Rupiah Masuk 10 Mata Uang Terlemah Dunia, Tertekan Sentimen Fiskal?

Rupiah Masuk 10 Mata Uang Terlemah Dunia, Tertekan Sentimen Fiskal?

Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan global setelah masuk dalam daftar mata uang terlemah di dunia pada 2026.

(Kompas.com) 20/04/26 15:59 196786

JAKARTA, KOMPAS.com – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan global setelah masuk dalam daftar mata uang terlemah di dunia pada 2026.

Di tengah dinamika ekonomi global dan kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan domestik, tekanan terhadap rupiah dinilai belum mereda.

Laporan Forbes Advisor menempatkan rupiah sebagai salah satu dari 10 mata uang dengan nilai terendah terhadap dollar AS.

Shutterstock/Pramata Ilustrasi rupiah.

Pada Senin (20/4/2026), kurs rupiah berada di level Rp 17.141 per dollar AS

Penilaian ini didasarkan pada jumlah unit mata uang yang dibutuhkan untuk memperoleh satu dollar AS, bukan pada kekuatan fundamental ekonomi suatu negara.

Namun demikian, posisi tersebut tetap mencerminkan tekanan nilai tukar yang sedang berlangsung.

Di sisi lain, laporan dari Fitch Solutions menilai pelemahan rupiah berpotensi berlanjut, seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan pemerintah.

Tekanan ini juga diperkuat oleh sentimen pasar terhadap pelebaran defisit anggaran dan ketidakpastian kebijakan ekonomi.

Rupiah dalam daftar mata uang terlemah di dunia

Dalam daftar yang dirilis Forbes Advisor pada awal April 2026, rupiah berada di peringkat kelima mata uang terlemah di dunia setelah rial Iran, pound Lebanon, dong Vietnam, dan kip Laos.

PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.

Kondisi serupa juga terjadi pada sejumlah negara berkembang lain yang menghadapi tekanan inflasi, ketidakstabilan ekonomi, atau kebijakan moneter tertentu.

Forbes Advisor mencatat bahwa pelemahan rupiah terjadi akibat kombinasi faktor, termasuk inflasi tinggi dan kekhawatiran resesi.

Meski demikian, klasifikasi “mata uang lemah” ini tidak serta-merta mencerminkan lemahnya ekonomi secara keseluruhan. Penilaian tersebut lebih menitikberatkan pada nilai nominal tukar terhadap dollar AS.

Tekanan kebijakan dan sentimen pasar

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dikaitkan dengan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kebijakan fiskal pemerintah.

Analisis Fitch Solutions menyebutkan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh “government policy concerns” atau kekhawatiran terhadap arah kebijakan pemerintah, khususnya terkait disiplin fiskal dan kredibilitas kebijakan ekonomi.

Sentimen ini sejalan dengan laporan pasar yang menunjukkan bahwa investor mulai mencermati potensi pelebaran defisit anggaran negara. Kekhawatiran ini mendorong tekanan terhadap nilai tukar dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.

Rupiah melemah akibat kekhawatiran pasar terhadap pelebaran defisit APBN 2026. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah di tengah berbagai program belanja negara.

Defisit APBN dan dampaknya ke rupiah

Kekhawatiran terhadap fiskal menjadi salah satu faktor utama yang membayangi pergerakan rupiah.

Dikutip dari Reuters, data menunjukkan, defisit anggaran Indonesia sempat melebar hingga mendekati 2,9 persen dari produk domestik bruto (PDB), lebih tinggi dari target pemerintah sebelumnya.

PIXABAY/MOHAMAD TRILAKSONO Ilustrasi rupiah.

Kondisi ini memicu kekhawatiran mengenai keberlanjutan fiskal dan meningkatkan tekanan terhadap pasar obligasi maupun nilai tukar.

Reuters melaporkan, pelebaran defisit tersebut menjadi salah satu pemicu keluarnya modal asing dari pasar domestik.

Tekanan ini kemudian berdampak langsung pada pelemahan rupiah di pasar valuta asing.

