Negara Pecahan Soviet Ini Ingin Gabung NATO, tapi Ditentang Rakyatnya
Ada juga gagasan Moldova bergabung dengan Rumania sehingga secara otomatis menjadi anggota NATO. Moldova, salah satu negara pecahan Uni Soviet, bermaksud untuk... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 01/06/26 08:12 236515
CHISINAU - Moldova, salah satu negara pecahan Uni Soviet, bermaksud untuk bergabung dengan Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Namun mayoritas rakyatnya menentang keinginan tersebut.Menteri Luar Negeri Mihai Popsoi mengakui suara besar penentangan itu sebagai dasar untuk menyatakan bahwa Moldova belum siap bergabung dengan aliansi pimpinan Amerika Serikat tersebut.
Popsoi, sekutu dekat Presiden Maia Sandu yang pro-Barat, menyampaikan pernyataan tersebut dalam sebuah wawancara dengan televisi Vocea Basarabiei, di mana dia ditanya apakah menurutnya republik pecahan Uni Soviet itu harus mencari hubungan yang lebih dekat dengan NATO atau mengejar keanggotaan penuh.
Meskipun Popsoi menyebut dirinya sebagai pendukung tulus segala sesuatu yang berkaitan dengan keamanan Euro-Atlantik, dia mengakui bahwa dukungan publik tidak ada.
“Integrasi ke NATO, seperti halnya ke dalam struktur internasional lainnya, bergantung pada kehendak warga negara kita. Setelah ada dukungan mayoritas yang signifikan untuk bergabung dengan Aliansi Atlantik Utara, ini dapat dipertimbangkan sebagai pilihan yang wajar...Dalam kasus kita, secara historis, karena berbagai alasan, mayoritas yang signifikan ini belum ada,” katanya.
Menurut jajak pendapat IMAS pada bulan Februari, 55% warga Moldova akan memilih menentang bergabung dengan NATO jika referendum diadakan pada saat itu, dengan hanya 24% yang mengatakan mereka akan mendukung keanggotaan.
Selain kurangnya dukungan populer, faktor lain yang menghalangi potensi keanggotaan Moldova adalah wilayah Transnistria yang memisahkan diri dari negara tersebut setelah perang singkat pada awal tahun 1990-an. Transnistria saat ini menampung pasukan penjaga perdamaian Rusia untuk menjaga gencatan senjata dan menjaga persediaan senjata dan amunisi era Soviet.
Konstitusi Moldova juga memuat klausul yang menetapkan “netralitas permanen", yang secara hukum mencegah negara tersebut bergabung dengan blok militer mana pun, termasuk NATO. Namun, kendala hukum tersebut tidak menghentikan Moldova untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan NATO.
Pemerintah Sandu telah mendorong integrasi dengan Uni Eropa, tetapi presiden sendiri juga mengakui kurangnya keinginan publik untuk menjadi anggota NATO.
Kendati demikian, Sandu mencoba menjelaskan ketakutan yang berlebihan terhadap NATO dengan apa yang dia gambarkan sebagai “propaganda bertahun-tahun oleh Federasi Rusia".
Moskow telah lama menentang keras ekspansi NATO, memandangnya sebagai ancaman eksistensial bagi Rusia. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov juga menyatakan bahwa pemerintah Moldova saat ini melakukan "kesalahan serius" dengan menjadikan Rusia sebagai musuh mereka demi membangun hubungan dengan Barat.
Popsoi memberikan pendapatnya tentang pertanyaan lain yang sarat muatan politik: penyatuan dengan negara tetangga Rumania—yang secara otomatis akan membawa Moldova ke NATO.
Dia mengatakan bahwa secara pribadi dia mendukung gagasan itu. "[Namun] langkah tersebut membutuhkan diskusi pragmatis [dan] dialog dengan semua warga negara kita," katanya, yang dilansir dari Russia Today, Senin (1/6/2026). Menurut jajak pendapat IMAS, hanya 30% yang akan mendukung penyatuan.
(mas)