Riset 100 Tahun: Hanya Segelintir Saham yang Gerakkan Wall Street

Riset 100 Tahun: Hanya Segelintir Saham yang Gerakkan Wall Street

Riset 100 tahun menunjukkan sebagian besar keuntungan pasar saham ternyata hanya berasal dari sedikit perusahaan besar.

(Kompas.com) 10/05/26 17:09 217079

KOMPAS.com - Pergerakan pasar saham global dalam beberapa tahun terakhir banyak ditopang segelintir perusahaan teknologi raksasa.

Di Amerika Serikat (AS), kelompok saham seperti Nvidia, Apple, Microsoft, Amazon, Meta, Alphabet, dan Tesla bahkan dijuluki “Magnificent Seven” atau “Tujuh Besar” karena mendominasi kenaikan indeks saham.

Sebelumnya, pasar juga mengenal kelompok FANG, singkatan dari Facebook, Amazon, Netflix, dan Google. Apple terkadang ikut dimasukkan dalam kelompok tersebut.

Fenomena ini sering memunculkan anggapan pasar saham sedang “tipis”, yakni ketika hanya beberapa saham besar yang naik sementara mayoritas saham lain tertinggal.

Banyak analis menilai kondisi seperti itu menjadi sinyal pasar rentan terkoreksi.

Namun, riset profesor Arizona State University Hendrik Bessembinder yang dilansir CNBC menunjukkan kondisi tersebut bukan hal baru.

Dalam hampir 100 tahun terakhir, sebagian besar keuntungan pasar saham memang berasal dari sedikit perusahaan besar.

Penelitian terhadap hampir 30.000 saham periode 1926 hingga 2025 menunjukkan rata-rata imbal hasil pasar mencapai lebih dari 30.000 persen.

Sebaliknya, saham median malah mencatat imbal hasil minus 6,9 persen.

Artinya, mayoritas saham sebenarnya tidak menghasilkan keuntungan besar bagi investor dalam jangka panjang.

“Hanya 46 perusahaan yang menyumbang setengah dari kekayaan yang diciptakan pasar saham selama 100 tahun terakhir,” tulis Bessembinder dalam risetnya.

Pasar saham tetap unggul dalam jangka panjang

Meski begitu, penelitian tersebut menunjukkan pasar saham tetap menjadi instrumen pembentuk kekayaan paling kuat dalam jangka panjang.

Menurut Bessembinder, pasar saham AS menghasilkan kekayaan sekitar 91 triliun dollar AS atau setara Rp 1.581.307 triliun selama satu abad terakhir, dengan kurs Rp 17.377 per dollar AS.

Sebagai perbandingan, investasi 1 dollar AS di pasar saham sejak 1926 berkembang menjadi 15.401 dollar AS atau sekitar Rp 267,6 juta.

Sementara investasi 1 dollar AS pada obligasi pemerintah AS hanya tumbuh menjadi 25,34 dollar AS atau sekitar Rp 440.660.

“Dalam jangka pendek, pasar saham sangat fluktuatif. Apa pun bisa terjadi. Pasar saham bisa turun 50 persen dalam waktu kurang dari setahun,” kata Bessembinder kepada CNBC Make It.

“Dalam jangka panjang, pasar saham telah menjadi mesin pembangun kekayaan yang luar biasa bagi investor,” lanjut dia.

Menurut riset tersebut, saham dengan kinerja terbaik umumnya bertahan lama dan menikmati efek bunga majemuk.

Beberapa contohnya yakni Altria yang sebelumnya bernama Philip Morris, lalu perusahaan material Vulcan Materials, serta International Business Machines Corporation atau IBM.

Sulit mencari saham pemenang

Meski banyak investor tergoda mencari “saham berikutnya” yang mampu melesat besar, Bessembinder mengingatkan proses tersebut sangat sulit.

“Ada perbedaan besar antara mengidentifikasi saham-saham ini dengan melihat ke belakang dan mencoba mengidentifikasinya ke depan,” katanya.

Ia menilai mayoritas investor tidak memiliki kemampuan konsisten memilih saham terbaik.

Data penelitiannya menunjukkan hanya 27,6 persen saham yang mampu mengungguli pasar secara keseluruhan.

Artinya, mayoritas saham malah berkinerja lebih buruk dibanding indeks pasar.

Sekitar 60 persen saham dalam sampel penelitian bahkan membuat investor mengalami penurunan kekayaan.

Kondisi serupa juga terlihat pada manajer investasi profesional.

Menurut data S&P Dow Jones Indices, sekitar 79 persen manajer reksa dana saham perusahaan besar gagal mengalahkan indeks S&P 500 pada 2025.

Tahun itu menjadi tahun ke-16 berturut-turut ketika lebih dari separuh manajer investasi profesional kalah dari indeks pasar.

“Alasan Anda benar-benar tidak ingin menghabiskan waktu mencoba memilih saham terbaik adalah karena betapa tidak suksesnya orang-orang yang memang dibayar untuk melakukan itu,” kata Kepala Strategi Investasi CFRA Sam Stovall.

Diversifikasi dinilai lebih realistis

Karena itu, banyak penasihat keuangan menyarankan investor ritel membangun portofolio yang terdiversifikasi luas.

Strategi tersebut membuat investor tetap memiliki peluang menikmati kenaikan saham-saham besar tanpa terlalu bergantung pada satu perusahaan.

Selain itu, risiko kerugian besar akibat salah memilih saham juga lebih kecil.

Perencana keuangan Bone Fide Wealth Doug Boneparth mengatakan strategi investasi pasif jangka panjang tetap menjadi pendekatan paling realistis bagi mayoritas investor.

“Yang tepat untuk sebagian besar investor ritel adalah berpartisipasi di pasar untuk jangka panjang dengan menjadi investor pasif, menjaga biaya tetap rendah, dan mengendalikan emosi ketika keadaan menjadi kacau,” katanya.

“Cara-cara investasi jangka panjang yang teruji dan sangat disiplin inilah yang pada akhirnya berhasil,” lanjut dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#wall-street #pasar-saham

https://money.kompas.com/read/2026/05/10/170900126/riset-100-tahun--hanya-segelintir-saham-yang-gerakkan-wall-street