Ekspor Kakao Anjlok Maret 2026, Pelaku Usaha Yakin Pulih pada April
Ekspor kakao, kopi, dan rempah-rempah Indonesia turun tajam Maret 2026 akibat gangguan operasional, namun diprediksi pulih April seiring permintaan global yang kuat.
(Bisnis.Com) 06/05/26 18:52 213469
Bisnis.com, JAKARTA — Penurunan tajam ekspor kakao, kopi, teh, dan rempah-rempah pada Maret 2026 diperkirakan hanya bersifat sementara. Pelaku usaha menilai pelemahan lebih disebabkan gangguan operasional domestik, sementara permintaan pasar global masih relatif kuat.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sejumlah komoditas perkebunan mengalami kontraksi pada Maret 2026. Ekspor lemak dan minyak hewan nabati (HS 15) turun 27,02% secara tahunan dengan andil negatif 3,52% terhadap total ekspor nasional.
Selanjutnya, kakao dan olahannya merosot 50,89% dengan kontribusi penekan 0,75%, sedangkan kelompok kopi, teh, dan rempah-rempah terkoreksi 54,69% dengan andil negatif 0,68%.
Vice President Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) Jawa Tengah Moelyono Soesilo mengatakan pelemahan ekspor lebih banyak dipengaruhi faktor kalender dan hambatan distribusi selama Maret.
Menurutnya, libur panjang yang beriringan dengan pembatasan operasional angkutan barang menyebabkan hari kerja efektif menyusut, sehingga proses pengiriman ekspor tertahan.
“Permintaan masih tetap ada dan tinggi. Akan nampak pulih ekspor kopi pada bulan April,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (6/5/2026).
Pernyataan tersebut mengindikasikan penurunan ekspor pada Maret belum mencerminkan pelemahan fundamental pasar internasional. Tekanan dinilai lebih berasal dari faktor musiman dan kendala logistik di dalam negeri.
Meski demikian, sejumlah pasar tujuan mulai mengalami perlambatan. Moelyono menyebut penurunan permintaan kopi biji Indonesia datang dari beberapa negara Timur Tengah seperti Dubai, Arab Saudi, dan Mesir yang terdampak konflik geopolitik.
Situasi tersebut menekan aktivitas perdagangan dan konsumsi di kawasan itu, sehingga berdampak pada serapan komoditas asal Indonesia.
Dari sisi harga, Moelyono menyebut harga kopi global mulai mengalami koreksi seiring perlambatan permintaan dan masuknya musim panen di sejumlah sentra produksi dalam negeri. Namun, penurunan harga internasional belum terlalu membebani eksportir domestik.
Depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dinilai masih menopang penerimaan pelaku usaha, sehingga margin ekspor relatif terjaga.
Ke depan, eksportir melihat peluang pemulihan masih terbuka, terutama dengan tetap kuatnya permintaan dari negara-negara Asia Pasifik.
"Permintaan tetap ada dan kuat dari negara konsumen di Asia Pasifik," imbuhnya.
Kondisi tersebut memberi ruang bagi perbaikan ekspor kakao dan kopi pada kuartal II/2026 setelah hambatan logistik dan faktor musiman pada Maret berlalu.
#ekspor-kakao #ekspor-kopi #ekspor-teh #ekspor-rempah #penurunan-ekspor #permintaan-pasar-global #gangguan-operasional-domestik #kontraksi-komoditas-perkebunan #hambatan-distribusi #pembatasan-operasio