Peluang Akumulasi Saham Diskon saat IHSG Terpuruk di Zona 5.000

Peluang Akumulasi Saham Diskon saat IHSG Terpuruk di Zona 5.000

Kejatuhan IHSG menciptakan anomali valuasi murah dan membuka momentum langka bagi investor untuk mengakumulasi saham-saham berkualitas.

(Bisnis.Com) 09/06/26 05:00 244102

Bisnis.com, JAKARTA — Kejatuhan pasar saham domestik sepanjang paruh pertama tahun ini dinilai mulai membuka ruang investasi yang langka terjadi dalam satu dekade terakhir. Meski indeks telah ambles hampir 40%, koreksi tersebut justru menawarkan peluang akumulasi strategis ketimbang kepanikan.

Setelah mencatat koreksi mingguan sebesar 8,69% pada pekan pertama Juni 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melanjutkan tren penurunannya pada perdagangan awal pekan kedua, Senin (8/6/2026).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks komposit melemah 4,52% sehingga parkir di level 5.342,13 hingga akhir perdagangan. Sebanyak 661 saham tumbang, 78 saham stagnan, dan hanya 78 saham di zona hijau. Penurunan ini pun menyeret indeks turun 38,22% secara year to date(YtD).

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menyampaikan bahwa posisi IHSG pada level 5.300 dengan rasio price to earnings (PER) di kisaran 10 hingga 11 kali merupakan anomali yang hanya terlihat dua kali dalam 15 tahun terakhir, yakni saat pandemi Covid-19 dan krisis finansial global 2008 – 2009.

Namun, terdapat perbedaan mendasar antara kondisi pasar modal saat ini dengan dua periode krisis masa lalu tersebut. Menurutnya, jika krisis terdahulu dipicu oleh kerusakan fundamental secara masif, maka kejatuhan pasar saham kali ini murni karena tekanan sentimen eksternal dan makro.

“Kali ini, produk domestik bruto [PDB] Indonesia masih tumbuh 4,8% dan laba industri perbankan juga tetap solid. Ini adalah sentimen driven crash, bukan fundamentalcollapse,” ucap Wafi kepada Bisnis, dikutip Senin (8/6/2026).

Sebagai gambaran murahnya pasar ekuitas, dia mencontohkan valuasi saham perbankan berkapitalisasi pasar jumbo yang sudah rontok ke level ekstrem. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) kini diperdagangkan dengan price to book value (PBV) di bawah standar deviasi -3 dalam jangka 5 tahun.

Sementara itu, emiten pelat merah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatatkan PBV di level 1,3 kali dengan PER serendah 7,6 kali.

Di tengah derasnya tekanan jual asing, pelemahan rupiah, serta lonjakan inflasi, KISI Sekuritas melihat bahwa prospek risk-reward investasi saat ini sangat asimetris dan cenderung menarik untuk jangka menengah hingga panjang.

Wafi mengatakan apabila skenario terburuk terjadi, seperti adanya downgrade indeks oleh MSCI yang diikuti prospek negatif dari lembaga pemeringkat S&P, IHSG diproyeksi berpotensi menguji level batas bawah di rentang 4.800–5.000.

Sebaliknya, jika sentimen berbalik membaik, ruang kenaikan atau upside indeks komposit diperkirakan mampu menuju 6.800–7.200 dalam 12 bulan ke depan.

KISI memperkirakan ada empat katalis utama pemicu relief rally atau titik balik struktural IHSG pada semester II/2026. Pendorong utama mencakup kepastian bertahannya Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets pada akhir Juni, serta sinyal pelonggaran suku bunga acuan Bank Indonesia.

Katalis berikutnya adalah stabilitas nilai tukar rupiah yang diharapkan mampu menguat kembali ke bawah level Rp17.500 per dolar AS. Selain itu, kepastian arah kebijakan fiskal pemerintah yang menjaga defisit anggaran di bawah 3%.

