Ekonom: BSF efektif jika tekanan pasar bersifat teknis dan sementara
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) dapat efektif menjaga stabilitas ...
(Antara) 08/05/26 20:39 216064
Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemerintah sebagai pembeli bisa membantu menghentikan kepanikan dan mengembalikan likuiditas pasar,
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet menilai pengaktifan kembali bond stabilization fund (BSF) dapat efektif menjaga stabilitas pasar surat utang negara apabila tekanan pasar bersifat teknis dan sementara.
Tekanan dimaksud seperti terjadinya aksi jual karena investor mengalami kerugian harga jangka pendek, aksi jual berantai yang sebenarnya tidak sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
“Dalam situasi seperti itu, kehadiran pemerintah sebagai pembeli bisa membantu menghentikan kepanikan dan mengembalikan likuiditas pasar,” kata Yusuf saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Jumat.
Instrumen ini juga dinilai efektif ketika pasar mengalami kekeringan pembeli akibat sikap wait and see. Selain itu, BSF penting untuk mencegah risiko rambatan ke sistem keuangan yang lebih luas, mengingat kepemilikan SBN yang besar oleh bank, asuransi, dan dana pensiun.
“Tetapi saya juga harus jujur, efektivitas BSF menjadi jauh lebih terbatas kalau sumber tekanannya berasal dari fundamental,” imbuh Yusuf.
Ia mencontohkan, jika pasar mulai khawatir terhadap arah fiskal, beban bunga utang, atau konsistensi kebijakan ekonomi, maka pembelian obligasi di pasar sekunder tidak serta-merta menghilangkan kekhawatiran investor.
Menurutnya, sebagian tekanan saat ini mengarah ke arah tersebut, dengan pasar mencermati pelebaran defisit, pelemahan primary balance, serta meningkatnya kebutuhan pembiayaan pemerintah. Dengan kata lain, kekhawatiran pasar tidak lagi sekadar volatilitas jangka pendek, melainkan arah kebijakan ke depan.
“Belum lagi faktor global. Selama suku bunga AS masih tinggi, yield US Treasury tetap menarik, dan dolar masih kuat, emerging market memang akan menghadapi tekanan. Dalam kondisi seperti itu, kemampuan BSF juga terbatas karena ia tidak bisa melawan gravitasi pasar global,” katanya.
Secara umum, Yusuf memandang BSF sebagai instrumen yang dapat disiapkan sebagai “payung” stabilisasi sebelum risiko membesar.
Menurutnya, akan lebih baik apabila instrumen tersebut sudah tersedia dan siap digunakan meski tidak selalu diaktifkan, dibandingkan baru disiapkan saat pasar telah memasuki fase kepanikan.
“Tekanan di pasar memang ada. Yield SBN 10 tahun naik cukup cepat dari sekitar 5,9 persen di akhir tahun lalu ke kisaran 6,7 persen pada April 2026. Arus keluar dana asing dari pasar obligasi juga mulai terlihat dan ikut memberi tekanan ke rupiah. Tetapi kalau dibandingkan episode krisis sebelumnya, skalanya sebenarnya masih relatif terkendali,” jelas dia.
Belajar dari pengalaman negara lain, menurutnya, Korea Selatan menjadi contoh paling relevan dalam penggunaan BSF. Negara tersebut pernah memanfaatkan BSF setelah krisis Asia dan kembali menyiapkannya saat krisis global 2008.
“Instrumen itu cukup efektif meredam kepanikan jangka pendek. Tetapi yang menarik, Korea tidak hanya mengandalkan stabilisasi pasar,” ujar Yusuf.
Ia menjelaskan, Korea Selatan juga melakukan reformasi besar di sektor keuangan dan korporasi. BSF, dalam hal ini, hanya digunakan sebagai instrumen sementara sambil melakukan pembenahan fundamental.
“Dan justru setelah situasi lebih stabil, dana stabilisasi itu lebih sering hanya diumumkan keberadaannya tanpa benar-benar digunakan besar-besaran. Artinya, efek psikologis dan kredibilitas kebijakan sering kali lebih penting daripada intervensinya sendiri,” imbuh dia.
Yusuf menambahkan bahwa sebaliknya, Indonesia juga dapat mengambil pelajaran dari Jepang dan China. Jepang terlalu lama menopang pasar obligasinya melalui pengendalian yield sehingga pada akhirnya mengalami kesulitan untuk melakukan normalisasi ketika siklus global berubah.
Sementara itu, China pernah terlalu agresif menopang pasar sahamnya, yang kemudian menimbulkan distorsi karena harga aset tidak lagi sepenuhnya mencerminkan fundamental ekonomi.
Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026
#obligasi #surat-utang #sbn #yield-sbn #rupiah #bond-stabilization-fund