Nasib Industri Kosmetik di Tengah Tekanan Kurs dan Gejolak Geopolitik
Industri kosmetik Indonesia menghadapi tantangan besar akibat ketergantungan impor bahan baku dan gejolak geopolitik, meski proyeksi pertumbuhan pasar mencapai US$10 miliar pada 2026.
(Bisnis.Com) 11/05/26 07:30 217289
Bisnis.com, JAKARTA — Industri kosmetik menghadapi jalan yang cukup berat untuk menangkap peluang potensi pertumbuhan yang diproyeksikan melampaui US$10 miliar pada 2026.
Ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor hingga potensi kenaikan harga, seiring tekanan geopolitik yang belum mereda menjadi hambatan nyata untuk mencapai potensi besar tersebut.
Sektor kosmetik nasional merupakan salah satu subsektor prioritas yang diklaim memiliki kinerja baik. Kementerian Perindustrian mencatat, nilai pasar industri kosmetik Indonesia pada 2025 mencapai sekitar US$9,74 miliar dengan proyeksi pertumbuhan tahunan sebesar 4,33% hingga 4,37%. Selain itu, kinerja ekspor kosmetik meningkat dari US$416,8 juta pada 2024 menjadi US$473,8 juta pada 2025.
Berbagai lembaga riset termasuk Statista juga memproyeksikan nilai pasar kosmetik Indonesia pada 2026 menembus lebih dari US$10 miliar dengan rata-rata pertumbuhan di atas 5,5% dalam lima tahun ke depan.
Pertumbuhan industri kosmetik juga tercermin dari meningkatnya jumlah pelaku usaha. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), terdapat 1.684 industri kosmetik di Indonesia dan sekitar 85% di antaranya merupakan industri kecil dan menengah (IKM).
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita menjelaskan, di tengah gambaran positif ini, penguatan ekosistem industri kosmetik masih menghadapi tantangan dari sisi bahan baku. “Karena bahan baku kosmetik masih didominasi impor hingga sekitar 80 persen,” ujarnya di sela-sela acara Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) ke-16.
Hal serupa disampaikan Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) Sancoyo Antarikso. Menurutnya, sebagian bahan baku utama sebenarnya sudah dapat diproduksi di dalam negeri, khususnya untuk produk tertentu seperti sabun mandi berbasis crude palm oil (CPO) dan palm kernel oil (PKO). Namun, berbagai bahan tambahan lain masih bergantung pada impor karena keterbatasan teknologi dan skala ekonomis.
“Kalau kosmetik itu dalam satu SKU (Stock Keeping Unit), jumlah bahan bakunya bisa puluhan. Nah, puluhan itu kecil-kecil, kadang kalau mau bikin di sini (dalam negeri), agak nggak masuk skala ekonomisnya,“ sebut Sancoyo.

Seiring konflik yang memanas di Timur Tengah, industri juga harus menghadapi kenaikan biaya produksi akibat penguatan dolar AS dan terganggunya rantai pasok internasional. Selain bahan baku kosmetik, industri juga terdampak kenaikan harga bahan kemasan berbasis petrokimia dan plastik.
“Dolarnya makin mahal, supply chain terganggu, bahan baku petrochemicals juga terdampak. Bahan-bahan kemasan juga terdampak,” imbuhnya.
Harga Melonjak
Ketua Umum Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) Indonesia Solihin Sofian mengatakan, perang di kawasan Teluk telah memicu kelangkaan bahan baku turunan minyak yang selama ini menjadi komponen penting industri kosmetik, terutama untuk kemasan plastik dan bahan dasar produk.
Menurutnya, harga bahan baku kemasan plastik saat ini melonjak hingga 100%—129% dibandingkan sebelum konflik terjadi. Padahal, komponen kemasan menyumbang sekitar 25% terhadap struktur biaya produksi atau cost of goods sold (COGS) industri kosmetik.
Solohin menjelaskan, tekanan terbesar dirasakan pada produk kosmetik yang menggunakan kemasan plastik seperti sampo, lotion, dan krim. Sementara itu, produk parfum relatif lebih stabil karena mayoritas menggunakan kemasan berbahan kaca.
