebutuhan investasi awal untuk skenario pengembangan mencapai Rp1,21 triliun. Komponen terbesar berasal dari pengadaan kapal senilai Rp375 miliar, diikuti pengadaan tanah pelabuhan Rp315 miliar, serta pembangunan infrastruktur darat sekitar Rp312,98 miliar.

Sementara sisanya, mencakup pekerjaan mekanikal dan elektrikal Rp176,05 miliar serta fixture dan furniture Rp31,07 miliar.

Di sisi pelaksanaan, pemerintah sejak 2025 telah menugaskan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) untuk menggarap proyek tersebut bersama PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports).

Pembagian tugasnya, ASDP sebagai penyedia infrastruktur pelabuhan di kawasan bandara, sementara InJourney Airports mendapatkan mandat untuk memfasilitasi dan mendukung penyediaan sumber daya yang dibutuhkan dalam proses penyusunan kajian perencanaan terkait water taxi termasuk opsi pembiayaan penyediaan infrastruktur kepelabuhan.

Terkini, proses masih berada pada tahap penyusunan detail engineering design (DED) yang ditargetkan rampung pada Agustus 2026.

Dia menambahkan, proses desain juga diselaraskan dengan proyek penataan pantai oleh Kementerian Pekerjaan Umum di kawasan Canggu yang tengah mengalami abrasi. Area hasil reklamasi direncanakan menjadi bagian dari lokasi pelabuhan.

“Jadi kita sudah koordinasi desain dengan PU supaya area yang dia uruk itu nantinya kami gunakan untuk area pelabuhan dermaga,” ujarnya.

Melihat lini masa atau timeline pembangunan infrastruktur water taxi oleh ASDP, pekerjaan fisik ditargetkan mulai setelah seluruh perizinan dan perencanaan teknis rampung.

Urgensi Alternatif Transportasi

Kebutuhan alternatif transportasi di tengah kemacetan tersebut menjadi penting, mengingat jumlah kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun nusantara, terus meningkat setiap tahunnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Indonesia melalui pintu utama Bandara I Gusti Ngurah Rai mencapai 6,9 juta kunjungan per 2025.

Jumlah tersebut telah melampaui capaian pada 2019 atau sebelum pandemi Covid-19, yang mencapai 6,23 juta.

Serupa, jumlah wisatawan nusantara (wisnus) juga tercatat telah mencapai 26,6 juta kunjungan pada 2025 atau meningkat 17,5% dari 2024 yang sebanyak 22,64 juta kunjungan.

Sebelumnya, Kementerian Perhubungan juga menungkapkan rencana pembangunan kereta mass rapid transit (MRT) di Bali. Namun, tampaknya masih lama terwujud karena belum ada investor yang melirik proyek tersebut.

Padahal, proyek tersebut sempat dijadwalkan memasuki tahap groundbreaking pada September 2024 dengan kontraktor PT Sarana Bali Dwipa Jaya.


Bukan Solusi Tunggal

Di samping persiapan water taxi yang telah dilakukan sejak tahun lalu, Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno justru menyoroti keberadaan angkutan umum yang seharusnya menjadi solusi kemacetan.

Dia menilai budaya penggunaan angkutan umum di Bali masih rendah, meski telah ada Trans Metro Dewata. Djoko tak heran, pasalnya headway bus masih cukup lama, yakni setiap 20 menit dan beroperasi tak sampai pukul 19.00 waktu setempat.

“Ini kan lama, 10 menit, kalau 5 sampai 10 menit kan cepat. Jadi budaya naik angkutan umum itu belum ada di sana,” ujarnya.

Kondisi ini pula membuat kebijakan pembatasan kendaraan pribadi tidak efektif tanpa diimbangi layanan alternatif yang memadai.

Djoko juga menilai potensi pasar untuk water taxi lebih besar berasal dari wisatawan asing, itu pun jika tarifnya dalam batas wajar.

Terkati proyeksi tarif maupun tantangan perkembangan terkini proyek tersebut, Corporate Secretary ASDP Windy Andale belum merespons pertanyaan Bisnis.

Dengan kombinasi tantangan teknis, kebutuhan investasi besar, serta rendahnya adopsi angkutan umum, proyek water taxi di Bali masih menghadapi pekerjaan rumah yang signifikan sebelum dapat beroperasi optimal dan berkelanjutan.

#water-taxi #taksi-air #bandara-i-gusti-ngurah-rai #canggu #transportasi-umum-bali #kemacetan-bali #wisatawan-mancanegara #wisatawan-domestik #infrastruktur-pelabuhan #proyek-water-taxi #investasi-tran

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260416/98/1967023/hambatan-penerapan-taksi-air-untuk-tekan-angka-kemacetan-di-bali