Antara Global dan Domestik, Faktor Apa yang Sebabkan Rupiah Melemah?

Antara Global dan Domestik, Faktor Apa yang Sebabkan Rupiah Melemah?

Rupiah menyentuh level Rp 17.300/dollar AS dan alami penutupan terburuk. Ini analisis penyebabnya mulai dari faktor domestik, kebijakan BI, hingga gejolak global.

(Kompas.com) 23/04/26 17:30 200819

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar atau kurs rupiah sempat mencapai level psikologis 17.300 per dollar AS pada awal pembukaan perdagangan hari ini.

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata mengatakan, pelemahan kurs rupiah tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh penguatan global dollar AS.

Pasalnya, Indeks Dollar AS (DXY) relatif bergerak stabil.

Shutterstock/Pramata Ilustrasi rupiah.

Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah tampak lebih mencerminkan faktor domestik.

"Dalam konteks ini, perlu ada evaluasi terhadap bauran kebijakan pemerintah dan otoritas moneter," ujar dia dalam keterangan tertulis.

Berdasarkan pantauan Kompas.com pada penutupan Kamis (23/4/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.286 per dollar Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup melemah 0,61 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.181 per dollar AS.

Ini jadi penutupan terburuk rupiah sepanjang masa.

Namun demikian, pagi tadi pada pukul 09.35 WIB, nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 17.312 per dollar AS.

Liza mengungkapkan, pelemahan rupiah secara domestik juga diwarnai dengan tren kenaikan harga minyak global tembus 100 dollar AS per barrel yang menambah tekanan terhadap fiskal.

"Berapa harga dan kapan minyak Rusia tiba dan bisa amankan supply BBM di Indonesia, masih belum jelas," imbuh dia.

PIXABAY/DARNO BEGE Ilustrasi rupiah, uang rupiah. Mata uang paling lemah di Asia 2025.

Menurut dia, hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas anggaran, khususnya terkait program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan keberlanjutan subsidi energi.

Pasalnya hingga saat ini harga BBM subsidi masih belum disesuaikan.

Kebijakan BI tahan suku bunga belum beri dampak

Dari sisi moneter, Liza mengungkapkan, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilisasi nilai tukar rupiah.

Ia berpandangan, kondisi tersebut mengindikasikan perlunya peran yang lebih agresif dan intensif, khususnya dalam penyediaan likuiditas dollar AS di pasar.

Kondisi semakin kompleks dengan adanya tekanan eksternal dan persepsi risiko, termasuk isu Morgan Stanley Capital International (MSCI), sovereign downgrade, serta konfirmasi outlook negatif sektor perbankan baru-baru ini oleh Fitch Ratings.

Hal ini dikhawatirkan berdampak pada daya tarik pasar obligasi negara di tengah kebutuhan pembiayaan yang meningkat.

Di sisi fiskal, kebutuhan pendanaan untuk program-program strategis seperti MBG dan subsidi energi tetap tinggi.

Oleh karena itu, Liza bilang, menjadi krusial untuk meninjau kembali prioritas belanja negara agar ketahanan fiskal tetap terjaga.

Selain itu, optimalisasi pengelolaan dana melalui entitas seperti Danantara juga menjadi perhatian.

"Efektivitas alokasi dan kualitas investasi perlu dijaga agar dapat memberikan dampak nyata terhadap perekonomian, bukan sekadar akumulasi dana tanpa arah yang jelas," ungkap dia.

Pemerintah sebut gejolak global jadi pengaruh utama

Dok. Kemenko Perekonomian Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara National Seminar on Indonesia OECD Accession and Private Sector Implications di Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pelemahan rupiah tidak lepas dari kondisi eksternal.

Pemerintah terus memantau perkembangan dan menyiapkan langkah antisipasi.

“Ya, kan, itu lihat gejolak, gejolak global juga (jadi pengaruh utama). Jadi, ya, kita monitor saja,” kata Airlangga saat ditemui di Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) di Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Airlangga mengingatkan, asumsi nilai tukar dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 berada di level Rp 16.500 per dollar AS.

Perkembangan terbaru menjadi perhatian pemerintah.

Mata uang di negara kawasan juga melemah

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menilai tekanan terhadap rupiah sejalan dengan pelemahan mata uang di kawasan.

Ketidakpastian global mendorong tekanan terhadap banyak mata uang.

"Pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date sebesar 3,54 persen," ujar dia dalam keterangan tertulis.

Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi di pasar keuangan.

Langkah ini dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Intervensi dilakukan di pasar non deliverable forward luar negeri, transaksi spot, serta domestic non deliverable forward di pasar dalam negeri.

PIXABAY/MOHAMAD TRILAKSONO Ilustrasi rupiah.

Intervensi dilakukan di pasar non deliverable forward luar negeri, transaksi spot, serta domestic non deliverable forward di pasar dalam negeri.

Bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter berbasis pasar.

Upaya ini diarahkan untuk menjaga daya tarik aset domestik di tengah tekanan global.

Pelemahan rupiah dipengaruhi permintaan valas

Global Market Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai tekanan pada rupiah terutama berasal dari tingginya permintaan valuta asing di pasar domestik.

Kebutuhan valas meningkat untuk aliran dana jangka pendek di pasar keuangan. Pembayaran dividen oleh pelaku usaha juga ikut mendorong permintaan.

Selain itu, ia menyoroti kondisi neraca perdagangan yang mulai tertekan.

Kenaikan harga minyak global mendorong impor energi. Dampaknya, surplus perdagangan berpotensi menyempit.

"Jadi itu yang membuat kenapa kalau kita lihat pergerakan rupiah untuk saat ini belum bisa dikatakan undervalue," ucap dia.

Ia mengungkapkan, tekanan dari arus keluar modal juga masih tinggi.

Situasi ini membuat penilaian undervaluation menjadi kurang relevan dalam jangka pendek.

"Jadi kalau kondisinya sekarang di saat terjadi di posisi hot money-nya itu masih hot flow dan trade surplus-nya juga tergerus, saya rasa sih sudah bukan statement yang tepat kalau dibilang rupiah kita masih undervalue," tutup dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#kurs-rupiah #nilai-tukar #pelemahan-rupiah #gejolak-ekonomi-global #indepth #kebijakan-moneter-bi

https://money.kompas.com/read/2026/04/23/173000426/antara-global-dan-domestik-faktor-apa-yang-sebabkan-rupiah-melemah-