Selain itu, muncul pula kekhawatiran terkait kemungkinan perubahan aturan fiskal, termasuk batas defisit yang selama ini dijaga di bawah 3 persen dari PDB.

Fitch bahkan menilai bahwa pelonggaran kerangka fiskal berpotensi melemahkan kredibilitas kebijakan dan meningkatkan risiko pembiayaan defisit di masa depan.

Faktor global dan aliran modal

Selain faktor domestik, pelemahan rupiah juga tidak terlepas dari dinamika global.

Bank Indonesia menilai bahwa pergerakan nilai tukar dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian pasar global, inflasi internasional, dan pergerakan suku bunga.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan bahwa secara fundamental, rupiah seharusnya berada dalam kondisi yang lebih stabil.

“Faktor-faktor fundamental seperti indikator inflasi, pertumbuhan ekonomi, imbal hasil menunjukkan bahwa rupiah seharusnya lebih stabil,” ujar Perry, mengutip warta Reuters.

Namun, tekanan global tetap mendominasi pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek, terutama akibat perubahan arus modal dan sentimen investor terhadap pasar negara berkembang.

Kondisi ini membuat rupiah menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia pada awal 2026.

SHUTTERSTOCK/MELIMEY Ilustrasi belanja pakai uang tunai atau cash.

Sensitivitas rupiah terhadap kebijakan

Rupiah dikenal sebagai mata uang yang relatif sensitif terhadap perubahan sentimen pasar, baik dari faktor global maupun domestik.

Kombinasi antara kebutuhan impor, arus modal asing, dan kebijakan fiskal membuat nilai tukar mudah terpengaruh oleh perubahan ekspektasi investor.

Kekhawatiran terhadap independensi bank sentral dan arah kebijakan ekonomi juga turut memperkuat tekanan tersebut.

Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas pasar dan pelemahan rupiah hingga mencapai level terendah dalam sejarah terhadap dollar AS pada awal 2026.

Struktur ekonomi dan nilai tukar

Meski berada dalam daftar mata uang terlemah, Indonesia tetap merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara dengan produk domestik bruto mencapai lebih dari 1,5 triliun dollar AS pada 2026.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang stabil di kisaran 5 persen juga menjadi salah satu faktor yang menunjukkan ketahanan ekonomi domestik.

Namun, struktur ekonomi yang masih bergantung pada komoditas dan impor tertentu membuat nilai tukar rentan terhadap fluktuasi global.

Selain itu, perbedaan suku bunga antara negara maju dan berkembang juga memengaruhi aliran modal, yang pada akhirnya berdampak pada nilai tukar.

Antara nilai nominal dan fundamental

Penempatan rupiah dalam daftar mata uang terlemah dunia menimbulkan perdebatan mengenai relevansi indikator tersebut.

Sebagaimana dicatat Forbes Advisor, ukuran yang digunakan hanya berdasarkan nilai nominal terhadap dollar AS, bukan kekuatan ekonomi secara menyeluruh.

PEXELS/POLINA TANKILEVITCH Ilustrasi rupiah, uang rupiah.

Dengan kata lain, mata uang dengan denominasi besar belum tentu mencerminkan kondisi ekonomi yang lemah.

Namun, dalam praktiknya, nilai tukar tetap menjadi indikator penting karena berpengaruh terhadap inflasi, biaya impor, serta stabilitas sektor keuangan.

Tekanan yang masih berlanjut

Ke depan, tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlanjut seiring kombinasi faktor global dan domestik.

Fitch menilai ketidakpastian kebijakan dan potensi pelebaran defisit menjadi risiko utama yang perlu dicermati oleh investor.

Sementara itu, dinamika global seperti inflasi dan suku bunga di negara maju juga akan terus memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Di tengah kondisi tersebut, stabilitas nilai tukar menjadi salah satu tantangan utama yang dihadapi otoritas ekonomi nasional.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#rupiah #kurs-rupiah #nilai-tukar-rupiah #pelemahan-rupiah #indepth #mata-uang-terlemah-di-dunia

https://money.kompas.com/read/2026/04/20/155913326/rupiah-masuk-10-mata-uang-terlemah-dunia-tertekan-sentimen-fiskal