Kurban dan Pembangunan
Pembangunan ekonomi pada hakikatnya bertujuan menghadirkan kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Candra Fajri Ananda Wakil Ketua Badan... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 02/06/26 06:33 237066
Candra Fajri AnandaWakil Ketua Badan Supervisi OJK
PEMBANGUNAN ekonomi pada hakikatnya bertujuan menghadirkan kesejahteraan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Namun, di tengah berbagai capaian pembangunan yang berhasil diraih Indonesia, persoalan kemiskinan dan pengangguran masih menjadi tantangan yang belum sepenuhnya teratasi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2025 masih terdapat 23,85 juta penduduk miskin atau sekitar 8,47 persen dari total penduduk Indonesia, sementara jumlah pengangguran pada Februari 2025 mencapai sekitar 7,28 juta orang. Angka-angka tersebut mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tercipta belum sepenuhnya menjangkau seluruh lapisan masyarakat secara merata.
Terlebih, di tengah berbagai tantangan pembangunan yang masih dihadapi Indonesia, dinamika ekonomi global menambah kompleksitas yang harus diantisipasi secara cermat. Ketidakpastian ekonomi dunia masih berlangsung akibat perlambatan pertumbuhan global, meningkatnya ketegangan geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, serta gejolak pasar keuangan yang berpotensi memengaruhi stabilitas perekonomian nasional.
Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook tahun 2025 memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia hanya berada pada kisaran 2,8-3,0 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata historis sebelum pandemi. Senada dengan itu, Bank Dunia (2025) menilai bahwa perekonomian global sedang memasuki fase pertumbuhan yang relatif rendah di tengah meningkatnya risiko konflik geopolitik dan gangguan rantai pasok internasional.
Dalam perspektif pembangunan yang inklusif, negara memegang tanggung jawab utama untuk memastikan setiap warga negara memperoleh akses terhadap pekerjaan, pendidikan, perlindungan sosial, dan peluang ekonomi yang setara. Akan tetapi, kompleksitas persoalan kemiskinan dan pengangguran pada era modern tidak memungkinkan penyelesaiannya hanya mengandalkan peran pemerintah semata.
Keterbatasan kapasitas fiskal, perubahan struktur ekonomi global, perkembangan teknologi yang berlangsung cepat, serta tingginya kebutuhan investasi menuntut hadirnya kolaborasi yang lebih luas dan berkelanjutan. Sehingga, pembangunan ekonomi tidak lagi dipandang sebagai tugas eksklusif negara, melainkan sebagai tanggung jawab bersama yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Dunia usaha berperan melalui investasi dan penciptaan lapangan kerja, perguruan tinggi melalui pengembangan ilmu pengetahuan, inovasi, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, sementara lembaga keuangan, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas lokal turut memperkuat pemberdayaan ekonomi di berbagai tingkatan. Sinergi tersebut menjadi semakin penting karena pertumbuhan ekonomi yang berkualitas hanya dapat tercipta apabila seluruh elemen pembangunan bergerak dalam arah yang sama.
Solidaritas Sosial dalam Ketakwaan
Sebagai kelompok mayoritas di Indonesia, umat Islam memiliki peran yang sangat strategis dalam mendukung upaya pembangunan sosial dan pengentasan kemiskinan. Tanggung jawab tersebut tidak hanya lahir dari posisi demografis umat Islam yang dominan, tetapi juga berakar kuat dalam ajaran agama yang menempatkan kepedulian sosial sebagai bagian dari manifestasi keimanan.
Salah satu pesan yang sangat jelas dapat ditemukan dalam Surat Al-Ma’un, yang mengingatkan bahwa keimanan tidak cukup diwujudkan melalui ritual ibadah semata, melainkan juga melalui kepedulian terhadap anak yatim, fakir miskin, dan kelompok masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Dalam perspektif ini, kemiskinan dan pengangguran bukan hanya persoalan ekonomi, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang menuntut hadirnya solidaritas sosial.
Oleh karena itu, setiap Muslim memiliki tanggung jawab moral untuk turut berkontribusi dalam menciptakan kehidupan yang lebih adil, baik melalui zakat, infak, sedekah, wakaf produktif, pemberdayaan ekonomi, maupun berbagai bentuk kegiatan sosial yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Lebih jauh, ajaran Islam memandang bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup dilakukan melalui bantuan yang bersifat sesaat, tetapi harus diarahkan pada upaya pemberdayaan yang mampu meningkatkan kualitas hidup manusia secara berkelanjutan.
Dalam konteks ini, pendidikan dan kesehatan menjadi dua instrumen utama yang menentukan kemampuan seseorang untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Pendidikan membuka akses terhadap pengetahuan, keterampilan, dan kesempatan kerja yang lebih baik, sedangkan kesehatan yang baik memungkinkan masyarakat untuk bekerja secara produktif dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan ekonomi.
Oleh karena itu, investasi pada pendidikan dan kesehatan pada hakikatnya merupakan investasi untuk meningkatkan martabat manusia. Semakin tinggi kualitas pendidikan dan kesehatan masyarakat, semakin besar pula peluang terciptanya mobilitas sosial dan peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan.
