Ekonomi RI Dapat Sinyal Positif tapi Dana Asing Masih Seret, Begini Potret Pasar Modal Saat Ini

Ekonomi RI Dapat Sinyal Positif tapi Dana Asing Masih Seret, Begini Potret Pasar Modal Saat Ini

Di balik sentimen positif ekonomi RI, realisasi investasi asing dalam jangka pendek dinilai masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Apa saja?

(Kompas.com) 17/04/26 05:00 193998

JAKARTA, KOMPAS.com - Sinyal positif dari lembaga internasional dan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia mulai menguat.

Hal itu setelah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melakukan pertemuan dengan International Monetary Fund (IMF), Bank Dunia, lembaga pemeringkat, serta sejumlah investor global di Washington DC, Amerika Serikat (AS).

Indonesia dinilai mampu menjaga keseimbangan antara akselerasi pertumbuhan ekonomi dan kehati-hatian fiskal di bawah pemerintahan Prabowo Subianto. Penilaian ini menjadi sinyal penting bagi pasar keuangan, khususnya di tengah dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian.

Purbaya optimistis, kepercayaan tersebut akan segera diterjemahkan menjadi arus modal asing (capital inflow) ke dalam negeri, baik ke instrumen pendapatan tetap maupun pasar saham.

“Harusnya sih, enggak lama lagi (arus modal) akan masuk ke Indonesia dan akan mendorong pasar modal Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi,” ujar Purbaya dalam video pendek, dikutip dari keterangan resmi Kamis (16/4/2026).

Optimisme tersebut membuka ruang bagi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), terutama pada sektor-sektor unggulan seperti perbankan, energi, dan komoditas. Dalam pola historis, masuknya dana asing kerap menjadi pendorong utama reli pasar saham domestik.

Namun, di balik sentimen positif tersebut, realisasi investasi asing dalam jangka pendek dinilai masih menghadapi tantangan yang tidak ringan.

Ekonom Indef, Tauhid Ahmad, menilai pertemuan pemerintah dengan lembaga global memang penting dalam membangun persepsi positif, tetapi belum cukup kuat untuk langsung membalikkan tren arus modal yang masih cenderung keluar saat ini.

Target realisasi investasi pada tahun ini dinilai masih menghadapi tekanan yang cukup besar dan belum sepenuhnya sejalan dengan optimisme yang dibangun pemerintah di level global. Kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh faktor eksternal yang hingga kini masih membebani pergerakan modal internasional.

Kenaikan harga minyak dunia menjadi salah satu variabel utama yang meningkatkan ketidakpastian, karena berdampak langsung terhadap inflasi dan biaya produksi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

KOMPAS.com/NIRMALA MAULANA A Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad di Senayan Park, Jakarta Pusat, Kamis (19/9/2024).
Selain itu, dinamika perjanjian perdagangan antarnegara yang belum sepenuhnya stabil turut menahan ekspansi investasi, mengingat investor global cenderung menunggu kepastian arah kebijakan sebelum melakukan penempatan dana dalam skala besar.

Di sisi lain, kondisi domestik juga belum sepenuhnya kuat untuk menjadi penopang masuknya investasi. Pertumbuhan ekonomi yang relatif moderat serta persepsi terhadap rating kredit Indonesia masih menjadi pertimbangan penting bagi investor global.

“Kalau tahun ini (realisasi investasi) rasanya masih cukup berat sebenarnya ya. Kenapa tahun ini agak berat? Saya lebih cenderung punya prospeknya di tahun depan. Pertama, situasi tekanan global yang mempengaruhi kita, kenaikan harga minyak, perjanjian perdagangan, termasuk juga kelemahan ekonomi domestik, termasuk misalnya soal rating misalnya, itu tetap masih pengaruh,” ujar Tauhid saat dihubungi Kompas.com, Kamis (16/4/2026).

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 pun dinilai masih berada di kisaran 5 persen, atau di bawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Dengan kondisi tersebut, ruang untuk menarik investasi dalam jumlah besar masih terbatas, terlebih di tengah kompetisi global yang semakin ketat.

“2026 (pertumbuhan ekonomi) masih sekitar 5 persen ya, paling tinggi kan 5 persen. Jadi ini masih di bawah pemerintah, yang memerintah kan 5,4 persen,” paparnya.

