Depresiasi Rupiah Berpotensi Berlanjut Awal Pekan ke Rp17.430 per dolar AS
Rupiah diprediksi melemah ke Rp17.430/US$ awal pekan ini akibat konflik AS-Iran dan ketidakpastian suku bunga Fed. Utang RI capai Rp9.920 triliun.
(Bisnis.Com) 10/05/26 13:10 216964
Bisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada awal pekan ini, Senin (11/5/2026) di kisaran Rp17.380 hingga Rp17.430 per dolar AS.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan indeks dolar Amerika Serikat kembali menekan rupiah di tengah memanasnya konflik AS dan Iran serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve.
"Rupiah ditutup melemah 49 poin ke level Rp17.382 per dolar AS dari sebelumnya Rp17.359 per dolar AS," kata Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Dia menambahkan konflik AS dan Iran kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas jalur distribusi energi global, khususnya Selat Hormuz yang menjadi lintasan utama perdagangan minyak dan gas dunia.
Menurutnya, harapan pasar terhadap pembukaan penuh Selat Hormuz sempat muncul setelah muncul sinyal kesepakatan antara AS dan Iran. Namun, situasi kembali memanas setelah kedua negara saling menuduh melanggar gencatan senjata.
“Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata, sementara AS menyebut serangannya sebagai balasan atas tembakan Iran terhadap kapal angkatan lautnya,” katanya.
Di sisi lain, pasar juga dibayangi perbedaan pandangan pejabat Federal Reserve terkait arah suku bunga. Presiden Federal Reserve Cleveland Beth Hammack menyebut suku bunga masih akan tetap tinggi dalam beberapa waktu ke depan.
Dari dalam negeri, pasar turut menyoroti posisi utang pemerintah yang mencapai Rp9.920,42 triliun per 31 Maret 2026 atau naik hampir 3% dibanding posisi akhir 2025 sebesar Rp9.637,9 triliun. Nilai tersebut setara dengan 40,75% terhadap produk domestik bruto (PDB). Pemerintah menyatakan rasio utang masih berada di bawah batas aman internasional sebesar 60% terhadap PDB.
Namun, tekanan terhadap APBN dinilai semakin besar seiring realisasi defisit anggaran yang mencapai Rp240,1 triliun atau 0,93% terhadap PDB pada kuartal I/2026.
Di saat yang sama, realisasi pembiayaan utang telah mencapai Rp258,7 triliun. Kondisi itu membuat pasar semakin sensitif terhadap prospek penerimaan negara dan kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal.
#rupiah-melemah #nilai-tukar-rupiah #dolar-as #konflik-as-iran #suku-bunga #federal-reserve #selat-hormuz #perdagangan-minyak #utang-pemerintah #defisit-anggaran #stabilitas-fiskal #indeks-dolar #pasar