Survei YouGov: Pembiayaan bank dinilai berandil pada perubahan iklim

Survei YouGov: Pembiayaan bank dinilai berandil pada perubahan iklim

Hasil survei YouGov atas penugasan Market Forces menunjukkan mayoritas responden Indonesia, yakni 60 persen atau tiga dari lima orang, percaya perbankan ...

(Antara) 19/05/26 15:51 225054

Jakarta (ANTARA) - Hasil survei YouGov atas penugasan Market Forces menunjukkan mayoritas responden Indonesia, yakni 60 persen atau tiga dari lima orang, percaya perbankan berkontribusi signifikan terhadap perubahan iklim jika terus mendanai tambang dan pembangunan pembangkit listrik batu bara.

"Sekitar 71 persen warga Indonesia juga percaya bahwa bank seharusnya tidak mendanai perusahaan atau proyek dengan emisi gas rumah kaca tinggi yang memperburuk perubahan iklim," kata Juru Kampanye Market Forces di Indonesia Ginanjar Ariyasuta dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.

“Ini adalah alarm penting, bukan hanya bagi perbankan, tetapi juga bagi industri mineral kritis di Indonesia. Survei ini harus ditanggapi serius oleh bank dalam menentukan ke mana mereka akan mengalokasikan dana di masa mendatang,” lanjutnya.

Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 43 persen warga Indonesia akan mempertimbangkan untuk mengganti bank mereka jika masih membiayai proyek batu bara baru.

Sebanyak 54 persen warga Indonesia juga tidak akan mempercayai perbankan yang mengaku menghentikan pembiayaan proyek batu bara, tetapi masih membiayai perusahaan yang membangun proyek tersebut.

Di samping itu, sebanyak 66 persen warga Indonesia berharap ketika bank berkomitmen untuk tidak lagi membiayai proyek batu bara baru, hal itu juga diimplementasikan untuk semua jenis proyek batu bara, termasuk PLTU captive yang dibangun untuk kebutuhan industri, seperti smelter nikel dan aluminium.

Hasil survei bertajuk “Banks and Coal Financing: Public Perception Survey across Indonesia, Malaysia, and Singapore” turut memotret pandangan masyarakat Malaysia dan Singapura.

Survei terhadap responden 4.000 orang di tiga negara tersebut dilakukan pada Maret 2026, dengan 2.000 responden di antaranya berasal dari Indonesia.

Hasil survei mencatat bahwa hampir semua warga Indonesia (96 persen) menyatakan cukup hingga sangat peduli terhadap perubahan iklim, tertinggi dibanding Malaysia (85 persen) dan Singapura (81 persen).

Sebanyak 65 persen warga menyebut mengurangi penggunaan energi batu bara dengan cepat adalah salah satu cara terbaik mengatasi perubahan iklim, juga yang tertinggi dibanding Malaysia (58 persen) dan Singapura (61 persen).

Mayoritas warga Indonesia (61 persen), yang tertinggi dibanding dua negara lainnya, tidak menganggap nikel masuk dalam kategori “hijau” jika diproduksi menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.

Direktur Asia Energy Finance dari Market Forces Bernadette Maheandiran menilai kepedulian yang dialami masyarakat di Indonesia, Malaysia, dan Singapura mengenai perubahan iklim memiliki alasan yang kuat seiring dengan dampak yang muncul mulai dari gelombang panas, banjir, badai, dan tanah longsor.

“Sebagian besar warga setuju bahwa penghentian penambangan dan pembangkit listrik batu bara secara cepat akan melindungi kita dari perubahan iklim yang berbahaya,” kata dia.

Bernadette pun memandang bahwa bank di Indonesia, Malaysia, dan Singapura harus menyadari bahwa membiayai proyek batu bara menimbulkan risiko serius bagi iklim, ekonomi, dan kepercayaan nasabah mereka.

Pewarta: Rizka Khaerunnisa
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

#survei #yougov #perbankan #pembiayaan #pembiayaan-hijau #perubahan-iklim

https://www.antaranews.com/berita/5573053/survei-yougov-pembiayaan-bank-dinilai-berandil-pada-perubahan-iklim