Kesepakatan AS-Iran Disebut Hampir Rampung, Selat Hormuz Akan Dibuka?
AS dan Iran disebut semakin dekat meneken kesepakatan damai. Pembukaan Selat Hormuz dan pelonggaran sanksi menjadi bagian penting negosiasi.
(Kompas.com) 13/06/26 12:21 249102
KOMPAS.com – Amerika Serikat (AS) dan Iran disebut semakin dekat mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang selama ini memicu ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Pemerintahan Presiden Donald Trump memperkirakan perjanjian tersebut dapat ditandatangani dalam beberapa hari ke depan, meski peluang keberhasilannya belum sepenuhnya pasti.
Mengutip CNBC, Sabtu (13/6/2026), seorang pejabat senior Pemerintahan Trump yang enggan disebutkan namanya mengatakan kedua negara telah menyepakati sebuah memorandum of understanding (MoU) yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz serta langkah-langkah pembongkaran program nuklir Iran.
Meski demikian, Washington belum berani memastikan kesepakatan tersebut akan benar-benar ditandatangani.
"Saya mungkin akan mengatakan peluangnya 75 persen pagi ini. Sekarang mungkin sekitar 80 hingga 85 persen. Namun belum 100 persen," kata pejabat tersebut kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).
Menurut dia, proses pengambilan keputusan di Iran cukup kompleks karena adanya perbedaan pandangan di internal pemerintahan negara tersebut.
Jamin Perdamaian Jangka Panjang
Pejabat AS itu menyebut rancangan MoU yang telah disusun saat ini dirancang untuk menciptakan perdamaian jangka panjang di kawasan.
Kesepakatan tersebut antara lain mencakup penghentian dukungan Iran terhadap berbagai aksi kekerasan di kawasan serta penerapan mekanisme inspeksi terhadap program-program yang dijalankan Teheran.
Sebagai imbalannya, Iran berpotensi memperoleh keringanan ekonomi yang signifikan apabila memenuhi seluruh komitmen yang disepakati.
Insentif tersebut mencakup pelonggaran sanksi yang telah lama diberlakukan AS serta pencairan aset-aset Iran yang selama ini dibekukan.
Namun, pejabat itu menegaskan seluruh manfaat tersebut hanya akan diberikan jika Iran benar-benar menjalankan kewajibannya sesuai kesepakatan.
Hingga kini, kedua negara juga belum menentukan lokasi penandatanganan perjanjian.
Meski masih terdapat sejumlah tantangan, Washington menilai kedua pihak pada dasarnya menyukai isi naskah yang telah disepakati dan berpeluang menandatangani dokumen tersebut dalam beberapa hari mendatang, selama tidak muncul hambatan baru dalam proses finalisasi.
AFP/SAUL LOEB Presiden Amerika Serikat Donald Trump saat berbicara kepada awak media sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One di Bandara Internasional John F Kennedy, New York, 9 Juni 2026.Pakistan Sebut Teks Final Sudah Disepakati
Optimisme mengenai tercapainya kesepakatan juga disampaikan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
Pakistan selama ini berperan sebagai mediator dalam perundingan antara Washington dan Teheran.
Dalam unggahan di media sosial X, Sharif menyatakan bahwa "teks final yang telah disepakati" antara AS dan Iran sudah tercapai.
Menurut dia, Pakistan kini bekerja sama dengan kedua pihak untuk menyelesaikan langkah-langkah akhir sebelum perjanjian diteken.
"Perdamaian belum pernah sedekat ini seperti sekarang," tulis Sharif.
Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan optimisme serupa.
Berbicara di Oval Office, Trump mengatakan AS baru saja mencapai "penyelesaian besar" terkait perang dengan Iran, meskipun masih menunggu penyelesaian dokumen-dokumen final.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa kesepakatan antara kedua negara belum pernah sedekat sekarang.
ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Kapal penarik Basim berbendera Iran berlayar dekat kapal yang berlabuh di Selat Hormuz. Foto ini dipotret dari Bandar Abbas, Iran selatan, 4 Mei 2026 ketika perang Iran masih berkecamuk.Isi Kesepakatan Masih Jadi Perdebatan
Di tengah optimisme tersebut, berbagai laporan mengenai isi kesepakatan masih memunculkan perdebatan.
Media Iran melaporkan rancangan perjanjian mencakup 14 poin, termasuk pencabutan sanksi minyak AS, penghentian blokade laut, serta pencairan dana Iran yang dibekukan.
Namun, Trump membantah berbagai laporan yang beredar mengenai isi dokumen tersebut.
Dalam unggahan di Truth Social, ia menegaskan bahwa informasi yang beredar di publik tidak sesuai dengan ketentuan yang telah disepakati secara tertulis oleh kedua pihak.
Pemerintahan AS juga memperkirakan Israel dan sejumlah sekutu regional lainnya akan mendukung proses perdamaian yang tengah berlangsung.
Washington menegaskan tidak mengharapkan negara-negara di kawasan melepaskan hak mereka untuk membela diri, tetapi berharap seluruh pihak dapat berpartisipasi dalam upaya menciptakan stabilitas dan perdamaian yang lebih luas di Timur Tengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#amerika-serikat #donald-trump #perang-iran #konflik-timur-tengah #selat-hormuz