Transformasi Jadi Infrastruktur Digital, Kinerja MTEL Tumbuh di Kuartal I/2026
PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) bertransformasi menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi untuk mendukung ekspansi 5G, dengan pendapatan kuartal I/2026 naik 1,4% menjadi Rp2,29 trili
(Bisnis.Com) 30/04/26 22:48 208352
Bisnis.com, JAKARTA — PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) mulai menggeser model bisnis dari sekadar penyedia menara menjadi penyedia infrastruktur digital terintegrasi, seiring kebutuhan operator terhadap jaringan berbasis fiber dan energi yang andal untuk menopang ekspansi 5G.
Transformasi ini dilakukan di tengah pertumbuhan kinerja yang relatif moderat, dengan perseroan mencatatkan pendapatan Rp2,29 triliun pada kuartal I/2026 atau naik 1,4% secara tahunan.
Adapun, laba tahun berjalan juga turut terkerek 3,6% menjadi Rp545,05 miliar per kuartal I/2026 dari posisi Rp526,31 miliar pada kuartal I tahun lalu.
Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan ekspansi tidak lagi bertumpu pada penambahan menara semata, melainkan pada penguatan ekosistem digital yang lebih luas.
“Pengembangan ekosistem terintegrasi, termasuk FWA dan PaaS, merupakan langkah strategis untuk mendorong pemerataan konektivitas digital nasional,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (30/4/2026).
Langkah ini mencerminkan perubahan arah industri menara yang mulai bergeser ke model Next Generation TowerCo, di mana monetisasi tidak hanya berasal dari sewa menara, tetapi juga dari layanan tambahan seperti fiberisasi dan penyediaan energi.
Secara operasional, Mitratel mengelola 40.327 menara hingga kuartal I/2026, tumbuh 1,9% yoy. Lebih dari 59% portofolio berada di luar Pulau Jawa, menunjukkan fokus ekspansi pada wilayah dengan kebutuhan konektivitas tinggi namun infrastruktur terbatas.
Di sisi lain, optimalisasi aset terlihat dari kenaikan kolokasi 11,3% menjadi 23.006 unit, dengan tenancy ratio meningkat ke level 1,57 kali. Hal ini menandakan peningkatan produktivitas menara tanpa ekspansi agresif jumlah site.
Penguatan bisnis juga datang dari segmen fiber optic yang tumbuh 17,3% menjadi 72.842 km billable length, mempertegas peran Mitratel dalam pengembangan Fiber-to-the-Tower (FTTT) sebagai fondasi jaringan berkapasitas tinggi.
Selain itu, perseroan mulai mengembangkan Power-as-a-Service (PaaS) untuk menjawab tantangan ketersediaan energi, khususnya di wilayah dengan infrastruktur kelistrikan terbatas.
“Pendekatan ini tidak hanya menghadirkan akses internet yang berkualitas dan terjangkau, tetapi juga memastikan ketersediaan energi yang andal,” kata Theodorus.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA margin tetap tinggi di level 82,7%, mencerminkan efisiensi operasional yang terjaga di tengah tekanan pertumbuhan top line.
Dengan struktur permodalan yang sehat, Mitratel memiliki ruang untuk melanjutkan ekspansi, baik secara organik maupun anorganik, terutama untuk menangkap peluang dari percepatan implementasi jaringan 5G.
Ke depan, kebutuhan densifikasi jaringan, latensi rendah, dan keandalan energi diperkirakan akan mendorong permintaan terhadap model bisnis terintegrasi, menjadikan diversifikasi beyond tower sebagai kunci pertumbuhan jangka panjang.
#mtel #infrastruktur-digital #transformasi-bisnis #ekspansi-5g #jaringan-fiber #ekosistem-digital #next-generation-towerco #fiber-optic #power-as-a-service #konektivitas-digital #pengembangan-fttt #pen