Under the Volcano Sorot Relasi Manusia dengan Alam di Venesia
Pertunjukan teater "Under the Volcano" di Biennale Teatro Venezia 2026 menyoroti relasi manusia dengan bencana alam, menampilkan ekspresi fisik dan budaya Minangkabau.
(Bisnis.Com) 15/05/26 19:45 222051
Bisnis.com, JAKARTA — Pertunjukan teater Under the Volcano yang akan tampil dalam Biennale Teatro Venezia 2026 mengangkat relasi manusia dengan bencana alam sebagai bagian dari kehidupan bersama lingkungan.
Pertunjukan yang terinspirasi dari Syair Lampung Karam (1883) karya Muhammad Saleh ini merekam respons manusia terhadap peristiwa alam. Produksi tersebut telah dikembangkan sejak 2014 dan kini memasuki generasi ketiga pemain.
Salah satu aktor, Indra Jaya, mengungkapkan proses latihan tidak hanya berfokus pada akting, tetapi juga pemahaman tubuh. Pertunjukan ini lebih menekankan ekspresi fisik dibanding dialog.
“Yang ditampilkan adalah teater yang lebih dominan tubuh daripada dialog. Akhirnya aku harus belajar bagaimana tubuh-tubuh Minang itu,” ujar Indra.
Sebagai aktor asal Makassar, dia harus beradaptasi dengan budaya Minangkabau yang menjadi basis gerak pertunjukan. Untuk itu, dia mempelajari dasar-dasar silat Minangkabau sebagai pintu masuk memahami pola tubuh masyarakat setempat.
Arahan dari sutradara Yusril juga menuntut pendekatan observasional. Indra diminta datang langsung ke Padang Panjang untuk mengamati kehidupan sehari-hari masyarakat.
“Jadi itu yang aku lihat, bagaimana masyarakat berinteraksi. Aku keliling jalan kaki untuk observasi,” katanya.
Menurut dia, pengalaman tersebut membantu membangun pemahaman terhadap atmosfer sosial dan geografis yang membentuk pertunjukan. Hingga kini, persiapan menuju pementasan disebut telah mencapai sekitar 80 persen dengan fokus akhir pada penyatuan elemen teknis panggung.
Sementara itu, Direktur Artistik Bumi Purnati Indonesia, Restu Imansari Kusumaningrum menegaskan bahwa partisipasi ini bukan sekadar tampil di festival internasional, tetapi memperlihatkan kekayaan seni pertunjukan Indonesia kepada dunia.
Dia menyebut festival ini menjadi panggung penting untuk memperkenalkan tradisi Indonesia di tengah tema Alternative Native yang diangkat penyelenggara tahun ini. Tema tersebut berbicara mengenai alternatif, perubahan di tengah dunia yang bergejolak.
Restu menilai Asia Tenggara, khususnya budaya Melayu, selama ini masih seperti ruang kosong dalam panggung teater internasional. Di tengah dominasi budaya populer dari China, Jepang, dan Korea Selatan, Indonesia justru dianggap menyimpan kekuatan lain yang belum banyak diperlihatkan.
“Kalau ngomongin tema Alter-Native, nggak ada Indonesia, festival lo nggak jadi,” ujarnya. Menurut dia, akar budaya Melayu yang hidup di Indonesia juga menjadi unsur penting yang ingin dilihat kurator festival tahun ini.
#teater-under-the-volcano #biennale-teatro-venezia #relasi-manusia-alam #syair-lampung-karam #pertunjukan-teater-indonesia #ekspresi-fisik-teater #budaya-minangkabau #silat-minangkabau #observasi-padan