IBC: Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Belum Tunjukkan Daya Beli Masyarakat Kuat
IBC menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61% secara tahunan belum dijadikan indikator bahwa daya beli masyarakat mulai kuat.
(Katadata) 08/05/26 17:30 215865
Indonesian Business Council (IBC) mengkritisi capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61%. Lembaga ini menilai, capaian tersebut belum bisa dijadikan indikator bahwa kondisi ekonomi Indonesia telah memasuki fase pertumbuhan baru yang berkelanjutan dan daya beli masyarakat mulai kuat.
Chief Economist IBC Denni Purbasari mengatakan, lonjakan pertumbuhan pada awal 2026 lebih banyak dipengaruhi stimulus belanja pemerintah ketimbang penguatan fundamental ekonomi. Pertumbuhan ekonomi terbantu oleh perluasan program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan gedung Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan efek basis rendah tahun sebelumnya akibat efisiensi belanja.
“Karena itu, pertumbuhan yang tinggi pada kuartal I ini belum cukup untuk membawa kita pada kesimpulan bahwa ekonomi Indonesia telah masuk dalam lintasan pertumbuhan baru yang lebih tinggi dalam arti berkelanjutan,” kata Denni dalam keterangannya, Jumat (8/5).
IBC menyoroti konsumsi pemerintah yang melonjak 21,81% secara tahunan dan menyumbang sekitar 23% terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal I 2026. Organisasi tersebut menduga kenaikan tajam itu terutama berasal dari realisasi program MBG dan pembangunan KDMP.
Dari sisi produksi, menurut dia, dampak belanja pemerintah juga terlihat pada pertumbuhan sektor penyediaan akomodasi dan makan minum yang mencapai 13,14%, serta sektor konstruksi yang naik dari 2,18% pada kuartal I 2025 menjadi 5,49% pada periode yang sama di 2026.
Denni menilai, pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang utama pertumbuhan belum mencerminkan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara luas. IBC mencatat, kenaikan upah riil pekerja selama setahun terakhir hanya sekitar 2% setelah memperhitungkan inflasi. Kondisi ini dinilai menunjukkan bahwa daya beli masyarakat belum mengalami penguatan signifikan.
Ia menilai, pemerintah perlu mendukung tumbuhnya perusahaan-perusahaan baru untuk menciptakan banyak lapangan kerja berkualitas agar pertumbuhan berdampak pada peningkatan kesejahteraan banyak orang. "Hanya dengan cara ini, pertumbuhan menjadi kesejahteraan yang merata dan berasosiasi dengan peningkatan taraf hidup rakyat,” kata Denni.
Di sisi lain, IBC menilai pemerintah juga masih memiliki pekerjaan rumah besar untuk menciptakan fondasi pertumbuhan yang lebih kuat. IBC menekankan pentingnya tiga prasyarat utama yakni certainty, capability, dan capital.
Certainty mencakup kepastian regulasi dan arah kebijakan yang konsisten. Capability berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia dan kemampuan perusahaan nasional untuk bersaing serta naik ke rantai nilai yang lebih tinggi. Sedangkan capital menyangkut efektivitas alokasi modal agar lebih produktif.
Denni menegaskan, pertumbuhan ekonomi berisiko hanya bersifat jangka pendek dan sangat bergantung pada dorongan fiskal pemerintah tanpa perbaikan fundamental itu.