Kisah Haru Guru Ngaji Menjemput Haji, Rutin Menabung usai Salat Subuh walau Kecil

Kisah Haru Guru Ngaji Menjemput Haji, Rutin Menabung usai Salat Subuh walau Kecil

Nurhayati berhasil menunaikan ibadah haji setelah menabung sejak 2005. Meski penghasilannya terbatas, ia rutin menyisihkan uang usai salat subuh.

(Bisnis.Com) 10/05/26 13:27 216970

Bisnis.com, MAKKAH — Nurhayati tak kuasa menahan air mata saat menceritakan perjalanan panjangnya menuju Tanah Suci. Guru ngaji asal Ciputat, Tangerang Selatan itu akhirnya menapakkan kaki di Makkah, Arab Saudi untuk menjalankan ibadah haji setelah bertahun-tahun menabung sedikit demi sedikit, dimulai dari setoran awal Rp200.000.

Di sela aktivitas jemaah di kawasan Aziziyah, Makkah, perempuan yang akrab disapa Nunung itu beberapa kali mengusap matanya ketika mengenang proses panjang yang dilaluinya untuk bisa berhaji.

“Dulu itu cuma sering nganterin teman berangkat haji,” ujarnya saat diwawancarai tim Media Center Haji (MCH) 2026, dikutip pada Minggu (10/5/2026).

Sejak 2005, Nunung mengajar anak-anak mengaji. Dari aktivitas itulah keinginan berhaji perlahan tumbuh. Namun saat itu, impian tersebut terasa sangat jauh karena keterbatasan ekonomi.

Perubahan mulai terjadi setelah seorang temannya menyampaikan pesan sederhana yang terus diingatnya hingga kini.

“Kalau enggak nabung, Allah enggak dengar doa ibu,” kata Nunung menirukan ucapan rekannya.

Pesan itu membuatnya memberanikan diri membuka tabungan haji dengan setoran awal Rp200.000. Meski penghasilannya terbatas, dia mulai menyisihkan uang sedikit demi sedikit.

“Ya berdoa, nabung, sedikit demi sedikit, Rp50.000 sampai Rp100.000,” katanya.

Kepada petugas bank, Nunung juga sempat mengungkapkan keraguannya karena penghasilannya tidak besar. Namun jawaban petugas justru membuatnya semakin yakin.

“‘Enggak apa-apa, ibu, nanti uangnya Allah yang nambahin,’ kata si petugas,” ujarnya.

Sejak saat itu, Nunung membiasakan diri menabung selepas salat subuh. Nilainya tidak besar, tetapi dilakukan secara rutin selama bertahun-tahun.

Hingga pada 2013, tabungannya mencapai Rp23,5 juta dan cukup untuk mendaftar haji serta mendapatkan nomor porsi keberangkatan. Setelah menunggu selama 12 tahun, panggilan ke Tanah Suci akhirnya datang.

“Alhamdulillah, bener-bener barokah bisa sampai sini,” katanya dengan suara bergetar.

Momen pertama kali melihat Ka’bah menjadi pengalaman paling membekas baginya. Nunung mengaku tak mampu membendung rasa haru ketika berhasil mencium Hajar Aswad dan melaksanakan tawaf.

“Bisa cium Ka’bah, Hajar Aswad, terus dijagainmutawwif-nya. Demi Allah, rasanya bersyukur banget,” ujarnya sambil menahan tangis.

Tak hanya itu, selama berada di Madinah, Nunung juga mendapatkan kesempatan masuk Raudhah hingga empat kali. Meski sempat mengalami sakit kaki selama menjalani ibadah, dia mengaku hanya memiliki satu harapan sederhana selama di Tanah Suci.

“Saya berdoa jangan nyusahin orang lain di sini. Alhamdulillah Allah dengar doa saya,” katanya.

Nunung berangkat haji seorang diri. Di depan Ka’bah, dia memanjatkan doa agar suatu saat bisa kembali lagi bersama suami dan anak-anaknya.

“Saya berdoa suatu hari nanti, suami dan anak-anak bisa umrah, bisa ngerasain tawaf, sai, menikmati kehidupan di Makkah, Madinah, dan masuk ke Raudhah,” ujarnya.

Guru ngaji asal Ciputat, Nurhayati, yang mampu berangkat haji setelah menabung lama meskipun sedikit. / dok. Media Center Haji (MCH) 2026
Guru ngaji asal Ciputat, Nurhayati, yang mampu berangkat haji setelah menabung lama meskipun sedikit. / dok. Media Center Haji (MCH) 2026

#guru-ngaji #menabung-haji #perjalanan-haji #tanah-suci #ciputat-tangerang #setoran-awal #mengajar-mengaji #keterbatasan-ekonomi #tabungan-haji #salat-subuh #mendaftar-haji #nomor-porsi #panggilan-haji

https://kabar24.bisnis.com/read/20260510/79/1972711/kisah-haru-guru-ngaji-menjemput-haji-rutin-menabung-usai-salat-subuh-walau-kecil