Kadin yakin kerja sama RI-Filipina soal mineral perkuat rantai pasok
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini kerja sama strategis Indonesia dan Filipina di sektor mineral kritis akan memperkuat rantai pasok ...
(Antara) 09/05/26 16:21 216519
Sejalan dengan tema ASEAN Filipina tahun ini, Navigating Our Future, Together, forum tingkat tinggi Kadin Indonesia-PCCI telah meletakkan peta jalan tidak hanya untuk kerja sama bilateral, tetapi juga untuk menjadikan kawasan ASEAN..,
Jakarta (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meyakini kerja sama strategis Indonesia dan Filipina di sektor mineral kritis akan memperkuat rantai pasok kawasan, sekaligus meningkatkan posisi kedua negara.
Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia Bernardino Moningka Vega dalam keterangan resmi diterima di Jakarta, Sabtu menyampaikan, kerja sama penguatan rantai pasok mineral kritis dalam inisiatif Indonesia-Philippines Nickel Corridor ini menjadi model baru kerja sama ekonomi kawasan yang tidak hanya berfokus pada perdagangan komoditas, tetapi juga pembangunan rantai nilai industri yang lebih kuat.
Inisiatif tersebut mengemuka dalam forum Indonesia-Philippines High Level Business Roundtable yang diselenggarakan Kadin Indonesia bersama Philippine Chamber of Commerce and Industry (PCCI) di Cebu, Filipina, bertepatan dengan kunjungan resmi Presiden RI Prabowo Subianto ke Filipina dalam rangka KTT ke-48 ASEAN.
"Sejalan dengan tema ASEAN Filipina tahun ini, Navigating Our Future, Together, forum tingkat tinggi Kadin Indonesia-PCCI telah meletakkan peta jalan tidak hanya untuk kerja sama bilateral, tetapi juga untuk menjadikan kawasan ASEAN lebih siap menghadapi realitas geoekonomi saat ini,” ujar Bernardino.
Melalui kolaborasi antara Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA), kerja sama tersebut mencakup pertukaran data dan informasi nikel, dialog kebijakan dan regulasi, promosi investasi lintas negara, pengembangan metodologi ESG, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor nikel.
Pada 2025, Indonesia tercatat memproduksi sekitar 2,6 juta metrik ton nikel, sementara Filipina mencapai sekitar 270 ribu metrik ton.
Berdasarkan estimasi United States Geological Survey (USGS) 2025, kedua negara secara bersama menyumbang sekitar 73,6 persen produksi tambang nikel global.
Dari sisi cadangan, Indonesia diperkirakan memiliki sekitar 62 juta metrik ton cadangan nikel, sedangkan Filipina memiliki sekitar 4,8 juta metrik ton.
Bagi Indonesia, kerja sama ini dinilai memperkuat kepastian pasokan bahan baku bagi industri hilirisasi nikel nasional yang terus berkembang.
Sementara bagi Filipina, kolaborasi tersebut membuka peluang peningkatan nilai tambah industri melalui pemrosesan regional dan investasi.
Selain penguatan kerja sama sektor nikel, forum tersebut juga menghasilkan sejumlah kesepakatan lain, antara lain kerja sama strategis antarkamar dagang, kolaborasi teknologi pertanian, hingga kerja sama aviasi antara Garuda Maintenance Facility dan JAR Aviation Services dengan nilai indikatif mencapai 80 juta dolar AS.
Forum tersebut juga mengumumkan rencana pembangunan fasilitas pemrosesan nikel di Filipina oleh Agro Investama Group bersama RBN Solutions Inc. dan Ploutus Inc.
Proyek itu mencakup pasokan nikel minimal 200 ribu metrik ton per bulan mulai Juni 2026 untuk mendukung rantai pasok baterai dan kendaraan listrik.
Sementara itu, Presiden PCCI Ferdinand Ferrer menambahkan, kerja sama ini menjadi langkah awal untuk membangun hubungan industri mineral kritis, khususnya nikel yang lebih terintegrasi antara Indonesia dan Filipina.
"ASEAN akan paling kuat ketika bertindak sebagai satu kesatuan. Dan inti dari persatuan ini adalah hubungan bilateral yang sangat kuat antara Indonesia dan Filipina, dengan total populasi hampir 400 juta jiwa," pungkas Ferrer.
Pewarta: Ahmad Muzdaffar Fauzan
Editor: Abdul Hakim Muhiddin
Copyright © ANTARA 2026