Harga Bahan Baku Plastik Melonjak Imbas Konflik Timteng,  Industri Dipaksa Efisiensi

Harga Bahan Baku Plastik Melonjak Imbas Konflik Timteng, Industri Dipaksa Efisiensi

Kelangkaan dan lonjakan harga plastik akibat ketegangan geopolitik Timur Tengah menekan industri RI. Pelaku usaha dan pemerintah berupaya jaga pasokan dan stabilitas harga.

(Kompas.com) 21/04/26 20:34 198401

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah kelangkaan plastik akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, pelaku industri plastik hilir di Indonesia berupaya untuk bertahan di tengah tekanan kenaikan biaya produksi akibat lonjakan harga bahan baku.

Ketua Umum Asosiasi Biaxially Oriented Films Indonesia (ABOFI) Santoso Samudra mengatakan, kenaikan harga resin, yang sebagian besar masih bergantung pada pasar global, telah mendorong produsen untuk melakukan berbagai penyesuaian.

“Ini dilakukan mulai dari efisiensi operasional, optimalisasi penggunaan energi, pengadaan bahan baku dari impor hingga inovasi dalam formulasi produk agar tetap kompetitif di pasar,” kata Santoso dalam keterangan tertulis, Selasa (21/4/2026).

Adapun pasokan plastik global pada April 2026 tengah menghadapi tekanan berat akibat dinamika geopolitik yang memanas di kawasan Timur Tengah.

Penutupan jalur strategis seperti Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama terganggunya rantai pasok bahan baku petrokimia, khususnya nafta yang merupakan komponen penting dalam produksi plastik.

Kondisi ini langsung berdampak pada industri hilir di berbagai negara, termasuk Indonesia, yang masih bergantung pada stabilitas pasokan global.

Gangguan distribusi tersebut mendorong lonjakan harga bahan baku plastik secara signifikan.

Bahkan, pada sejumlah jenis produk, kenaikan harga dilaporkan bisa mencapai hingga dua kali lipat.

Fenomena ini memicu tekanan inflasi dari sisi biaya (cost-push inflation), mengingat plastik merupakan turunan langsung dari minyak bumi.

Ketika harga energi global naik, biaya produksi plastik ikut terdorong, dan pada akhirnya berimbas pada harga barang jadi di tingkat konsumen.

Dampaknya mulai dirasakan luas oleh pelaku usaha, terutama sektor usaha kecil dan menengah (UMKM) yang mengandalkan kemasan plastik untuk distribusi produk.

Kenaikan biaya bahan baku membuat margin usaha semakin tertekan, bahkan berpotensi mengganggu kelangsungan operasional.

Di tengah ketidakpastian yang masih berlangsung, pelaku industri dan pemerintah dihadapkan pada tantangan untuk menjaga stabilitas pasokan sekaligus menahan laju kenaikan harga agar tidak semakin membebani masyarakat.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kemasan Fleksibel Indonesia (ROTOKEMAS) Ferry Bunarjo mengatakan meski menghadapi tantangan tersebut, para pelaku industri tidak memilih untuk mengurangi kapasitas produksi secara signifikan.

Sebaliknya, mereka terus menjaga kesinambungan operasional guna memastikan rantai pasok tetap berjalan dengan baik.

“Ini menjadi penting mengingat peran strategis industri plastik hilir dalam mendukung berbagai sektor lain, seperti makanan dan minuman, farmasi, konstruksi, hingga otomotif,” jelas dia.

Tidak hanya itu, sektor distribusi pangan juga terdampak. Kenaikan harga plastik secara langsung meningkatkan biaya produksi industri makanan dan minuman.

Banyak pelaku usaha kini harus menanggung beban tambahan akibat mahalnya kemasan, yang pada akhirnya berpotensi diteruskan ke harga jual produk di pasar.

Kondisi ini membuat harga makanan dan minuman kemasan berisiko mengalami kenaikan, terutama untuk produk-produk yang bergantung pada kemasan fleksibel maupun rigid berbasis plastik.

Dampak yang lebih luas juga terlihat pada komoditas pangan pokok.

Produk seperti beras dan gula yang umumnya menggunakan karung plastik sebagai kemasan turut terdampak oleh kenaikan biaya tersebut.

