Menyambut Peluang di Kertajati, Indonesia Bidik Peran Industri Aviasi Asia
Indonesia berencana menjadikan Bandara Kertajati sebagai pusat MRO Hercules di Asia, membuka peluang industri aviasi dan memperkuat pertahanan nasional.
(Bisnis.Com) 28/05/26 02:35 233687
Bisnis.com, JAKARTA – Di tengah upaya pemerintah memperkuat industri pertahanan nasional, Bandara Internasional Kertajati di Majalengka, Jawa Barat, kembali menjadi sorotan.
Kali ini bukan karena sepinya penerbangan komersial atau ambisi menjadikannya pusat aerocity nasional, melainkan karena munculnya peluang menjadikan Kertajati sebagai pusat Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat Hercules/C-130 di kawasan Asia.
Gagasan yang mencuat setelah pertemuan Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin dengan pejabat pertahanan Amerika Serikat itu membuka ruang baru bagi Indonesia dalam peta industri aviasi global. Namun di saat bersamaan, rencana tersebut juga memantik diskusi panjang tentang arah politik luar negeri Indonesia, posisi strategis Kertajati dalam percaturan Indo-Pasifik, hingga risiko geopolitik yang mungkin ikut membayangi.
Bagi pemerintah, peluang itu dipandang sebagai bagian dari transformasi industri pertahanan nasional dan penguatan kapasitas aviasi dalam negeri. Akan tetapi bagi sejumlah pengamat, langkah tersebut perlu dikawal secara hati-hati agar tidak menimbulkan persepsi bahwa Indonesia sedang bergerak terlalu dekat ke orbit kepentingan pertahanan negara besar.
Di balik perdebatan itu, tersimpan pertanyaan lebih besar: mampukah Indonesia memanfaatkan momentum ini sebagai lompatan industri nasional tanpa mengorbankan prinsip bebas aktif yang selama puluhan tahun menjadi fondasi diplomasi luar negeri republik?
Dari Ruang Bilateral ke Sorotan Publik
Pembicaraan mengenai Kertajati bermula dari penjelasan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin dalam rapat bersama Komisi I DPR RI pada Selasa (19/5/2026). Dalam forum tersebut, Sjafrie mengungkapkan serangkaian komunikasi strategis antara Indonesia dan Amerika Serikat terkait kerja sama pertahanan.
Dia menceritakan pertemuan bilateral empat mata dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat dalam forum Asean Defence Ministers’ Meeting Plus (ADMM-Plus) tahun 2025. Menurut Sjafrie, pihak Amerika Serikat menyampaikan dukungan terhadap pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia, khususnya karena Indonesia dinilai menganut strategi “defensive active” atau pertahanan aktif yang berorientasi menjaga wilayah dan rakyatnya sendiri.
Dalam penjelasannya, Sjafrie menyebut Amerika Serikat kemudian menawarkan berbagai bentuk kerja sama, mulai dari akses pendidikan dan pelatihan, latihan gabungan, kerja sama intelijen, hingga peluang pengembangan pusat pemeliharaan pesawat Hercules/C-130 di Indonesia.
“Dia menawarkan, dan ini tidak ada di negara Asean, dia menawarkan bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami,” ujar Sjafrie di hadapan anggota DPR.
Sekadar informasi, pesawat Hercules selama ini dikenal sebagai salah satu tulang punggung angkutan militer di banyak negara. Selain digunakan untuk operasi logistik, Hercules juga sering dipakai dalam operasi bantuan kemanusiaan, pengangkutan pasukan, hingga evakuasi bencana.
Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang dalam pengoperasian Hercules. Berdasarkan data TNI AU dan berbagai publikasi pertahanan internasional, Indonesia menjadi salah satu operator terbesar pesawat C-130 di Asia Tenggara. Armada tersebut digunakan untuk mendukung operasi militer, distribusi logistik ke wilayah terpencil, hingga penanganan bencana alam.
Kebutuhan pemeliharaan pesawat jenis ini sangat besar. Menurut data Lockheed Martin sebagai produsen Hercules, lebih dari 2.600 unit C-130 telah dioperasikan di lebih dari 70 negara selama beberapa dekade terakhir. Biaya maintenance dan overhaul pesawat militer strategis seperti Hercules juga sangat tinggi dan membutuhkan fasilitas teknis khusus.
Oleh karena itu, apabila Indonesia benar-benar menjadi pusat MRO Hercules regional, maka posisi strategis Indonesia dalam rantai industri pertahanan global berpotensi meningkat signifikan.
Pemerintah: Masih Tahap Penjajakan
Di tengah berbagai spekulasi yang berkembang, pemerintah berusaha menegaskan bahwa pembahasan masih berada pada tahap awal. Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Rico Ricardo Sirait menjelaskan bahwa belum ada implementasi operasional terkait rencana tersebut.
Menurut Rico, yang disampaikan Menteri Pertahanan dalam rapat dengan DPR pada prinsipnya adalah adanya peluang pengembangan kapasitas MRO pesawat Hercules/C-130 di Indonesia dengan mempertimbangkan Kertajati sebagai salah satu lokasi strategis.
“Yang disampaikan Bapak Menhan dalam rapat dengan Komisi I DPR RI pada prinsipnya adalah adanya peluang pengembangan kapasitas Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat Hercules/C-130 di Indonesia dengan mempertimbangkan Kertajati sebagai salah satu lokasi strategis karena memiliki lahan luas, fasilitas penerbangan yang memadai, serta potensi pengembangan kawasan kedirgantaraan nasional ke depan,” kata Rico kepada Bisnis, Rabu (27/5/2026).
Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa pembahasan saat ini masih berada pada tahap penjajakan dan pematangan konsep lintas kementerian dan lembaga.
