Proyek Listrik Fosil 5 GW Microsoft untuk AI Menuai Kritik
Microsoft menghadapi kritik atas proyek listrik 5 GW berbasis gas metana untuk AI, yang dinilai bertentangan dengan komitmen lingkungan dan dapat meningkatkan emisi karbon.
(Bisnis.Com) 17/04/26 11:30 194339
Bisnis.com, JAKARTA — Langkah Microsoft menjalin kesepakatan senilai sekitar US$7 miliar atau Rp119 triliun untuk menggunakan gas metana sebagai sumber energi utama pusat data AI menuai kritikan tajam. Microsoft dinilai tidak konsisten dengan semangat bisnis keberlanjutan yang mereka kampanyekan selama ini.
Microsoft diketahui telah menyiapkan proyek pembangkit listrik berbasis gas metana dengan total kapasitas hampir 5 gigawatt. Salah satu kerja sama utamanya dilakukan dengan perusahaan energi Chevron untuk membangun fasilitas besar di Texas, serta beberapa lokasi lain di Amerika Serikat.
Namun, keputusan ini dinilai bertentangan dengan komitmen lingkungan yang sebelumnya digaungkan Microsoft. Menurut laporan Stand.earth Research Group yang dikutip dari Tech Radar Jumat (17/4/2026), proyek-proyek tersebut berpotensi meningkatkan emisi karbon pusat data Microsoft hingga 160% pada tahun 2028, atau setara dengan lebih dari 25 juta ton karbon dioksida.
Senior Corporate Climate Campaigner di Stand.earth Rachel Kitchin, menyebut Microsoft selama ini gencar mengklaim komitmennya terhadap isu iklim, sehingga keputusan kembali ke bahan bakar fosil terasa sangat bertolak belakang.
Padahal, sejak 2020 Microsoft telah berjanji akan menjadi perusahaan negatif karbon pada tahun 2030. Kenyataannya, emisi perusahaan justru meningkat sekitar 30% dalam beberapa tahun terakhir. Meski begitu, Presiden Microsoft Brad Smith tetap optimistis target tersebut bisa tercapai.
Lonjakan penggunaan gas metana juga terjadi sangat cepat. Jika pada 2024 pusat data hanya menyumbang sekitar 5% dari permintaan gas metana di AS, angka itu melonjak menjadi 39% hanya dalam setahun. Hal ini terjadi karena kebutuhan energi untuk melatih dan menjalankan model AI jauh lebih cepat berkembang dibandingkan pembangunan energi terbarukan.
Di sisi lain, penggunaan gas metana ini juga menimbulkan kekhawatiran tambahan. Beberapa analis menilai meningkatnya permintaan energi dari pusat data dapat mendorong naiknya tarif listrik bagi masyarakat. Bahkan, penelitian menunjukkan penggunaan bahan bakar fosil di sekitar pusat data bisa berdampak pada kesehatan masyarakat dan meningkatkan biaya kesehatan hingga puluhan juta dolar.
Selain itu, pusat data juga dapat meningkatkan suhu di sekitarnya, yang pada akhirnya membuat kebutuhan pendinginan rumah meningkat dan berdampak pada tagihan listrik.
Microsoft sendiri menyatakan mereka mampu memenuhi 100% kebutuhan listriknya dari energi terbarukan. Namun, klaim ini dinilai kurang akurat karena tidak semua energi tersebut langsung digunakan oleh pusat data mereka. (Nur Amalina)
#microsoft-proyek-listrik #gas-metana-microsoft #pusat-data-ai #microsoft-dan-chevron #emisi-karbon-microsoft #microsoft-energi-fosil #microsoft-keberlanjutan #microsoft-negatif-karbon #microsoft-dan-l