Viral Siswi Protes Lomba Cerdas Cermat, Benarkah Gen Z Lebih Vokal Menyuarakan Pendapat?
Siswi Gen Z protes di lomba cerdas cermat, mencerminkan keberanian generasi ini dalam menyuarakan pendapat, dipengaruhi teknologi dan pola asuh permisif.
(Bisnis.Com) 15/05/26 20:10 222068
Bisnis.com, JAKARTA - Keberanian Josepha Alexandra menyampaikan pandangannya dalam Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI 2026 tingkat Provinsi Kalimantan Barat menarik perhatian banyak orang.
Keberaniannya menginterupsi di tengah lomba ketika merasa ada kekeliruan menuai simpati dan dukungan publik. Peristiwa tersebut turut memunculkan perbincangan soal karakter generasi muda, khususnya Gen Z, yang kerap dianggap dinilai lebih berani dan terbuka dalam menyuarakan pendapat. Lalu, apakah benar generasi ini memiliki kecenderungan lebih vokal dibanding generasi sebelumnya?
Psikolog Anak dan Keluarga dari Universitas Indonesia, Rose Mini, menilai setiap generasi umumnya memang memiliki kecenderungan karakter tertentu yang terbentuk oleh zamannya. Meski begitu, dia menegaskan bahwa karakter sebuah generasi tidak bisa disamaratakan atau dikotak-kotakkan secara kaku.
Rose menyebut Gen Z adalah generasi yang tumbuh di era ketika teknologi telah hadir sejak awal kehidupan mereka. Kondisi ini membuat mereka belajar bukan hanya dari orang tua atau lingkungan sekitar, tetapi juga dari perkembangan teknologi itu sendiri, termasuk gawai dan berbagai sumber informasi digital lainnya.
Terlebih, ketika orang tua memberi akses luas terhadap penggunaan perangkat digital, Gen Z berpeluang memperoleh informasi yang jauh lebih beragam, bahkan dalam beberapa hal melebihi pengetahuan orang tua mereka. Kondisi ini dinilainya dapat membentuk karakter yang lebih terbuka terhadap berbagai pandangandan hal baru.
“Jadi, ketika mereka merasa ada sesuatu yang tidak adil dan perlu diutarakan, memang sebaiknya disampaikan. Sebaliknya, jika hanya dipendam, itu justru tidak baik,” katanya.
Dalam kacamata psikologi, katanya, perasaan yang tidak disampaikan justru berpotensi menimbulkan kekecewaan hingga tekanan batin. Seseorang bisa saja merasa menyesal karena memilih diam saat sebenarnya ingin menyuarakan pendapat, dan kondisi seperti ini dinilai kurang baik bagi kesehatan mental.
Karena itu, dia menilai tidak ada masalah ketika seseorang menyampaikan pandangannya, selama dilakukan dengan cara yang tepat. Menurutnya, mengutarakan pendapat tetap perlu berada dalam koridor kesopanan agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik.
Pengaruh Pola Asuh
Menurut Rose Mini, karakter Gen Z yang cenderung lebih terbuka dan berani menyuarakan pendapat juga dipengaruhi pola pengasuhan dari orang tua. Dalam pengamatannya, banyak anak dari generasi ini dibesarkan dengan pendekatan permissive parenting atau pola asuh permisif.
Pola pengasuhan tersebut ditandai dengan sikap orang tua yang hangat, penuh dukungan, dan kasih sayang, tetapi minim aturan maupun batasan yang tegas. Dalam praktiknya, orang tua lebih sering berperan layaknya teman dibanding figur otoritas, serta cenderung menghindari konflik dengan mengikuti keinginan anak.
Meski demikian, ia kembali menegaskan bahwa menggeneralisasi karakter berdasarkan generasi tidak selalu tepat. Menurutnya, tidak semua Gen Z tumbuh dengan pola asuh yang sama. Dengan kondisi dunia kerja seperti sekarang, tak sedikit pula orang tua yang menerapkan pola asuh neglectful atau pengabaian.
Pola asuh ini ditandai dengan minimnya keterlibatan orang tua, baik secara emosional maupun dalam keseharian anak. Orang tua umumnya hanya memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan dan tempat tinggal, tetapi kurang memberikan perhatian, bimbingan, maupun kasih sayang yang dibutuhkan anak dalam proses tumbuh kembangnya.
#gen-z #protes-lomba-cerdas-cermat #keberanian-gen-z #menyuarakan-pendapat #pola-asuh-gen-z #teknologi-dan-gen-z #psikologi-gen-z #karakter-gen-z #pengaruh-pola-asuh #permissive-parenting #pola-asuh-pe