Pemerintah, kata Rico, melihat adanya potensi manfaat besar apabila proyek tersebut terealisasi. Mulai dari penguatan kapasitas industri pertahanan nasional, peningkatan kemampuan maintenance dalam negeri, pengembangan sumber daya manusia dan teknologi, hingga peluang Indonesia menjadi hub pemeliharaan regional.
“Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah membangun ekosistem industri kedirgantaraan nasional yang lebih mandiri dan berkelanjutan,” ujarnya.
Penjelasan tersebut penting karena sejak awal pemerintah tampak berhati-hati agar proyek ini tidak langsung dibaca sebagai langkah militerisasi Kertajati. Sebaliknya, pemerintah ingin menempatkannya dalam konteks penguatan industri nasional.
Apalagi selama ini Kertajati memang masih menghadapi tantangan utilisasi. Bandara yang dibangun dengan investasi besar itu sempat mengalami minim trafik penumpang setelah pandemi Covid-19. Pemerintah daerah dan pusat pun terus mencari cara agar Kertajati memiliki fungsi ekonomi yang lebih kuat.
Dalam berbagai dokumen perencanaan, kawasan Kertajati memang diproyeksikan berkembang menjadi aerocity dan pusat industri aviasi. Dengan lahan luas dan konektivitas jalan tol yang relatif baik, kawasan tersebut dinilai memiliki modal untuk pengembangan industri kedirgantaraan.
Kertajati dan Ambisi Aerocity Nasional
Bandara Kertajati sejak awal dibangun bukan hanya sebagai bandara penumpang biasa. Pemerintah Jawa Barat dan pemerintah pusat pernah menempatkannya sebagai bagian dari megaproyek pengembangan kawasan ekonomi baru di bagian timur Jawa Barat.
Bandara ini memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang memungkinkan pesawat berbadan besar mendarat. Luas lahannya juga mencapai ribuan hektare, menjadikannya salah satu bandara dengan ruang pengembangan terbesar di Indonesia.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah berupaya meningkatkan peran Kertajati melalui pengalihan sebagian penerbangan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung, pembangunan konektivitas Tol Cisumdawu, hingga pengembangan kawasan industri sekitar bandara.
Namun utilisasi bandara masih menjadi tantangan besar. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan trafik penumpang Kertajati belum sepenuhnya stabil pascapandemi. Sejumlah maskapai bahkan sempat menghentikan operasional karena minimnya penumpang.
Karena itu, wacana menjadikan Kertajati sebagai pusat MRO dipandang sebagian kalangan sebagai upaya mencari model bisnis baru yang lebih berkelanjutan.
Industri MRO sendiri memiliki nilai ekonomi besar. Berdasarkan laporan Oliver Wyman Global Fleet & MRO Market Forecast 2025-2035, pasar MRO global diperkirakan bernilai lebih dari US$100 miliar per tahun. Kawasan Asia Pasifik disebut menjadi salah satu pasar dengan pertumbuhan tercepat seiring meningkatnya armada pesawat sipil dan militer.
Indonesia selama ini masih banyak bergantung pada fasilitas maintenance luar negeri untuk sejumlah jenis pesawat tertentu. Dengan membangun kapasitas domestik, pemerintah berharap devisa tidak terus keluar sekaligus meningkatkan transfer teknologi.
Selain itu, pengembangan MRO juga dinilai dapat membuka lapangan kerja berkeahlian tinggi di bidang teknik penerbangan, avionik, manufaktur komponen, hingga sistem logistik.
Kekhawatiran Geopolitik Mulai Muncul
Meski pemerintah menekankan aspek industri dan bisnis, sejumlah pengamat menilai isu ini tidak bisa dilepaskan dari konteks geopolitik global.
Direktur Global Insight Forum (GIF) sekaligus pakar hubungan internasional Teuku Rezasyah menilai pemerintah perlu membuka secara transparan dasar hukum, arah kerja sama, serta batasan penggunaan Kertajati.
Menurutnya, persoalan utama bukan semata soal bengkel pesawat, melainkan persepsi strategis yang dapat muncul di tingkat internasional.
Rezasyah mengingatkan bahwa dalam konteks konflik global modern, fasilitas yang dianggap mendukung operasi militer suatu negara dapat dipandang sebagai target strategis
“Kalau terjadi sesuatu hal yang kita tidak inginkan, misalnya konflik antara Amerika Serikat dan China, basis-basis yang patut diduga mendukung suatu operasi militer itu bisa dihancurkan begitu,” ujarnya.
Menurutnya, ketegangan Amerika Serikat dan China dalam beberapa tahun terakhir memang semakin meningkat, mulai dari Laut China Selatan, Taiwan, hingga persaingan teknologi dan rantai pasok global.
Apalagi, Indonesia selama ini berusaha menjaga posisi seimbang. Di satu sisi, Indonesia memiliki hubungan ekonomi yang sangat kuat dengan China sebagai mitra dagang terbesar. Di sisi lain, kerja sama pertahanan Indonesia dengan Amerika Serikat juga terus berkembang.
Data Badan Pusat Statistik menunjukkan nilai perdagangan Indonesia-China mencapai lebih dari US$130 miliar dalam beberapa tahun terakhir. Sementara Amerika Serikat tetap menjadi mitra strategis penting, terutama dalam bidang pertahanan, pendidikan militer, dan investasi.
#kertajati #industri-aviasi #bandara-kertajati #pusat-mro #pesawat-hercules #industri-pertahanan #aviasi-asia #pusat-pemeliharaan #pertahanan-nasional #aerocity-nasional #industri-kedirgantaraan #geopo