Kerugian tersebut dipicu melemahnya bisnis EV, termasuk dampak kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menarik kembali insentif kendaraan listrik.
(WE Finance) 17/05/26 19:20 223039
Warta Ekonomi, Jakarta -Honda mencatat kerugian sebesar 414,3 miliar yen atau sekitar Rp45,9 triliun hingga Maret 2026. Ini menjadi pertama kalinya perusahaan mengalami kerugian sejak 1957, setelah pada periode tahun sebelumnya masih membukukan laba 1,2 triliun yen atau sekitar Rp133 triliun.
Kerugian tersebut dipicu melemahnya bisnis kendaraan listrik (EV), termasuk dampak kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menarik kembali insentif kendaraan listrik dan menahan pendanaan pembangunan stasiun pengisian daya EV.
Selain itu, kebijakan tarif impor mobil dan suku cadang dari luar Amerika Serikat turut menekan keuntungan Honda. Meski tarif telah diturunkan menjadi 15 persen dari sebelumnya 25 persen, beban biaya tetap memengaruhi kinerja perusahaan.
Sepanjang tahun fiskal tersebut, kerugian bisnis EV Honda mencapai 1,45 triliun yen atau sekitar Rp160,8 triliun. Perusahaan juga memperkirakan tambahan biaya sekitar 500 miliar yen atau Rp55 triliun untuk bisnis EV pada tahun fiskal berikutnya.
Mengutip Reuters, Chief Executive Officer Honda, Toshihiro Mibe, mengumumkan perusahaan membatalkan target penjualan EV sebesar 20 persen dari total penjualan mobil baru pada 2030. Honda juga tidak lagi melanjutkan target transisi penuh menuju kendaraan listrik pada 2040.
Honda turut menunda proyek investasi EV dan baterai senilai US$11 miliar di Kanada yang sebelumnya direncanakan menjadi investasi terbesar perusahaan di negara tersebut.
Meski membukukan kerugian, saham Honda justru menguat setelah perusahaan mempertahankan dividen tahunan sebesar 70 yen per saham dan menjanjikan pengembalian kepada pemegang saham minimal 800 miliar yen dalam tiga tahun ke depan.
Di Jepang, saham Honda (7267) ditutup naik 7 persen pada perdagangan Jumat, 15 Mei 2026. Sementara di Amerika Serikat, saham (NYSE:HMC) juga menguat 5 persen.