Sekjen Asosiasi Industri Pengecoran Logam Indonesia (APHINDO) Henry Chevalier mengatakan bahwa permintaan domestik yang tetap stabil bahkan cenderung meningkat memberikan dorongan tambahan bagi industri untuk tetap bertahan.

“Dengan populasi besar dan aktivitas ekonomi yang terus berkembang, kebutuhan akan produk plastik baik sebagai kemasan maupun komponen industri masih sangat tinggi,” jelas Henry.

Dia mengatakan, saat ini, pelaku industri plastik hilir berkomitmen untuk terus melayani kebutuhan pasar dalam negeri secara optimal.

Dengan memanfaatkan kapasitas produksi yang ada serta meningkatkan kolaborasi di sepanjang rantai nilai.

Sekjen Gabungan Industri Aneka Tenun Plastik Indonesia (GIATPI) Sugeng Siswanto menambahkan bahwa industri plastik siap menjadi penopang penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ke depan, dukungan kebijakan yang kondusif, stabilitas harga bahan baku, serta penguatan industri plastik hilir nasional menjadi faktor kunci dalam meningkatkan daya saing industri plastik hilir Indonesia di tengah dinamika pasar global,” tegas dia.

ABOFI, ROTOKEMAS, APHINDO, hingga GIATPI tergabung dalam Federasi Lintas Asosiasi Plastik Hilir Indonesia (FLAIPHI). FLAIPHI yang mewakili berbagai segmen penting dalam industri hilir, berupaya memperkuat koordinasi antar pelaku industri, dalam menjaga stabilitas pasokan dan merespons cepat setiap potensi gangguan, dan menjadi representasi penting bagi industri kemasan plastik nasional.

Sebagai informasi, lonjakan harga plastik yang mencapai kisaran 50 hingga 125 persen pada April 2026 dan menjadi salah satu dampak dari terganggunya rantai pasok global akibat konflik di Timur Tengah.

Kenaikan harga minyak dunia dan turunannya, termasuk nafta sebagai bahan baku utama plastik, mendorong biaya produksi meningkat tajam di berbagai sektor.

Situasi ini kemudian memicu efek domino yang dirasakan luas oleh pelaku industri, terutama yang sangat bergantung pada kemasan plastik.

Banyak pelaku usaha harus melakukan penyesuaian, baik dengan menaikkan harga jual maupun memangkas margin keuntungan.

Tekanan ini semakin terasa bagi pedagang kecil yang memiliki ruang gerak terbatas.

Merespons kondisi tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menggelar pertemuan dengan pelaku industri plastik dari berbagai lini, mulai dari sektor hulu, hilir, hingga daur ulang.

Dalam forum tersebut, para produsen dalam negeri memastikan bahwa ketersediaan pasokan plastik nasional masih dalam kondisi aman.

Ia menjelaskan, pertemuan itu membahas perkembangan rantai pasok bahan baku petrokimia serta langkah mitigasi terhadap dampak konflik di Asia Barat yang memicu penutupan Selat Hormuz.

Kondisi tersebut diketahui turut mengganggu distribusi bahan baku utama plastik, seperti nafta.

“Dari hasil pertemuan, kami mendapatkan jaminan dari industri bahwa stok plastik seharusnya tidak ada masalah,” ujar Agus dalam keterangan resmi sebagaimana dikutip Jumat (17/4/2026).

Menurut Agus, pelaku industri yang menghadiri pertemuan itu berkomitmen menjaga pasokan plastik, terutama untuk industri kecil.

Pihaknya memahami, perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mengganggu struktur harga plastik dalam negeri.

Harga plastik naik karena biaya logistik dan angkutan meningkat, penerapan surcharge (biaya tambahan) premium, hingga pengiriman yang membutuhkan waktu lebih lama.

“Waktu pengiriman yang sebelumnya rata-rata sekitar 15 hari, saat ini dapat meningkat hingga 50 hari. Kondisi ini tentu berdampak pada peningkatan beban biaya produksi,” tegas Agus.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#rantai-pasok-global #geopolitik-timur-tengah #kelangkaan-plastik #harga-bahan-baku-plastik

https://money.kompas.com/read/2026/04/21/203427026/harga-bahan-baku-plastik-melonjak-imbas-konflik-timteng-industri-dipaksa