BPDP sebut hasil ujicoba B50 kualitas memenuhi standar
Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyatakan hasil ujicoba terhadap bahan bakar nabati biodisel 50 persen campuran minyak sawit (B50) menunjukkan ...
(Antara) 21/05/26 12:59 227548
Jakarta (ANTARA) - Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyatakan hasil ujicoba terhadap bahan bakar nabati biodisel 50 persen campuran minyak sawit (B50) menunjukkan kualitasnya memenuhi standar kadar air.
Kepala Divisi Penyaluran Dana Bahan Bakar Nabati BPDP Zuhdi Eka Nurrakhman di Jakarta, Kamis, mengatakan pemerintah menargetkan implementasi serentak B50 secara nasional pada 1 Juli 2026 setelah selesai uji coba dilakukan pada beberapa moda transportasi sejak akhir 2025.
Progresnya, untuk otomotif telah uji jalan kendaraan berat (40.000 kilometer) telah selesai dengan hasil stabil, sedangkan untuk kendaraan ringan selesai Mei 2026, sementara sektor lain, tengah diuji stabilitas penyimpanan angkutan laut yang direncanakan pada Mei 2026 dan uji kereta api selesai Oktober 2026.
"Dari hasil uji coba, 99,88 persen kualitasnya sampel memenuhi standar kadar air, maksimal 320 ppm,” kata dia.
Saat webinar "Implementasi Mendukung Hilirisasi dan Kesejahteraan Pekebun Sawit" yang diselenggarakan Tabloid Sinar Tani bekerja sama dengan BPDP, Zuhdi mengatakan, pemerintah berhasil secara konsisten mempertahankan program mandatori biodisel saat gejolak harga minyak dunia.
Bahkan 2023 telah diimpelementasikan B35 dengan realisasi penyaluran sebanyak 13,14 juta kiloliter (KL) pada 2024, sedangkan penyaluran B40 pada 2025 mencapai 14,7 juta KL.
Terkait penerapan B50, menurut dia, ada beberapa tantangan seperti kapasitas produksi masih terbatas, infrastruktur perlu diupgrade, terutama kapasitas dermaga, pengangkutan, dan tangki penyimpanan.
Kemudian ada disparitas harga bahan bakar nabati (BBN) dan bahan bakar minyak (BBM) dalam kondisi normal yang mengakibatkan pembiayaan insentif biodiesel sangat besar.
Dalam kondisi geopolitik saat ini, tambahnya, implementasi B50 pada semester II 2026 mengakibatkan pembiayaan BPDP defisit. Hitungannya, harga minyak dunia berada di bawah 100 dolar AS/barel dengan asumsi harga BBN tetap.
Sedangkan dalam kondisi normal (tanpa perang), implementasi B50 mengakibatkan defisit pembiayaan BPDP karena selisih harga indeks pasar (HIP) Biodiesel dan HIP solar memiliki tren meningkat seiring peningkatan kadar campuran biodiesel. Padahal pendapatan BPDP hanya ditopang dari Pajak Ekspor (PE).
"Hasil kajian menunjukkan untuk membiayai program B50 pada kondisi normal dibutuhkan sumber pembiayaan dari PE dengan tarif 23,8 persen, sementara tarif PE eksisting sebesar 12,5 persen," ujarnya.
Untuk itu BPDP mengusulkan ada beberapa alternatif kebijakan untuk menjaga keberlanjutan program mandatori biodiesel, di antaranya memberikan dukungan pembiayaan melalui APBN, menyesuaikan kembali tarif PE, menetapkan kadar pencampuran biodiesel sesuai kemampuan pembiayaan dan menyesuaikan harga jual di masyarakat.
Sementara itu Ketua Kelompok Substansi Pascapanen dan Pengolahan Perkebunan, Direktorat Hilirisasi Hasil Perkebunan, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian Ani Rahayuni Ratna Dewi mengatakan, untuk mendukung program biodisel paling utama adalah penyediaan bahan baku.
Namun, tambahnya, ketersediaan bahan baku menjadi tantangan tersendiri, salah satunya produktivitas tanaman sawit rata-rata hanya 3,8 ton/hektare (ha) dari potensi yang ada 5 - 6 ton/ha/tahun.
Pada 2026 diperkirakan kebutuhan biodiesel sebanyak 16.085.084 KL (B40) dan 20.106.354 KL (B50). Sedangkan kebutuhan CPO 14.958.105 ton (B40) dan 18.697.632 ton (B50).
Sementara tahun 2028, kebutuhan biodiesel sebanyak 21.330.831 KL (B50) dengan kebutuhan CPO sekitar 19.836.318 ton (B50).
Diproyeksikan pada tahun 2045 produksi minyak sawit sebanyak 60,03 juta ton atau 54,73 juta ton CPO. Sementara kebutuhan biodisel sebanyak 31,15 juta ton.
Ani mengatakan, agar ada keseimbangan antara kebutuhan pangan, ekspor dan biodisel, harus ada upaya peningkatan produksi sawit, khususnya kebun rakyat, salah satunya yakni melalui peremajaan sawit rakyat (PSR).
Untuk mendukung ketersediaan bahan baku dari petani, Ketua Umum Asosiasi Petani Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung berharap pemerintah mempermudah persyaratan PSR.
Saat ini, produktivitas tanaman sawit petani rata-rata hanya 400-800 kg/ha/tahun, padahal potensinya bisa mencapai 2,5 - 3,5 ton/ha/tahun.
Menurut dia, realisasi PSR masih sangat rendah dimana pada 2024 dari target seluas 180 ribu hektare (ha), realisasinya hanya 38.247 ha, sementara 2025 dari target 180 ribu ha terealisasi 40 ribu ha.
"Program PSR diharapkan menjadi mandatori agar pekebun bisa melaksanakan PSR dan terjadi peningkatan produktivitas tanaman. Masa depan B50 harus dibangun bersama, pemerintah, industri, akademisi dan pekebun rakyat," katanya.
Staf Sekretariat Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Rahayu Dwi Mumpuni mengatakan sejumlah tantangan pengembangan biodisel, di antaranya kebutuhan bahan baku yang meningkat, tuntutan perbaikan kualitas produksi CPO dengan meningkatnya campuran biodisel.
Dari sisi harga Aprobi berharap agar perbedaan harga antara solar dan biodiesel mengecil, namun dukungan insentif tetap dibutuhkan, guna mendukung upaya dari semua pemangku kepentingan.
"Produsen terus mendukung upaya uji kinerja dan uji jalan untuk biodiesel, tapi perlu dilakukan kajian yang lebih komprehensif dengan mempertimbangkan banyak faktor," katanya.
Pewarta: Subagyo
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
#biodisel #b50 #bpdp #badan-pengelola-dana-perkebunan #bahan-bakar-nabati #bbn
https://www.antaranews.com/berita/5576244/bpdp-sebut-hasil-ujicoba-b50-kualitas-memenuhi-standar