Kinerja Emiten Nikel NICL Melonjak, Siap Revisi RKAB

Kinerja Emiten Nikel NICL Melonjak, Siap Revisi RKAB

Emiten nikel NICL mencatat lonjakan penjualan 64,82% hingga Rp1,35 triliun per September 2025.

(Bisnis.Com) 03/11/25 05:51 24744

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten pertambangan nikel terafiliasi Christopher Sumasto Tjia, PT PAM Mineral Tbk. (NICL) mencatatkan lonjakan penjualan per September 2025. Perseroan pun dalam proses melakukan revisi RKAB untuk menambah kuota produksi.

Per September 2025, penjualan NICL mencapai Rp1,35 triliun, naik 64,82% dari sebelumnya Rp821 miliar. Peningkatan penjualan ditopang dengan lonjakan volume penjualan nikel dari 1,27 juta ton menjadi 2,40 juta ton, naik 88,76%.

Laba neto naik 131,28% menjadi Rp401,66 miliar pada kuartal III/2025 dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp173,66 miliar, seiring dengan efisiensi operasional.

Ruddy Tjanaka, Direktur Utama NICL, menyampaikan sejak akhir 2024, harga acuan nikel domestik mengalami penurunan sebesar 5,20% sejalan dengan tren global dan euforia industri baterai kendaraan listrik yang cenderung fluktuatif.

Penurunan harga nikel tersebut merupakan koreksi positif dan sudah diprediksi oleh perseroan. Manajemen sudah menyiapkan langkah antisipatif sejak awal tahun, tercermin dengan kinerja operasional dan keuangan perseroan yang bertumbuh pada kuartal III/2025.

“Kami meyakini penurunan harga ini merupakan fluktuasi jangka pendek dan perseroan berkomitmen untuk tetap adaptif terhadap situasi terkini guna mempersiapkan juga mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi,” ujarnya dalam siaran pers, Senin (3/10/2025).

Kinerja operasional perseroan pada kuartal III/2025 memberikan dampak positif pada keuangan perseroan, sehingga posisi neraca perseroan cukup sehat dan kuat.

Kapasitas tingkat produksi NICL per kuartal III/2025 telah mencapai 92,48% dari RKAB tahun 2025 yang telah disetujui. Untuk memenuhi kebutuhan pasar hingga akhir 2025, perseroan telah mengajukan pembaharuan RKAB ke Kementerian ESDM untuk menambah kuota produksi.
“Meskipun kami tetap mampu menunjukkan kinerja operasional dan finansial yang memuaskan pada kuartal III/2025 namun hal tersebut belum mencapai ekspektasi. Dikarenakan RKAB yang saat ini masih dalam proses pengajuan, sehingga hal itu menjadi salah satu tantangan yang dihadapi perseroan tahun ini,” ujar Ruddy Tjanaka.

Perseroan memperkirakan pada kuartal IV/2025 ini, harga nikel masih bergerak fluktuatif imbas dari kebijakan tarif perdagangan Amerika Serikat. Hal ini masih menghantui stimulus ekonomi global ditambah dengan adanya kelebihan pasokan yang dapat menambah tekanan pada harga nikel.

Namun, industri nikel domestik memiliki peluang strategis dimana adanya ketegangan antara China dan negara barat yang membuat banyak negara mencari alternatif pasokan logam kritis.

Indonesia dapat memanfaatkan peluang itu sebagai pemain kunci non-China. Selain itu, kondisi oversupply juga terlihat mulai berkurang tercermin dengan pelemahan harga acuan nikel domestik yang mulai membaik.

Perseroan menghadapi berbagai tantangan domestik, terutama terkait perbaruan regulasi yang berdampak pada kelancaran dan kecepatan proses persetujuan dokumen seperti FS, AMDAL, dan RKAB.

Salah satu perubahan yang signifikan adalah penyesuaian regulasi RKAB yang semula berlaku untuk jangka waktu tiga tahun menjadi satu tahun. Perubahan ini menuntut Perseroan untuk melakukan berbagai penyesuaian, termasuk pembaruan dokumen FS dan AMDAL agar tetap selaras dengan ketentuan terbaru serta mendukung rencana peningkatan kapasitas produksi pada 2026.

Faktor regulasi tersebut menjadi penentu utama keberlangsungan operasional dan arus kas perusahaan. Perseroan aktif mengikuti agenda sosialisasi pembaruan sistem administrasi di kementerian terkait guna mempercepat proses persetujuan dokumen teknis yang dibutuhkan.

Di sisi lain, ketergantungan penuh terhadap smelter sebagai price taker turut membatasi posisi tawar, khususnya bagi perusahaan berskala menengah dan kecil, yang kerap harus menerima harga di bawah Harga Patokan Mineral (HPM) serta memenuhi persyaratan spesifikasi bijih nikel yang sangat ketat.

Dalam menghadapi dinamika tersebut, Perseroan berkomitmen untuk memenuhi keseluruhan kuota RKAB tahun 2025 yang telah diperoleh sambil menunggu proses persetujuan RKAB tahun 2026. Komitmen ini dijalankan dengan tetap memperhatikan aspek tata kelola yang baik dan standar keberlanjutan (Environmental, Social, and Governance/ESG) sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan usaha.

Hingga akhir 2025, NICL menargetkan produksi gabungan sebesar 2,6 juta ton ore seiring pelaksanaan program pengeboran lanjutan guna menambah cadangan sumber daya. Dalam menghadapi dinamika pasar domestik, perseroan berkomitmen meningkatkan efisiensi operasional dan memperkuat pengendalian mutu .

Selain itu, perseroan memperluas kerja sama strategis dengan smelter dan trader di wilayah Sulawesi, Pulau Obi, dan Halmahera. Langkah ini didukung oleh penguatan kemitraan jangka panjang yang bertujuan memperkokoh posisi pasar, mempercepat distribusi, serta menjaga stabilitas penjualan di tengah fluktuasi harga nikel global.

#nickel-mining #nicl-performance #nicl-sales-growth #nicl-profit-increase #nickel-price-trend #domestic-nickel-market #rkab-revision #christopher-sumasto-tjia #pam-mineral-tbk #nickel-production-quota #n-a

https://market.bisnis.com/read/20251103/192/1925437/kinerja-emiten-nikel-nicl-melonjak-siap-revisi-rkab