Ini Daftar Pembahasan Trump Saat Bertemu Xi Jinping, dari Isu Taiwan hingga Selat Hormuz
Trump bertemu Xi Jinping di Beijing bahas Taiwan, Selat Hormuz, AI, dan perdagangan. Pertemuan ini bertujuan meredakan ketegangan dan meningkatkan kerja sama.
(Bisnis.Com) 14/05/26 20:38 221378
Bisnis.com, JAKARTA — Presiden AS Donald Trump menggelar pertemuan dengan Presiden China Xi Jinping pada hari ini, Kamis (14/5/2026), di Beijing, China. Dalam pertemuan itu, sejumlah isu dibahas mulai dari Taiwan hingga Selat Hormuz.
Dilansir dari CNBC, Trump tiba di Beijing pada Rabu (13/5/2026) disambut Wakil Presiden China Han Zheng. Kemudian, Trump menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) dengan Xi Jinping di Beijing pada hari ini, Kamis (14/5/2026).
Trump telah berpartisipasi dalam upacara penyambutan dan mengadakan pertemuan bilateral dengan Xi Jinping. Kemudian, Trump mengunjungi Kuil Surga yang bersejarah dan menghadiri jamuan makan kenegaraan.
Trump kemudian dijadwalkan meninggalkan China pada esok hari, Jumat (15/5/2026) setelah minum teh dan makan siang dengan Xi Jinping.
Senator Steve Daines yang juga turut melakukan perjalanan ke China bersama delegasi kongres mengatakan bahwa terdapat kepentingan kedua pemimpin untuk menjaga hubungan tetap stabil. Selain itu, pertemuan keduanya sebagai upaya untuk meredakan ketegangan, bukan memutuskan hubungan.
"Kami berharap melihat beberapa kesepakatan perdagangan yang dihasilkan, saya pikir itu akan terkait dengan Boeing, daging sapi, dan kacang-kacangan," kata Daines dilansir dari CNBC pada Kamis (14/5/2026).
Adapun, dalam pertemuan Trump dengan Xi Jinping tersebut, terdapat sejumlah isu yang dibahas:
Saat Xi Singgung Thucydides Trap
Dalam pertemuan dengan Trump, Xi Jinping membuka pembahasan dengan adanya kekhawatiran prospek perang di masa depan antara AS dan China.
“Seluruh dunia menyaksikan pertemuan kita,” kata Xi dilansir dari New York Post.
Menurut Xi, saat ini transformasi yang belum pernah terjadi dalam satu abad sedang dipercepat di seluruh dunia. Situasi internasional pun bersifat dinamis dan bergejolak. Dunia pun menurutnya telah sampai di persimpangan jalan baru.
“Bisakah China dan Amerika Serikat mengatasi Thucydides Trap dan menciptakan paradigma baru hubungan antar negara besar? Bisakah kita menghadapi tantangan global bersama dan memberikan lebih banyak stabilitas bagi dunia? Bisakah kita, demi kesejahteraan kedua bangsa kita dan masa depan umat manusia, membangun masa depan yang lebih cerah bersama untuk hubungan bilateral kita?" kata Xi.
Xi merujuk pada konsep geopolitik yang dikenal sebagai Thucydides Trap, atau risiko yang muncul ketika kekuatan yang sedang berkembang menantang kekuatan yang lebih kuat dan mapan.
Konsep tersebut dicetuskan oleh profesor Harvard Graham Allison, setidaknya sejak 2014. Konsep itu dinamai mengacu sejarawan Yunani kuno Thucydides yang menulis bahwa kebangkitan Athena menempatkan Sparta pada posisi defensif sedemikian rupa sehingga perang tidak dapat dihindari.
Trump yang berbicara setelah Xi tidak secara spesifik menanggapi pernyataan Xi. Namun, Trump memprediksi hubungan antara China dan AS akan lebih baik dari sebelumnya.
“Suatu kehormatan berada bersama Anda. Suatu kehormatan menjadi teman Anda. Saya sangat menantikan diskusi kita. Ini diskusi besar. Ada yang mengatakan, ini mungkin pertemuan puncak terbesar yang pernah ada," kata Trump.
Persoalan Taiwan Dinilai Penting
Dilansir BBC, pada pertemuan bilateral itu, Xi mengatakan kepada Trump bahwa Taiwan adalah isu terpenting dalam hubungan mereka, mengacu media pemerintah China. Xi memperingatkan bahwa jika isu Taiwan tidak ditangani dengan benar, akan terjadi bentrokan dan bahkan konflik, yang membahayakan seluruh hubungan kedua negara.
Xi juga mengangkat isu kemerdekaan Taiwan memperingatkan bahwa AS harus berhati-hati ekstra dalam urusan Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri itu.
China mengklaim Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai bagian dari wilayahnya. Akan tetapi, pulau itu menganggap dirinya sebagai entitas yang berbeda.
