Telkom (TLKM) Raup Rp2,4 Triliun dari Segmen B2B Infrastruktur, Naik 6,8% YoY
Telkom Indonesia (TLKM) meraih Rp2,4 triliun dari segmen B2B infrastruktur, naik 6,8% YoY, didukung ekspansi bisnis menara dan jaringan serat optik.
(Bisnis.Com) 29/05/26 18:58 235247
Bisnis.com, JAKARTA — PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) membukukan kinerja keuangan yang progresif pada sebagian segmen bisnis sepanjang kuartal pertama 2026. Pertumbuhan positif ini utamanya ditopang oleh performa solid dari segmen Business-to-Business (B2B) infrastruktur yang didorong ekspansi berkelanjutan pada bisnis menara seluler dan jaringan serat optik.
Mengutip siaran pers resmi perseroan pada Jumat (29/5/2026), emiten telekomunikasi pelat merah ini mengantongi pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun, tumbuh 1,5% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (Year-on-Year/YoY).
Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) tercatat Rp18 triliun dengan margin EBITDA terjaga di level 48,3%, sementara laba bersih yang dinormalisasi menyentuh angka Rp5,1 triliun.
Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan tahun ini Telkom akan semakin gencar dalam mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 demi menciptakan nilai yang optimal serta memastikan keberlanjutan perusahaan yang semakin solid ke depan.
"Kinerja kuartal pertama tahun 2026 ini menjadi awal yang baik dan motivasi bagi TelkomGroup untuk dapat terus melakukan perbaikan secara bertahap," ujar Dian dikutip Jumat (29/5/2026).
Pada peta pertumbuhan korporasi, segmen B2B Infrastructure memperlihatkan taji dengan perolehan pendapatan Rp2,4 triliun atau melonjak 6,8% YoY. Akselerasi tersebut ditopang oleh ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT) yang dijalankan oleh anak usahanya, PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk. (MTEL) atau Mitratel.
Mitratel sendiri membukukan pendapatan Rp2,3 triliun, naik 1,4% YoY, dengan lini Tower Leasing dan Tower-Related Business sebagai kontributor utama.
Melalui pengelolaan biaya yang efisien, Mitratel mengamankan margin EBITDA stabil di level 82,7%. Demi mengukuhkan posisi pemimpin pasar di Asia Tenggara, Mitratel menambah bentangan kabel serat optik sepanjang 1.080 km pada kuartal pertama, membuat total kepemilikan aset mencapai 58.279 km.
Lini bisnis data center yang digawangi NeutraDC Group dan edge data center NeuCentrIX turut mencatatkan tren permintaan yang tinggi dari pelaku industri digital. Guna menangkap potensi pasar tersebut, Telkom menyiapkan inisiatif konsolidasi aset agar pengelolaan data center berada penuh di bawah NeutraDC untuk membuka peluang monetisasi dan kemitraan strategis.
Pertumbuhan juga terjadi pada unit Wholesale & International Service dengan pendapatan Rp2,8 triliun, didorong kenaikan layanan interkoneksi 18,9% secara kuartalan (Quarter-on-Quarter/QoQ). Sementara itu, segmen B2B ICT mengumpulkan pendapatan Rp3,1 triliun di tengah proses restrukturisasi portofolio untuk mengeliminasi tumpang tindih produk dan mengamankan margin jangka panjang yang lebih sehat.
Pada segmen konsumen (B2C), Telkomsel menyumbang pendapatan konsolidasi Rp27,6 triliun atau naik 1,3% YoY. Penataan harga dan simplifikasi produk berhasil mengerek ARPU menjadi Rp45.100, mencerminkan pemulihan pasar telekomunikasi yang kian rasional.
Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, Telkom telah menyerap belanja modal (capital expenditure) sebesar Rp4,9 triliun, dengan 99% dialokasikan untuk penguatan infrastruktur inti.
Perseroan juga tengah mematangkan proses penataan portofolio, termasuk rencana divestasi AdMedika Group yang ditargetkan rampung pada akhir semester I/2026, serta persiapan pemisahan aset wholesale fiber tahap kedua kepada InfraNexia pada kuartal III/2026.
#telkom-indonesia #tlkm #b2b-infrastruktur #pendapatan-telkom #laba-telkom #mitratel #fiber-to-the-tower #data-center-telkom #neutradc #telkomsel #arpu-telkomsel #belanja-modal-telkom #divestasi-admedi