Jibaku Bertahan di Blok M, dari Pijat Refleksi hingga Lapak Aksesori

Jibaku Bertahan di Blok M, dari Pijat Refleksi hingga Lapak Aksesori

Blok M menjadi tempat mencari penghidupan yang tak lekang oleh waktu buat sejumlah pedagang. Berikut kisah mereka yang berjuang bertahan hidup di Blok M.

(CNN Indonesia) 29/05/26 12:30 234775

Tangan Rohman terus bergerak menekan titik demi titik. Kedua telapak tangannya meremas kuat, seolah tak memberi ruang bagi pegal untuk bertahan lebih lama di Blok M.

Krim pijat berwarna putih yang melapisi telapak tangannya membuat gerakannya semakin luwes. Jari-jarinya seakan hafal betul jalur yang harus ditelusuri.

Di bawah cahaya lampu area bawah tanah Mal Blok M, yang kini berganti wajah menjadi Blok M Hub, Rohman menunjukkan kepiawaiannya.

Jika kemampuan memijat bisa diukur lewat penghargaan dunia film, barangkali koleksi piala Oscar miliknya sudah melampaui Jack Nicholson.

Urat-urat yang menonjol di lengannya memperlihatkan seberapa besar tenaga yang ia keluarkan malam itu. Tubuhnya terlihat kecil dan ramping, tetapi kekuatan yang mengalir dari tangannya terasa sebaliknya.

Seluruh sisa energi seperti dipusatkan ke telapak tangan, ke tekanan-tekanan yang tak putus selama memijat pelanggan terakhirnya malam itu. Rohman menjelma menjadi Naruto. Bedanya, ia bukan memusatkan cakra untuk mengeluarkan jurus rasengan, tetapi ia pusatkan untuk memberikan pijatan yang berkesan.

Tangannya menekan, lalu meremas kembali. Ritmenya teratur, seperti sudah dilakukan ribuan kali. Kaki yang sepanjang hari dipakai berpindah dari satu tempat ke tempat lain, mengejar para pejabat negara dengan jadwal yang acap kali berubah mendadak, perlahan terasa lebih ringan di bawah pijatan Rohman.

Tempat Rohman bekerja berada di sudut yang tak terlalu dilirik anak-anak muda yang memadati Blok M Hub setiap malam. Untuk sampai ke lapaknya, orang harus berjalan cukup jauh ke bagian paling ujung bangunan.

Jika masuk dari tangga dekat salah satu gerai minimarket, pengunjung mesti menyusuri lorong panjang yang kini penuh dengan deretan tenant makanan. Jauh berbeda dengan wajah Mal Blok M beberapa tahun lalu, saat bangunan ini hidup segan mati pun tak mau.

Setelah deretan booth makanan, pengunjung akan melewati lapak pakaian thrift. Berbagai kaos dengan motif beragam, jaket denim, hingga celana panjang, tergantung rapat saling berdempetan.

Dari situ, lorong terbuka menuju sebuah ruang transisi yang lebih luas. Sebuah area penghubung antara Blok M Hub dan Halte Transjakarta Blok M.

Nuansa tua masih terasa di area itu. Langit-langitnya tinggi. Tidak seramai lorong depan, tapi juga tidak sepi. Orang-orang berlalu-lalang. Ada yang berjalan cepat menghampiri gate masuk halte, ada yang duduk santai di bangku sambil menyantap makanan.

Di sisi pinggir dan bagian tengah area itu berdiri berbagai kios kecil. Ada salon bercat pink yang mencolok, penjual sandal, toko sepatu, baju bayi, serta konter aksesori ponsel. Di antaranya ada deretan kursi refleksi tempat Rohman mengandalkan kedua tangannya mencari nafkah.

Malam itu, Senin (25/5), jam menunjukkan 20.35 WIB. Walaupun biasanya tutup pukul 21.00 WIB, Rohman masih menerima pelanggan terakhir. Ia pun mempersilakan saya duduk di salah satu kursi tempat refleksinya.

"Tutup jam 9 malam. Biasanya buka jam 10 atau 11, bahkan jam 12 siang. Soalnya kalau pagi enggak ada yang datang," katanya sambil memijat.

Rohman belum terlalu lama menjadi terapis di tempat itu. Ia mulai bekerja sekitar pertengahan pandemi Covid-19, sekitar 2020. Namun selama kurang lebih enam tahun, ia sudah mengenal betul tempat tersebut.

Ia hafal siapa pedagang yang paling lama bertahan di sana. Menurut dia, warung di sebelah tempat dia bekerja, pedagang aksesori kecil-kecilan, dan konter HP yang ada sekarang adalah para penghuni lama.

"Sebelum ini dibangun, masih emperan ini belum ada busway, masih Metro Mini, mereka-mereka sudah di sini," ujar Rohman.