Komitmen terhadap perlindungan kelompok rentan sesungguhnya tidak hanya menjadi ajaran agama, tetapi juga telah menjadi amanat konstitusi negara. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, khususnya Pasal 34, menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara. Amanat tersebut menunjukkan bahwa negara memiliki tanggung jawab utama dalam menjamin kesejahteraan sosial, termasuk melalui penyediaan layanan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial yang memadai.
Namun, keberhasilan mewujudkan tujuan tersebut tidak dapat hanya mengandalkan peran pemerintah. Diperlukan sinergi antara negara dan masyarakat, termasuk umat Islam sebagai kelompok mayoritas, untuk bersama-sama menghadirkan solusi atas persoalan kemiskinan dan pengangguran. Ketika nilai-nilai keagamaan yang menekankan kepedulian sosial bertemu dengan kebijakan publik yang berpihak pada kesejahteraan rakyat, maka akan tercipta kekuatan sosial yang mampu mempercepat terwujudnya masyarakat yang lebih adil, sejahtera, dan bermartabat.
Spirit Kurban untuk Indonesia
Iduladha pada hakikatnya merupakan lebih dari sekadar perayaan keagamaan yang ditandai dengan penyembelihan hewan kurban. Di balik ritual tersebut terkandung pesan spiritual yang mendalam tentang ketakwaan, keikhlasan, dan pengorbanan demi tujuan yang lebih besar.
Peristiwa ini merefleksikan keteguhan iman Nabi Ibrahim AS ketika menerima perintah Allah SWT untuk mengorbankan putra yang sangat dicintainya, Nabi Ismail AS. Ujian tersebut mengajarkan bahwa kualitas ketakwaan seseorang tidak hanya tercermin dari keyakinan yang diucapkan, tetapi juga dari kesediaannya menempatkan kehendak Allah di atas kepentingan pribadi.
Dalam makna yang lebih luas, kisah Nabi Ibrahim memberikan pelajaran bahwa manusia tidak seharusnya terikat secara berlebihan pada harta, kenyamanan, maupun berbagai kenikmatan duniawi, melainkan mampu melepaskan sebagian yang dicintainya demi kemaslahatan yang lebih besar. Karena itu, ibadah kurban menjadi simbol yang mempertemukan hubungan vertikal manusia dengan Sang Pencipta sekaligus hubungan horizontal dengan sesama manusia melalui kepedulian sosial dan semangat berbagi.
Spirit pengorbanan dan kepedulian tersebut menjadi semakin relevan dalam kehidupan modern yang masih dihadapkan pada berbagai persoalan sosial dan ekonomi. Semangat kurban dapat dimaknai sebagai dorongan untuk mendistribusikan sumber daya dan kesempatan kepada mereka yang membutuhkan, terutama kelompok masyarakat yang rentan dan berpenghasilan rendah.
Daging kurban tidak hanya menjadi simbol kedermawanan, tetapi juga menjadi sarana pemerataan manfaat yang memungkinkan lebih banyak keluarga menikmati asupan gizi yang layak. Dengan demikian, esensi Iduladha sesungguhnya terletak pada kemampuan menghadirkan manfaat sosial yang nyata dan menjangkau sebanyak mungkin masyarakat. Semakin luas manfaat yang dirasakan oleh masyarakat, semakin besar pula nilai kemanusiaan yang lahir dari ibadah tersebut.
Selain itu, guna manfaat kurban dapat berlangsung lebih lama, diperlukan juga pengelolaan yang lebih inovatif dan berorientasi pada keberlanjutan. Sebagian daging kurban dapat diolah menjadi produk pangan yang memiliki daya simpan lebih panjang, seperti kornet, rendang kemasan, atau abon, sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan dalam beberapa hari setelah Iduladha, tetapi juga dapat menjadi cadangan pangan dalam jangka waktu yang lebih lama.
Pendekatan semacam ini menjadikan ibadah kurban tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga memberikan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas. Sejatinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Iduladha sejalan dengan cita-cita pembangunan yang berorientasi pada kesejahteraan dan keadilan sosial.
Di tengah tantangan kemiskinan, pengangguran, dan ketidakpastian ekonomi yang masih dihadapi bangsa, kurban mengajarkan bahwa kemajuan masyarakat tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menciptakan kemakmuran, tetapi juga oleh kesediaan untuk berbagi dan menghadirkan manfaat bagi sesama.
Tatkala semangat pengorbanan, gotong royong, dan kepedulian sosial mampu diwujudkan bersama dalam tindakan nyata oleh pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat, maka pembangunan tak hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi semata, melainkan juga memperkuat ketahanan sosial, mempersempit kesenjangan, dan menghadirkan kehidupan yang lebih bermartabat bagi seluruh rakyat Indonesia. Semoga.
(rca)
#opini-candra-fajri-ananda #kurban #iduladha #pembangunan #berkurban
https://nasional.sindonews.com/read/1712973/18/kurban-dan-pembangunan-1780355183