Mengasah Magnet Kunjungan Wisman di Tengah Bayang-Bayang Konflik Global

Mengasah Magnet Kunjungan Wisman di Tengah Bayang-Bayang Konflik Global

Kunjungan wisman ke Indonesia meningkat meski konflik global berlanjut. Fokus promosi kini beralih ke pasar Asia yang lebih stabil dan terhubung langsung.

(Bisnis.Com) 05/05/26 12:10 211454

Bisnis.com, JAKARTA — Kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia menunjukkan tren pemulihan sejak 2020. Namun, gejolak geopolitik global yang masih berlangsung di Timur Tengah hingga faktor musiman menjadi faktor yang berpotensi membayangi kinerja sektor pariwisata hingga akhir tahun ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total kunjungan wisman pada Maret 2026 mencapai 1,09 juta kunjungan, turun 6,17% secara bulanan (MtM). Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan penurunan ini terjadi setelah berakhirnya momentum libur awal tahun serta masuknya periode Ramadan dan Idulfitri.

Namun, tingkat kunjungan tersebut masih tumbuh 10,50% secara tahunan (YoY), menandakan tren pemulihan belum berhenti. BPS juga mencatat bahwa secara kumulatif, kunjungan wisman periode Januari hingga Maret 2026 mencapai 3,44 juta kunjungan, meningkat 8,62%.

“Capaian kunjungan wisman pada bulan Januari sampai Maret tahun 2026 ini merupakan capaian tertinggi sejak tahun 2020 yang lalu,” kata Ateng dalam rilis berita resmi statistik, Senin (4/5/2026).

Dia menjelaskan, wisatawan asal Malaysia berkontribusi terbesar dengan porsi 17,14%, diikuti Australia sebesar 12,01% dan Singapura sebanyak 9,45%. Menurutnya, penurunan kunjungan dari Malaysia dan Singapura pada Maret dipengaruhi faktor musiman, khususnya Ramadan dan berakhirnya libur Imlek pada Februari.

Di sisi lain, BPS mencermati pasar Australia justru mencatat lonjakan signifikan, yakni 21,67% dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan ini terutama didorong oleh dibukanya dua rute penerbangan langsung dari Australia ke Bali.

Marine Safari di Bali
Marine Safari di Bali

Data BPS tersebut menunjukkan bahwa kunjungan wisman hingga kuartal I/2026 tetap ditopang oleh pasar regional dan memiliki konektivitas langsung ke Tanah Air.

Sementara itu, pelaku industri pariwisata nasional masih melihat faktor yang dapat mengadang magnet kunjungan wisman, khususnya pada segmen perjalanan jauh (long-haul), yang berpotensi berdampak pada kuartal berikutnya.

Masih Stagnan

Sekretaris Jenderal Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita), Budijanto Ardiansjah menyatakan bahwa kondisi pariwisata saat ini cenderung stagnan akibat ketidakpastian global. Perang antara sekutu Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran masih menjadi pertimbangan wisatawan untuk melancong.

“Kondisi pariwisata mengalami stagnasi sejak terjadinya perang US–Israel vs Iran yang telah menyebabkan situasi geopolitik yang tidak menentu serta krisis energi,” katanya saat dihubungi Bisnis.

Menurutnya, situasi keamanan tersebut menyebabkan munculnya pembatalan maupun penangguhan perjalanan yang berdampak besar terhadap pasar wisatawan dari Eropa dan AS.

Budijanto memaparkan, tekanan tersebut terjadi di tengah peluang yang sejatinya terbuka dari sisi harga. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai membuat biaya perjalanan ke Indonesia relatif lebih murah bagi wisatawan asing.

“Hanya saja, karena situasi geopolitik dan krisis energi ini, menyebabkan banyak pihak yang masih menahan diri untuk berwisata ke Indonesia,” ujarnya.

Bangunan hancur imbas konflik di Timur Tengah
Bangunan hancur imbas konflik di Timur Tengah

Dia kemudian menjelaskan bahwa pelaku usaha akan tetap mengoptimalkan pasar yang tidak banyak terdampak sentimen tersebut. Di samping itu, Asita menilai pemerintah juga harus melakukan langkah-langkah promosi yang tepat sasaran, sehingga Indonesia akan menjadi tujuan pertama bagi wisatawan bilamana situasi global telah mereda.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran menyampaikan bahwa penurunan kunjungan wisman secara bulanan terbilang wajar mengingat puncak momentum libur nasional dan pergerakan masyarakat yang terpusat pada bulan-bulan pertama tahun ini.