Rohman menduga para pedagang lama itu menyewa tempat dalam jangka sangat panjang, bahkan puluhan tahun. Itu sebabnya mereka masih bertahan sampai sekarang, meski wajah Blok M sudah berganti.

Selama bekerja di area tersebut, Rohman merasakan perubahan besar, terutama setelah kawasan tersebut dikelola Pemerintah Provinsi Jakarta.

Beberapa sudut mulai direnovasi. Pagar diganti. Sejumlah area dibenahi. Ia mendengar kabar sebagian area nantinya ditutup kaca dan dibuat lebih tertata. Katanya, perubahan lebih besar akan datang pada Agustus 2027.

"Ada renovasi besar-besaran pada Agustus 2027. Ini rencana kemarin dengar dari manajemen sini katanya (para penjual) mau dipindahin lagi ke dalam situ yang tadinya buat Ramayana. Ini mau dikosongin semua, mau direnovasi," ucap Rohman.

Selain perubahan fisik bangunan, Rohman merasakan perubahan lain yang lebih penting, yaitu keamanan.

Dulu, cerita soal pencurian atau pungutan liar bukan hal asing di sana. Ia pernah mendengar ada toko sepatu kehilangan belasan pasang barang dagangan. Ia juga mengingat masa ketika masih ada orang-orang yang datang malam-malam meminta uang keamanan kepada pedagang.

"Pas 2023-2024 itu masih ada. Jam 9 (malam) lewat kalau lihat kita belum tutup, nyamperin orang-orangnya. \'Bang, tarikan, bang, tarikan keamanan,\'," ujar Rohman.

Menurut Rohman, keadaan berubah setelah perubahan pengelola kawasan. Kini ia merasa jauh lebih aman berjualan.

Namun, ada satu hal yang masih menjadi beban pikirannya, yaitu sewa kios. Menurut Rohman, harga sewa tempatnya terus naik. Yang dulu masih di kisaran Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan, kini menembus lebih dari Rp5 juta.

Hal lain yang menjadi sorotan Rohman adalah menjamurnya tenant makanan di sepanjang lorong Blok M Hub tidak banyak memengaruhi usahanya. Pelanggan pijat refleksi Rohman datang dari jalur yang berbeda. Kebanyakan justru datang dari luar.

Ada orang-orang dari luar kota yang sedang menginap di hotel daerah Palatehan, tamu dari Sumatra, sampai pejabat legislatif dan kepolisian.

"Kayak (anggota) DPR ke sini dia. Langganan saya semua mayoritas orang-orang pejabat semua. Orang-orang punya nama semua lah," ujar Rohman.

Di lorong yang sama tempat Rohman mengandalkan pijatan tangannya, beberapa meter dari kursi refleksi itu, seorang pedagang lain menggantungkan hidup pada benda-benda kecil.

Bersambung ke halaman berikutnya...

Namanya AJS.

Entah itu nama asli, singkatan, atau nama yang sengaja ia pilih untuk menjaga jarak dengan orang baru. Ia tak menjelaskan. Pria asal Sukabumi, Jawa Barat, itu sudah berjualan di sudut tempat tersebut sejak 2015.

Lapaknya kecil, tapi penuh sesak. Seolah setiap jengkal ruang diisi barang dagangan.

Tak hanya aksesori ponsel seperti casing dan charger yang mudah terlihat, di lapaknya tertata rapih payung lipat dengan berbagai pilihan warna, kipas kecil portable, mainan kecil, masker, cincin tasbih digita, hingga pouch transparan dengan varian warna berbeda.

Malam itu AJS mengenakan kaus biru, celana hitam, dan jaket denim abu-abu. Ia tak banyak bicara. Nada suaranya pelan. Jawabannya singkat, tapi semua pertanyaan dijawab dengan tegas.

Saat itu saya sedang mencari masker untuk dipakai naik motor. Ia menunjukkan beberapa pilihan. Ada masker yang dibungkus plastik seharga Rp10 ribu. Ada juga masker dalam kemasan kotak, dijual Rp20 ribu hingga Rp25 ribu.

"Bedanya apa?" tanya saya.

"Ini lebih lebar," jawabnya singkat sambil menunjuk salah satu kotak.

"Kalau buat muka saya mending yang mana?"

AJS tersenyum kecil.

"Aduh... ya terserah."

Saya akhirnya memilih masker kotak seharga Rp25 ribu.

Dari obrolan singkat itu terlihat jam terbang AJS sebagai pedagang sudah tinggi. Ia tahu kapan harus menjelaskan, kapan cukup menjawab seperlunya, dan kapan membiarkan pembeli memutuskan sendiri.

Ia menceritakan masker yang saya beli dulu pernah menjadi barang mahal ketika pandemi Covid-19. Kata dia, dulu harganya pernah sampai Rp150 ribu. Ini karena barang susah dicari, di saat yang sama permintaan melonjak.

