Hilirisasi Kopi Berhasil, Mengapa Teh Tertinggal?

Hilirisasi Kopi Berhasil, Mengapa Teh Tertinggal?

Kopi akan terus naik kelas sebagai produk bernilai, sementara teh berisiko semakin terpinggirkan dalam rantai nilai global.

(Kompas.com) 26/04/26 08:00 202973

INDONESIA sedang menyaksikan kegagalan yang sunyi: satu komoditas naik kelas menjadi simbol gaya hidup global, sementara yang lain—yang lebih dulu berjaya—perlahan ditinggalkan pasar.

Kopi melesat, teh tertinggal. Persoalannya bukan lagi potensi, melainkan mengapa transformasi hanya bekerja pada satu komoditas dan gagal pada yang lain.

Perbedaan ini tidak bisa dibaca sekadar sebagai dinamika pasar, tetapi mencerminkan arah transformasi ekonomi yang berjalan timpang—di mana satu sektor berhasil membangun nilai, sementara yang lain terjebak dalam pola lama.

Kopi Transformasi yang Belum Tuntas

Dalam beberapa tahun terakhir, kopi Indonesia menunjukkan momentum yang kuat.

Nilai ekspor bahkan menembus sekitar 1,6 miliar dollar AS, didukung oleh pasar global yang tetap terbuka dan konsumsi domestik yang terus tumbuh.

Konsumsi kopi domestik Indonesia pada periode 2024/2025 diproyeksikan mencapai 4,8 juta kantong (setara 60 kg per kantong), meningkat dari 4,45 juta kantong pada 2020/2021.

Di sisi produksi, Indonesia menghasilkan sekitar 654.000 ton kopi pada 2024, setara sekitar 6 persen produksi global dan menempatkan Indonesia sebagai produsen keempat dunia.

Lebih dari itu, kopi telah bertransformasi dari sekadar komoditas menjadi bagian dari identitas sosial—didukung oleh ekspansi kedai kopi, inovasi produk, dan penetrasi pasar digital.

Namun, di balik keberhasilan tersebut, struktur kopi sebenarnya masih menyimpan paradoks. Sebagian besar ekspor masih berupa bahan mentah, sehingga nilai tambah justru dinikmati di luar negeri. Artinya, kenaikan kelas kopi belum sepenuhnya menyentuh hulu, terutama petani.

Berbeda dengan kopi, sektor teh menghadapi tekanan yang jauh lebih kompleks. Produksi teh Indonesia pada 2023 berada di kisaran 122–124 ribu ton, turun dari sekitar 165 ribu ton pada awal 2000-an.

Produksi menurun, lahan menyusut, dan posisi Indonesia dalam pasar global terus merosot. Dalam dua dekade terakhir, posisi Indonesia sebagai eksportir teh global merosot dari tiga besar menjadi sekitar peringkat ketujuh.

Penurunan ini bukan karena pasar menyusut—justru permintaan global tumbuh sekitar 3 persen per tahun—melainkan karena lemahnya daya saing dalam kualitas, harga, dan kontinuitas pasokan.

Dengan kata lain, persoalan teh bukan siklus, melainkan struktural.

Paradoksnya semakin nyata ketika pasar domestik justru diisi produk impor.

Pada 2024, impor teh mencapai sekitar 13 ribu ton, meningkat tajam dari tahun sebelumnya.

Di saat produksi dan ekspor melemah, konsumsi dalam negeri tetap tumbuh—tetapi tidak dipenuhi oleh produksi nasional.

Akar persoalan menjadi jelas pada aspek hilirisasi. Lebih dari 90 persen ekspor teh Indonesia masih berupa produk curah dengan nilai tambah rendah, sementara kontribusi produk hilir diperkirakan hanya sekitar 6 persen

Akibatnya, peningkatan produksi tidak berbanding lurus dengan peningkatan nilai ekonomi.

Padahal, potensi nilai tambah teh sangat besar. Di tingkat petani, harga pucuk teh hanya sekitar Rp 2.500 per kilogram.

Setelah diolah menjadi teh kering, nilainya setara Rp 12.500 per kilogram. Namun ketika masuk ke tahap hilir sebagai produk bermerek atau specialty tea, nilainya dapat melonjak hingga sekitar Rp 250.000 per kilogram.

Di sinilah kegagalan utama terjadi: Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi gagal mengonversi potensi menjadi nilai.

Perbedaan dengan kopi terletak pada kemampuan membangun ekosistem. Kopi berkembang bersama inovasi, kewirausahaan, dan perubahan gaya hidup—mengubah produk menjadi pengalaman dan identitas.

Teh, sebaliknya, masih terjebak sebagai komoditas produksi dengan diferensiasi yang lemah.

Padahal, tren pasar global justru bergerak ke arah produk bernilai tinggi—seperti teh premium, organik, dan functional beverage.

Kebijakan yang Tidak Menyentuh Akar Masalah

Secara normatif, arah kebijakan sudah jelas: hilirisasi didorong untuk meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani, bahkan dengan dukungan anggaran besar. Namun, hasilnya tidak seragam.

Pada kopi, kebijakan menemukan momentumnya melalui dukungan UMKM, promosi specialty, dan ekspansi pasar domestik. Ekosistem tumbuh karena adanya interaksi antara pelaku usaha, inovasi, dan pasar.

Pada teh, pendekatan yang sama tidak cukup efektif. Struktur industri yang terkonsentrasi, lambannya peremajaan tanaman, serta minimnya inovasi membuat transformasi berjalan tersendat.

Ini menunjukkan bahwa hilirisasi bukan sekadar program, melainkan proses yang menuntut perubahan sistemik.

Jika situasi ini dibiarkan, kesenjangan antara kopi dan teh akan semakin melebar.

Kopi akan terus naik kelas sebagai produk bernilai, sementara teh berisiko semakin terpinggirkan dalam rantai nilai global.

Karena itu, persoalan teh tidak cukup dijawab dengan peningkatan produksi.

Yang dibutuhkan adalah reposisi menyeluruh: dari komoditas menjadi produk, dari bahan baku menjadi identitas. Tanpa itu, hilirisasi hanya akan berhenti sebagai jargon kebijakan.

Kopi menunjukkan satu hal mendasar: keberhasilan transformasi tidak ditentukan oleh besarnya produksi, melainkan oleh kemampuan membaca perubahan nilai dalam pasar.

Di titik inilah teh Indonesia tertinggal—bukan karena tidak memiliki potensi, tetapi karena terlalu lama bertahan dalam cara lama. Dan dalam ekonomi global yang bergerak cepat, keterlambatan sering kali berarti kehilangan.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang

#kopi #teh #ekspor-kopi #ekspor-teh #hilirisasi-kopi

https://money.kompas.com/read/2026/04/26/080000126/hilirisasi-kopi-berhasil-mengapa-teh-tertinggal-