“Satu katalis saja sudah cukup untuk memicu relief rally sebesar 8% hingga 15% pada indeks. Kombinasi dari dua katalis atau lebih bahkan bisa menjadi titik balik struktural yang ditunggu oleh pasar,” pungkas Wafi.

STRATEGI INVESTASI

Sementara itu, untuk strategi investasi jangka menengah hingga panjang, Wafi merekomendasikan tiga sektor utama yang disebut memiliki daya tahan kuat serta valuasi yang sudah terdiskon secara historis.

Pertama adalah perbankan. Di sektor ini, saham pilihan jatuh pada BBCA dan BMRI karena didukung PBV yang setara level krisis, pertumbuhan laba operasional yang konsisten, serta model bisnis inti yang tetap utuh.

Adapun pilihan untuk sektor komoditas berbasis dolar AS mencakup AADI, ANTM, BRMS, dan ADRO. Deretan emiten ini diuntungkan oleh skema natural hedge terhadap fluktuasi rupiah di tengah sokongan harga komoditas global.

Di sektor konsumer primer atau consumer staples, pilihan tertuju pada INDF, ICBP, dan AMRT yang dinilai defensif berkat tingkat permintaan masyarakat yang inelastis serta kondisi arus kas yang kuat dan mudah diprediksi.

Dihubungi terpisah, Direktur Panin Asset Management Rudiyanto menuturkan bahwa di tengah tekanan yang melanda pasar dalam negeri, strategi investasi kini bisa dialihkan ke emiten yang memiliki rekam jejak pembagian dividen secara konsisten, serta memiliki fundamental pertumbuhan laba yang kuat.

“[Pilih] saham yang rutin membagikan dividen dan mampu mencetak pertumbuhan laba dari waktu ke waktu. Sementara itu, tidak dibatasi oleh sektornya,” ucap Rudiyanto saat dihubungi Bisnis.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dan David Chong menilai bahwa tekanan makroekonomi yang memicu aksi jual di pasar saham dinilai mulai menciptakan titik masuk investasi yang atraktif pada saham-saham perbankan nasional.

Menurut keduanya, koreksi harga yang terjadi belakangan ini lebih didorong oleh sentimen makro bukan karena penurunan kinerja. Atas dasar fundamental yang tangguh, peringkat overweightdipertahankan untuk sektor perbankan.

“Aksi jual saham perbankan baru-baru ini sebagian besar didorong oleh faktor makro, yang menurut pandangan kami, justru menciptakan peluang menarik untuk membeli bank-bank berkualitas,” ucap keduanya dalam riset terbaru.

Sepanjang empat bulan pertama 2026, laba bersih perbankan dalam cakupan riset mereka masih mampu tumbuh 8,7% year on year (YoY). Laju penyaluran kredit juga kokoh sebesar 11,7% YoY ditopang segmen korporasi komersial, dengan kelompok bank besar memimpin ekspansi sebesar 13,8% YoY.

Di sisi lain, keduanya tidak menampik adanya tekanan pada margin bunga bersih (net interest margin/NIM) akibat kenaikan suku bunga acuan BI Rate menjadi 5,25% pada Mei lalu yang pada akhirnya mengerek biaya dana.

Meski demikian, kebijakan baru pemerintah terkait Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang mewajibkan porsi lebih besar mengendap di sistem perbankan domestik dinilai bakal menjadi penopang likuiditas baru.

Melihat kombinasi likuiditas yang sehat dan kualitas aset terjaga, Andrey dan David merekomendasikan investor untuk mulai melakukan akumulasi secara bertahap. RHB Sekuritas menempatkan saham BMRI dan BBRI sebagai pilihan utama dengan dengan target harga masing-masing Rp5.920 dan Rp4.000.

_______

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#ihsg-terpuruk #saham-diskon #peluang-investasi #akumulasi-saham #pasar-saham-domestik #koreksi-ihsg #investasi-jangka-panjang #valuasi-saham-murah #sektor-perbankan #saham-bbca #saham-bbri #strategi-i

https://market.bisnis.com/read/20260609/7/1979341/peluang-akumulasi-saham-diskon-saat-ihsg-terpuruk-di-zona-5000