Lebih jauh, Tauhid menilai hambatan utama investasi di Indonesia justru bersumber dari faktor internal. Ia menyoroti persoalan klasik seperti kepastian hukum, perizinan, hingga ketersediaan lahan yang masih menjadi keluhan utama investor.

Selain itu, kualitas infrastruktur dan kesiapan sumber daya manusia (SDM) juga dipandang belum sepenuhnya mendukung daya saing investasi nasional. Penurunan peringkat daya saing Indonesia menjadi indikator bahwa reformasi struktural masih perlu dipercepat.

Di sisi fiskal, tekanan juga belum sepenuhnya mereda. Kebutuhan belanja negara yang tinggi, termasuk subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM), membuat ruang fiskal menjadi terbatas. Defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen turut menjadi perhatian investor, terutama dalam kaitannya dengan keberlanjutan fiskal dan potensi peningkatan peringkat kredit.

Kondisi ini berdampak langsung terhadap persepsi risiko investor asing di pasar saham. Tanpa adanya perbaikan fiskal yang signifikan, aliran dana asing berpotensi masuk secara terbatas atau bersifat jangka pendek.

Meski demikian, prospek jangka menengah tetap terbuka lebar. Jika pemerintah mampu memperbaiki konsistensi kebijakan, meningkatkan efisiensi tata kelola, serta mempercepat pembangunan infrastruktur, terutama di kawasan industri dan ekonomi khusus, Indonesia berpeluang menjadi magnet investasi di kawasan.

Selain itu, reformasi di pasar modal yang saat ini tengah berjalan, termasuk peningkatan transparansi dan perbaikan struktur kepemilikan, juga dinilai dapat meningkatkan daya tarik IHSG di mata investor global.

Realisasi investasi kuartal I-2026 tembus Rp 497 Triliun

KOMPAS.com/ZINTAN CEO BPI Danantara Indonesia, Rosan Roeslani (kanan) menjelaskan proyek PSEL, Selasa (14/4/2026).
Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani melaporkan bahwa realisasi investasi selama kuartal I-2026 mencapai Rp 497 triliun. Jika dibandingkan realisasi ini lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu yakni Rp 465 triliun.

Jika dibandingkan realisasi ini lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu yakni Rp 465 triliun.

Artinya realisasi investasi pada kuartal I-2026 ini mencerminkan kontribusi sebesar 24,3 persen terhadap target investasi nasional di sepanjang tahun ini.

“Pada triwulan pertama ini bisa kami capai yaitu sebesar Rp 497 triliun berarti tumbuh (sekitar) 7 persen secara tahunan," ujar Rosan dalam rapat bersama Komisi XII DPR, Senin (13/4/2026).

Ia menjelaskan 30,2 persen atau Rp 150,1 triliun dari total investasi Januari-Maret 2026 itu berasal dari proyek penghiliran atau hilirisasi sumber daya alam (SDA). CEO Danantara ini juga menjelaskan raihan investasi, masih didominasi oleh Singapura, China, Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS).

Jika dilihat dari sisi serapan tenaga kerja, realisasi investasi tersebut diperkirakan telah menyerap sebanyak 627.036 tenaga kerja. Jumlah itu tumbuh 5,5 persen (year on year/YoY) dari periode yang sama tahun lalu yakni 594.104 tenaga kerja.

Ia menyebut, raihan realisasi investasi ini masih bersifat sementara karena pemerintah masih menunggu data final hingga pertengahan April.

Rosan yakin berdasarkan perkembangan yang ada, target investasi pada tiga bulan pertama tahun ini diyakini dapat tercapai. Ia mengaku, meskipun kondisi geopolitik global masih penuh tantangan, minat investor untuk menanamkan modal di Indonesia tetap terjaga.

Stabilitas politik, keamanan, serta iklim investasi yang dinilai kondusif menjadi faktor utama yang menarik minat investor global. Menurutnya, target investasi nasional pada 2026 ditetapkan sebesar Rp 2.041,3 triliun.

Target tersebut mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 117 Tahun 2025 tentang Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2026.

Dalam jangka panjang, pemerintah juga menargetkan akumulasi investasi mencapai sekitar Rp 13.032,8 triliun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional sesuai arah pembangunan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#ekonomi-ri #wrapup

https://money.kompas.com/read/2026/04/17/050000726/ekonomi-ri-dapat-sinyal-positif-tapi-dana-asing-masih-seret-begini-potret