Alan, sapaan akrabnya, justru menyoroti angka kunjungan wisman yang naik secara tahunan sebagai momentum positif bagi pariwisata Tanah Air di tengah gejolak global. Pasalnya, kondisi global turut mengerek naik biaya pesawat dan ongkos perjalanan pelancong luar negeri.

“Semoga tren dari peningkatan secara tahunan ini terus meningkat, sehingga target di akhir tahun juga tercapai,” ujarnya kepada Bisnis.

Kendati demikian, dia tak mengesampingkan bahwa pelaku industri masih dibayangi oleh pasar wisatawan yang terkendala situasi global, terutama dari negara yang jauh secara geografis. Oleh karena itu, Alan menyebut bahwa kawasan Asia dan Australia tetap menjadi prioritas pasar wisman ke Indonesia saat ini.

Terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, pihaknya tak serta-merta memandang hal ini positif. Meskipun berpotensi menambah pendapatan dari kunjungan wisman, wisatawan dalam negeri justru dapat menanggung biaya perjalanan yang lebih besar, lebih lagi terkait adanya risiko inflasi dan dampak operasional industri pariwisata.

“Kalau bisa kunjungan wisman terus ditingkatkan, khususnya dari pasar-pasar Asia. Ini yang harus kita kejar,” tutur Alan.

Dari sisi pemerintah, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sebelumnya mulai menggeser strategi pemasaran dengan memfokuskan promosi ke pasar Asia yang dinilai lebih resilien terhadap gejolak global.

Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan langkah pivot ini dilakukan untuk menjaga stabilitas kunjungan di tengah meningkatnya risiko perjalanan bagi wisatawan jarak jauh.

“Langkah refocusing yang kami lakukan adalah pivot. Dari sebelumnya berfokus pada pasar Eropa dan Amerika, kini kami mengarahkan perhatian lebih besar ke kawasan Asia,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Dia memaparkan, pasar prioritas ini mencakup nnegara-negara kawasan Asean seperti Malaysia dan Singapura, serta Jepang, China, Korea, Australia, dan Selandia Baru. Kawasan ini dinilai lebih stabil karena memiliki kedekatan geografis dan akses penerbangan langsung, alias tak bergantung pada rute transit melalui kawasan konflik.

“Pasar-pasar ini lebih dekat, tidak memerlukan transit melalui kawasan Timur Tengah, dan relatif tidak terdampak lonjakan harga tiket yang signifikan,” ujar Made.

Namun, strategi ini juga membawa konsekuensi meningkatnya persaingan antarnegara di kawasan yang sama dalam menarik wisatawan. Oleh karena itu, pemerintah mendorong pendekatan promosi yang lebih agresif dan kolaboratif.

Kemenpar mengandalkan penguatan kerja sama co-branding dengan berbagai mitra, serta optimalisasi penyelenggaraan event di daerah untuk meningkatkan daya tarik destinasi.

“Kami menggandeng berbagai mitra untuk berkolaborasi mempromosikan pariwisata Indonesia secara lebih kreatif dan efektif, termasuk melalui penyelenggaraan berbagai event di daerah,” pungkasnya.

Dengan demikian, perkembangan ini menunjukkan bahwa strategi pariwisata Tanah Air untuk bertahan dari gejolak geopolitik bergantung pada dinamika pasar regional dalam jangka pendek. Sementara itu, pemulihan pasar jarak jauh masih akan ditentukan oleh stabilitas geopolitik dan tren biaya perjalanan global ke depan.

#wisatawan-mancanegara #kunjungan-wisman #pariwisata-indonesia #geopolitik-global #tren-pemulihan #wisatawan-malaysia #wisatawan-australia #wisatawan-singapura #rute-penerbangan-bali #pasar-regional #p

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260505/12/1971300/mengasah-magnet-kunjungan-wisman-di-tengah-bayang-bayang-konflik-global