AJS sudah berjualan di sana sejak 2015. Sebelas tahun di titik yang sama, menjual barang yang kurang lebih serupa. Alasannya sederhana: keluarga. Ada istri dan dua anak yang harus diberi makan. Ada kebutuhan dapur yang harus terus berjalan.

Lebih dari satu dekade lalu, kata AJS, area transisi di Blok M ini jauh lebih padat oleh pedagang. Lapak berdempetan. Di bagian tengah lebih ramai.

Lalu pandemi datang dan mengubah semuanya. Ia mengatakan banyak pedagang yang gulung tikar.

Ketika situasi mulai pulih, tantangan baru datang. Orang berubah cara belanja. Semakin banyak yang memilih membeli secara online. Barang datang ke rumah tanpa harus keluar.

Perubahan kebiasaan itu ikut mengguncang usaha kecil seperti milik AJS. Namun, ia tidak terlihat gentar. Baginya, dagang selalu punya jalannya sendiri.

"Namanya dagang pasti ada aja yang beli," katanya.

Ia tak pernah menghitung barang mana yang paling laris. Menurut dia, semua punya pembeli masing-masing. Kuteks ada yang cari. Mainan kecil ada yang beli. Pouch warna-warni pun ada peminatnya.

Di tengah percakapan, AJS tiba-tiba bangkit dari kursinya.

Seorang pria berjaket merah dengan sandal putih berhenti di depan lapaknya. Pandangannya tertuju pada deretan jepit rambut dan tas pouch kecil transparan yang tergantung di sisi kanan lapak. AJS langsung sigap menghampiri.

Pria itu akhirnya menetapkan pilihannya pada tas pouch. AJS mengambil kantong plastik putih, memasukkan barang itu dengan cekatan.

Namun sebelum transaksi selesai, mata pembeli tertarik pada payung yang diletakkan di bagian paling depan kios. Warnanya beragam.

AJS tampaknya sengaja menaruhnya di posisi paling depan agar mudah terlihat orang yang lewat. Apalagi belakangan Jakarta memang sering diguyur hujan di sore hari.

Pembeli itu akhirnya membawa pulang dua barang sekaligus: pouch dan payung.

Tak lama setelah pelanggan pergi, AJS kembali duduk. Belum sempat benar-benar beristirahat, seorang pedagang lain menghampiri. Ia ingin menukar uang pecahan.

AJS menggeleng menandakan ia tidak punya uang pecahan yang diinginkan.

Beberapa menit kemudian datang lagi pedagang lain dengan keperluan serupa. Lalu, satu lagi.

Malam itu setidaknya empat pedagang mendatanginya untuk menukar uang.

Meski tak bisa membantu karena tidak punya pecahan yang diinginkan, AJS menjawab semuanya dengan ramah. Ia tampaknya memang menjadi salah satu orang yang sering didatangi sesama pedagang untuk hal-hal seperti ini.

Di sela melayani pembeli, AJS juga terlihat gemar mengobrol. Ia beberapa kali bercanda dengan pelanggan. Terdengar tawa kecil di antara transaksi. Tak ada jarak yang kaku antara penjual dan pembeli di kiosnya.

[Gambas:Photo CNN]

Setelah melayani seorang perempuan yang membeli aksesori rambut, AJS tak langsung kembali duduk. Ia mengambil semacam kemoceng kecil lalu mulai membersihkan barang dagangannya satu per satu.

Ia mengusap casing ponsel di bagian depan, membersihkan plastik pembungkusnya. AJS juga tampak mengibaskan debu di gelang-gelang kecil yang menggantung, merapikan pouch, mengusap barang dagangannya yang tersusun rapih.

AJS seakan ingin setiap barang harus tetap tampak layak dilihat orang yang lewat. Ia tak ingin pembeli menemukan debu di atas dagangannya. Sebab, di tempat seperti itu, barang-barang kecil tak hanya dijual lewat fungsi, tapi juga lewat kesan pertama.

Di Blok M Hub yang terus berubah wajah, mereka menjadi bagian dari yang tetap tinggal. Rohman mengandalkan tenaga dari kedua tangannya, AJS mengandalkan kesabaran di balik lapak kecil berisi benda-benda sederhana.

Mereka menyaksikan zaman berganti, tenant datang dan pergi, tren bergeser, pandemi menghantam, hingga keramaian kembali pulih.

Di tengah semua perubahan itu, tangan Rohman terus memijat, kemoceng AJS terus mengusap debu di dagangannya, dan malam di Blok M terus berjalan seperti biasa.

#blok-m #pijak-refleksi #aksesori #piala-oscar #palatehan #legislatif #rohman #jibaku #2023-2024 #pandemi-covid-19 #kepolisian #naruto #jack-nicholson #halte-transjakarta-blok-m #busway #sumatra #n-a

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20260528180518-92-1363174/jibaku-bertahan-di-blok-m-dari-pijat-refleksi-hingga-lapak-aksesori