Selain kemasan, kenaikan juga terjadi pada bahan baku dasar kosmetik berbasis minyak seperti white oil dan propylene glycol yang naik sekitar 42%—47%.
“Tentu (konflik geopolitik) dampaknya luar biasa besar, bukan hanya shortage saja, tapi juga kenaikan harga,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (10/5/2026).

Solohin menyebut, akibat kondisi ini, industri kosmetik skala besar hanya stok bahan baku hanya mampu bertahan dalam 6 bulan. Industri yang semakin kecil skalanya sampai ke UMKM, mungkin hanya bisa bertahan dalam hitungan mingguan.
“Jadi kalau saya hitung-hitung, industri menengah itu akan bisa bertahan sampai akhir bulan Mei, dalam hal penyediaan bahan baku kemasan,” imbuhnya.
Menurutnya, kondisi tersebut mulai memaksa pelaku industri menaikkan harga jual produk. Dia menyebut sebagian industri kosmetik skala menengah telah menaikkan harga produk sebesar 9%—21%, bahkan ada yang melakukan penyesuaian harga dua kali dalam sebulan.
Kondisi itu dinilai berisiko menggerus daya saing produk lokal, terutama ketika harga kosmetik domestik mulai melampaui produk impor yang lebih murah. “Begitu naik, harga itu berada di atas harga produk-produk import, maka ini kembali tekanan kepada industri kosmetika lokal nasional,” tegasnya.
Selain kenaikan bahan baku, industri juga menghadapi tekanan dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS karena sekitar 80% bahan baku kosmetik nasional masih bergantung pada impor. Solihin menambahkan biaya logistik dan asuransi pengiriman juga melonjak akibat tingginya risiko geopolitik di jalur perdagangan internasional.
Tekanan tersebut, lanjutnya, dapat berujung pada penurunan utilisasi industri hingga efisiensi tenaga kerja apabila situasi tidak segera membaik. “Kalau kapasitas produksi nasional kosmetika turun, tentu langkah yang paling tidak enak yaitu PHK,” sebut Solihin.
Dia menjelaskan pelaku industri saat ini masih berupaya bertahan dengan menekan margin keuntungan dan melakukan berbagai langkah efisiensi, mulai dari mengurangi jumlah shift produksi hingga menghentikan produk yang kurang laku di pasar. Solihin memprediksi, bila penurunan produksi terjadi sampai 15%, maka efisiensi tenaga kerja juga bisa sekitar 15%.
Dorong Pasokan Baru & Hilirisasi
Dia mendorong pemerintah mempercepat proses perizinan impor dari negara sumber baru untuk menjaga pasokan bahan baku industri. Selain itu, Solihin menilai pengembangan bahan baku lokal dan peningkatan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan industri kosmetik nasional.
CEO Martha Tilaar Group Martha Tilaar Group, Kilala Tilaar mengatakan, Indonesia memiliki potensi besar melalui kekayaan tanaman herbal, aromatik, dan kosmetik yang belum dimanfaatkan optimal sebagai bahan baku kosmetik.
“Indonesia punya 33.000 tanaman obat, aromatik, dan kosmetik. Belum kita manfaatin, dimanfaatin oleh orang-orang luar negeri, diambil bahan baku mentahnya, diproses di luar negeri, balik lagi ke sini, dengan harga mungkin 8 kali lipat misalnya,” tuturnya.
Dia optimistis industri kosmetik Indonesia memiliki peluang menjadi kekuatan baru di pasar global melalui pengembangan identitas produk lokal.
“Mimpi kita bersama adalah kita mau geser K-Beauty. Mungkin 10 tahun lagi, kita mau menciptakan Indonesian Beauty,” tegas pria yang karib dipanggil Kiki itu.
#kosmetik #industri-kosmetik #bahan-baku-impor #pertumbuhan-industri-kosmetik #pasar-kosmetik-indonesia #ekspor-kosmetik #bahan-baku-lokal #harga-bahan-baku #kemasan-plastik #tekanan-geopolitik #nilai