AS memiliki hubungan formal dengan Beijing, bukan Taiwan. AS telah menempuh jalan diplomatik yang sulit selama beberapa dekade. Namun, AS tetap menjadi sekutu kuat Taiwan dan merupakan pemasok senjata terbesar bagi pulau tersebut.
Di sisi AS, tidak ada indikasi Trump membicarakan Taiwan selama pertemuannya dengan Xi Jinping. Namun pekan lalu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan Taiwan akan menjadi topik pembicaraan di KTT, dengan tujuan mencegah isu tersebut menjadi sumber ketegangan antara AS dan China.
Isu Tarif
Untuk isu tarif dan perang dagang, kedua belah pihak masih akan memiliki banyak hal untuk dibicarakan, karena solusi permanen masih sulit dicapai.
Trump diperkirakan akan mendorong peningkatan pembelian barang-barang dari industri-industri vital AS oleh China, termasuk kedelai dan suku cadang pesawat terbang.
Beijing berada dalam posisi yang kuat, dengan tingkat ekspor yang mencapai rekor, tetapi tetap membutuhkan pasar konsumen AS.
Selain itu, Xi menekan AS untuk menghentikan penyelidikan perdagangan yang baru-baru ini diumumkan terkait praktik bisnis yang tidak adil.
Pembicaraan Perihal AI
Dilansir dari CNBC, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan bahwa AS dapat berbicara dengan China tentang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sebab, saat ini kedua negara berada di posisi terdepan.
"Kedua negara adidaya AI akan mulai berbicara. Kita akan menetapkan protokol tentang bagaimana kita melanjutkan praktik terbaik untuk AI guna memastikan aktor non-negara tidak mendapatkan kendali atas model-model ini," kata Bessent.
Soal Selat Hormuz
Trump sebenarnya telah bersikeras bahwa ia tidak membutuhkan bantuan China untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Namun, dia tetap dinilai akan mendorong Beijing untuk meyakinkan Teheran dalam membuat kesepakatan.
China sendiri sangat ingin perang berakhir dan mencoba untuk turun tangan secara diam-diam sebagai penengah.
Di sisi lain, dilansir dari Anadolu, kedua negara sepakat bahwa Selat Hormuz yang terdampak perang Iran dengan AS harus tetap terbuka.
“Kedua pihak sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka untuk mendukung arus energi bebas. Presiden Xi juga menegaskan penentangan China terhadap militerisasi Selat dan setiap upaya untuk mengenakan biaya atas penggunaannya, dan beliau menyatakan minat untuk membeli lebih banyak minyak Amerika untuk mengurangi ketergantungan China pada Selat Hormuz di masa mendatang,” kata Gedung Putih dilansir Anadolu.
Hadirnya Deretan CEO Top Global
Adapun, dilansir dari Al Jazeera, dalam pertemuan dengan Xi Jinping, Trump membawa deretan pengusaha besar AS, mulai dari CEO Tesla Elon Musk hingga CEO Apple Tim Cook. Selain itu, CEO Nvidia Jensen Huang serta CEO BlackRock Larry Fink pun turut serta.
Setibanya di Beijing pada kemarin, Trump memperkenalkan rombongan tersebut dengan mengatakan kepada Xi bahwa mereka semua adalah perwakilan terhormat dari komunitas bisnis AS. Trump juga mengatakan mereka menghormati dan menghargai China.
Trump juga menjelaskan bahwa AS berharap dapat melakukan lebih banyak bisnis di China.
Sementara, Xi Jinping menanggapi dengan menyambut akan adanya lebih banyak kerja sama yang saling menguntungkan dan meyakinkan mereka bahwa perusahaan-perusahaan AS akan memiliki prospek yang lebih luas di China.
Berikut daftar deretan pengusaha AS yang diajak Trump ke China:
- Tim Cook (CEO Apple)
- Larry Fink (CEO BlackRock)
- Stephen Schwarzman (CEO Blackstone)
- Kelly Ortberg (CEO Boeing)
- Brian Sikes (CEO Cargill)
- Jane Fraser (CEO Citi)
- Jim Anderson (CEO Coherent)
- Larry Culp (CEO GE Aerospace)
- David Solomon (CEO Goldman Sachs)
- Jacob Thaysen (CEO Illumina)
- Michael Miebach (CEO Mastercard)
- Dina Powell McCormick (President and Vice Chairman Meta)
- Sanjay Mehrotra (CEO Micron)
- Jensen Huang (CEO Nvidia)
- Cristiano Amon (CEO Qualcomm)
- Elon Musk (CEO Tesla)
- Ryan McInerney (CEO Visa)
#trump-xi-jinping #pertemuan-trump-xi #isu-taiwan #selat-hormuz #hubungan-as-china #thucydides-trap #perdagangan-as-china #tarif-perdagangan #kecerdasan-buatan #ai-as-china #konflik-iran #selat-hormuz