Dunia Menuju Multipolar, Local Currency Transaction Bisa Tahan Pelemahan Rupiah?
Perubahan tatanan ekonomi global dinilai menuntut strategi baru.
(Republika) 24/04/26 16:58 201977
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pengamat ekonomi yang juga dosen Universitas Hasanuddin (Unhas), Muhammad Syarkawi Rauf, menilai perekonomian global bergerak dari unipolar menuju multipolar, seiring dinamika geoekonomi dan geopolitik yang terjadi. Menghadapi kondisi transisi ke dunia multipolar, Syarkawi berpandangan salah satu langkah meminimalisasi pelemahan kurs rupiah adalah dengan menguatkan local currency transaction (LCT).
“Dunia unipolar ditandai oleh dominasi AS dengan mata uang dolar AS sebagai satu-satunya mata uang dominan dalam transaksi internasional. Sementara dunia multipolar menempatkan AS bukan lagi sebagai pemain tunggal (monopoli),” ujar Syarkawi dalam keterangannya kepada Republika, dikutip Jumat (24/4/2026).
Ia menerangkan dalam dunia multipolar terdapat beberapa negara lain yang ikut mengendalikan perekonomian global dengan mata uangnya masing-masing. Kandidatnya yakni Uni Eropa dengan mata uang euro dan China dengan mata uang yuan.
Syarkawi menuturkan diskursus mengenai berakhirnya dominasi dolar AS dipicu oleh sanksi AS terhadap Rusia pasca aneksasi Krimea, Ukraina pada 2014. Hal itu memaksa Rusia berhenti menggunakan dolar AS dalam transaksi internasionalnya. Pemerintah Rusia kemudian beralih menggunakan yuan China.
“Kondisi ini diperparah oleh perilaku Presiden AS Donald Trump yang memberlakukan tarif resiprokal ekstra tinggi ke sejumlah negara, termasuk negara-negara yang tergabung dalam BRICS,” terangnya.
BRICS diketahui meliputi Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan yang dibentuk pada medio 2009—2010. Indonesia sendiri menyusul menjadi anggota BRICS pada awal 2025. Dari BRICS, lahir ide pembentukan mata uang bersama (common currency) negara-negara tersebut.
Delapan Dekade Dominasi Dolar AS
Syarkawi menjelaskan sejarah singkat dominasi dolar AS hingga saat ini mulai bertransisi. Ia menyebut mata uang pound sterling Inggris merupakan mata uang dominan dalam transaksi internasional hingga akhir 1930-an, yakni awal Perang Dunia (PD) II. Peran pound sterling Inggris memudar sejak PD I karena Pemerintah Inggris mengalami kesulitan keuangan hingga menjual aset-asetnya untuk membiayai perang dan menghadapi tekanan persaingan dengan mata uang lain.
Pada periode tersebut, utang Pemerintah Inggris meningkat hingga enam kali lipat menjadi 130 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Risiko gagal bayar utang meningkat, biaya utang naik, yaitu yield obligasi Pemerintah Inggris meningkat dengan harga yang semakin rendah.
Hingga periode Great Depression pada 1930-an, pound sterling Inggris masih menjadi mata uang dominan dalam transaksi internasional. Perannya benar-benar tergantikan oleh dolar AS pasca PD II. Pound sterling mengalami devaluasi pada 1949.
Berakhirnya masa keemasan pound sterling menjadi awal dominasi dolar AS secara global. Momentumnya terjadi saat pertemuan sekitar 700 delegasi dari 44 negara pada 1944 di Bretton Woods, New Hampshire, AS.
“Pertemuan tersebut melahirkan kesepakatan Bretton Woods. Kesepakatan ini menjadi titik awal dolar AS menggantikan peran pound sterling Inggris sebagai mata uang dominan secara global. Hingga saat ini, dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global sudah lebih dari 80 tahun,” ungkapnya.
Pertemuan Bretton Woods melahirkan sistem Bretton Woods (Bretton Woods System/BWS), yaitu sistem devisa yang mengaitkan mata uang masing-masing negara terhadap dolar AS. Terdapat 44 negara yang bersepakat mengonversi cadangan devisanya ke dalam dolar AS.
Secara faktual, setelah lebih dari 70 tahun, world index of international currency usage menunjukkan penurunan peran dolar AS sebagai mata uang utama dunia. Indeks penggunaan dolar AS menurun dari 61 pada 2015 menjadi 59,65 pada 2025. Sebaliknya, indeks euro dan yuan meningkat. Indeks penggunaan euro naik dari 29,94 pada 2015 menjadi 30,22 pada 2025, sedangkan yuan meningkat dari 0,95 pada 2015 menjadi 2,85 pada 2025.
Namun, indeks penggunaan yuan China tidak sejalan dengan dominasi China dalam perdagangan global. Pada awal 2000-an, nilai perdagangan internasional China sebesar 474 miliar dolar AS, empat kali lebih kecil dari nilai perdagangan internasional AS sebesar 2 triliun dolar AS.
Namun sejak 2012, perdagangan internasional China telah melampaui AS. Pada 2024, nilai perdagangan internasional AS sebesar 5,3 triliun dolar AS, lebih kecil dibanding China yang mencapai 6,2 triliun dolar AS.
Kondisi tersebut kontras dengan penggunaan yuan sebagai cadangan devisa global yang hanya mencapai 1,95 triliun dolar AS pada 2025. Sementara itu, penggunaan dolar AS sebagai cadangan devisa global mencapai 56,77 persen, turun sekitar 14,42 persen dalam 10 tahun terakhir dari 71,19 persen.
#rupiah #kurs-rupiah #local-currency-transaction #lct #donald-trump #perang-iran #selat-hormuz #dolar #yuan