Kurs Rupiah Anjlok, Bagaimana Cara Siapkan Biaya Sekolah Anak di Luar Negeri?
Pelemahan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS menjadi tantangan sendiri bagi biaya pendidikan anak yang sekolah di luar negeri.
(Kompas.com) 15/05/26 16:44 221941
JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dollar AS menjadi tantangan sendiri bagi biaya pendidikan anak yang sekolah di luar negeri.
Tak pelak, nilai tukar yang melemah membuat biaya sekolah anak di luar negeri melambung dan bukan tidak mungkin membebani pos keuangan keluarga di pertengahan tahun nanti.
Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika mengatakan, bagi keluarga yang memiliki kewajiban pembayaran pendidikan di luar negeri, strategi membeli dollar AS secara bertahap justru lebih aman dibanding menunggu kurs turun.
"Karena kebutuhan tersebut sifatnya pasti dan berulang, maka pendekatan averaging biasanya lebih efektif untuk mengurangi risiko lonjakan kurs mendadak," kata dia kepada Kompas.com, Jumat (15/5/2026).
Berdasarkan pantauan Kompas.com, pada penutupan pasar spot, Jumat (15/5/2026), nilai tukar rupiah berada di level 15.595 per dollar AS.
Angka ini masih melemah 67,5 poin atau setara 0,39 persen dibandingkan penutupan kemarin.
Ia menambahkan, keluarga bisa membuat jadwal pembelian dollar AS bulanan atau per kuartal sesuai kebutuhan biaya pendidikan.
"Dengan begitu, beban kurs lebih tersebar dan tidak terlalu berat ketika terjadi pelemahan rupiah yang tajam," imbuh dia.
Selain itu, Rista menyebut, penting juga untuk memisahkan rekening khusus pendidikan dalam valuta asing.
Ia juga berpesan agar keluarga menghitung ulang proyeksi biaya hidup dan pendidikan.
"Serta menyiapkan buffer dana tambahan karena kenaikan kurs biasanya juga berdampak pada biaya hidup di luar negeri," terang dia.
Rista berpandangan,menunggu dollar turun sebenarnya boleh saja, tetapi cukup berisiko jika kebutuhan pembayaran sudah dekat.
"Karena itu, lebih baik fokus pada kepastian kebutuhan daripada berspekulasi terhadap arah kurs" tutup dia.
Persiapan keuangan pendidikan di luar negeri
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menjelaskan, dalam merencaakan pendidikan hal pertama yang harus dilakukan adalah mencari tahu berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk menyekolahkan anak ke luar negeri.
Biaya yang perlu dicari mulai dari uang pangkal, biaya per semester, hingga biaya hidup bulanan di negara tujuan.
Hal lainnya yang perlu diperhatikan adalah perbedaan mata uang. Biaya pendidikan di luar negeri umumnya menggunakan mata uang asing.
Oleh karena itu, sebaiknya dana pendidikan juga disiapkan dalam mata uang negara tujuan atau bisa juga dalam dollar AS.
Investasi dalam mata uang dolar AS bisa menjadi salah satu opsi dalam perencanaan biaya pendidikan.
Setelah mengetahui seluruh biaya selama anak menempuh pendidikannya di luar negeri, dengan sudah memperhitungkan faktor inflasi, langkah berikutnya adalah menentukan instrumen investasi yang tepat untuk mengembangkan dana pendidikan anak.
Perlu diketahui, dana pendidikan adalah dana yang harus ada saat dibutuhkan.
Untuk itu, selain penempatan pada kelas aset pasar uang seperti pada tabungan dan deposito berdenominasi dollar AS, perlu juga menambahkan porsi reksa dana saham sebagai booster.
Ini menjadi penting mengingat sifat saham yang likuid atau mudah untuk dijual kembali serta memiliki potensi pengembalian hasil yang tinggi.
Berdasarkan keterangan Manulife Asset Manajemen, penempatan dana investasi di reksa dana saham bisa menjadi pilihan jika persiapan dilakukan dalam jangka waktu yang cukup panjang atau di atas 10 tahun.
Apalagi saat ini sudah ada beberapa reksa dana berdenominasi dollar AS yang menangkap peluang investasi di pasar saham domestik dan luar negeri.
Minat pendidikan di luar negeri meningkat
Seiring meningkatnya minat pendidikan global, jumlah pelajar Indonesia yang belajar di luar negeri tumbuh 21 persen sejak 2014 hingga 2024, menurut data UNESCO Institute for Statistics.
Namun, kenaikan biaya pendidikan luar negeri sekitar 5-7 persen per tahun menjadi tantangan tersendiri.
Sementara, biaya kuliah di negara-negara favorit seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, dan Australia berkisar antara 20.000 dollar AS hingga 60.000 dollar AS per tahun.
Angka tersebut sekitar Rp 352,24 juta hingga Rp 1,05 miliar dalam asumsi kurs Rp 17.612 per dollar AS.
Jumlah tersebut belum termasuk biaya hidup yang mencapai 10.000 dollar AS hingga 15.000 dollar AS per tahun.
Angka tersebut sekitar Rp 176,12 juta hingga Rp 264,18 juta dalam asumsi kurs Rp 17.612 per dollar AS.
Alasan nilai tukar terus melemah
Analis Mata Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan kurs rupiah disebabkan oleh dua faktor, yakni internal dan eksternal.
Untuk internal, adanya perdebatan terkait data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang tercatat 5,61 persen.
Angka itu berada di luar ekspektasi pemerintah, Bank Indonesia (BI), maupun mayoritas ekonom dan analis.
“Nah dari segi internal ya, kita tahu bahwa ada perdebatan tentang data pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama yang di luar ekspektasi pemerintah, Bank Indonesia maupun para ekonom atau analis yang semuanya itu adalah di bawah 5,61 persen,” ujar Ibrahim saat dikonfirmasi Kompas.com.
Di sisi lain, tekanan global meningkat akibat lonjakan harga minyak dan terganggunya distribusi energi karena konflik di Timur Tengah.
Ketegangan di Selat Hormuz hingga potensi perang terbuka antara Amerika Serikat dan Iran dinilai menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak dan penguatan indeks dollar.
“Saya melihat bahwa rupiah hari ini diperdagangkan melemah karena menguatnya dollar AS pada perdagangan hari ini, ya bahkan kemarin pun juga pada memasuki pasar Amerika, indeks dollar terus mengalami penguatan,” ucap Ibrahim.
Di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz, masih menjadi momok utama pasar keuangan global.
Ketegangan meningkat setelah muncul informasi mengenai penyerangan terhadap instalasi minyak Iran yang disebut melibatkan Uni Emirat Arab (UEA) dan Arab Saudi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang